Banner Leaderboard
Headlines News :

    Ketika Selebritas Berkampanye di Media Sosial

    Hingga Kamis (3/7) malam, di media sosial terutama Twitter, terus diwarnai adu kencang beberapa tagar yang mengeksprasikan kampanye dari dua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden Indonesai. Praktis dalam satu hari kemarin, jagat mayantara Twitter diambil alih oleh para netizen Indonesia.

    Pukul 21.20 kemarin, tiga tagar yang masih bertengger di trending topic dunia adalah #AkhirnyaMilihJokowi, #CoblosNomor1_PrabowoHatta, dan #PilihNo2_utkNKRIJujur. Hal yang fenomenal, tagar #AkhirnyaMilihJokowi telah bertengger menjadi topik terhangat dunia sejak kemarin siang, dengan posisinya yang bervariasi tak selalu di nomor 1.

    Jika dianalisis tagar #AkhirnyaMilihJokowi, maka akan bertaburan akun-akun selebritas Indonesia yang mengekspresikan pilihannya pada pasangan calon nomor 2. Dari catatan saya, sepanjang kampanye Pilpres, inilah hujan dukungan untuk nomor 2 yang tampak bekerja rapi terorganisir yang datang dari akun-akun dengan jumlah pengikut ukuran besar.

    Sebelumnya, dalam kampanye “I Stand on The Right Side”, aliran percakapan tak sederas dan selancar #AkhirnyaMilihJokowi. Walaupun bukan akun yang memiliiki jumlah pengikut terbanyak dalam kampanye ini, tampak akun @jokoanwar milik Joko Anwar, seorang sutradara film, menjadi “jenderal perang” dalam kampanye ini.

    Dalam analisisi peta jaringan percakapan menggunakan MentionMapp, #AkhirnyaMilihJokowi mendapat energi berlimpah dari para selebritas lain seperti @MirLes, @rezariri, @andienaisyah, @SophiaLatjuba, @ringgoagus, @afgansyah_reza, @septriasa_acha, @omeshomesh, @gitagut.

    “Terharu. Semakin keras fitnah terhadap Jokowi, justru makin byk yg dukung #AkhirnyaMilihJokowi - Indonesia luar biasa!,” begitu kicau @MirLes yang diteruskan oleh Joko Anwar.

    Penyanyi Andien tampak malu-malu mengakuinya. “Ok, saya akan mengaku sebelum saya nyesel saya nggak pernah mengakui :) The truth is.. Saya.. #AkhirnyaMilihJokowi ... *lega* :'),” katanya.

    Akun @sherinasinna yang merupakan milik penyanyi muda Sherina Munaf, tampak hanya sekali saja menyumbang percakapan namun dampaknya mampu melambungkan tagar tersebut karena jumlah pengikut Sherina yang mencapai 7,8 juta lebih. “Udah nggak jamannya anak muda apatis sama negara. Yuk! Saya #AkhirnyaMilihJokowi,” kicau Sherina yang diteruskan oleh lebih dari 2.800 pengikutnya.

    Penyanyi Afgan dengan akun @afgansyah_reza, yang memiliki 6,5 juta lebih pengikut juga ambil bagian dalam kampanye ini. “Dia bukan pemimpin yang cuma ngasih janji, dia berhasil bikin gw pengen ikut turun tangan buat memperbaiki indonesia,” kicaunya, yang diteruskan lebih dari 2.700 kali.


    Menggunakan analisis Hash Tracking, tagar #AkhirnyaMilihJokowi menjangkau hingga lebih dari 83.000 pengguna Twitter. Sedangkan #CoblosNomor1_PrabowoHatta menjangkau 23.000 pengguna.

    Jika dibandingkan antara dua tagar yang sedang bersaing itu, tampak bahwa tagar #CoblosNomor1_PrabowoHatta disumbangkan oleh percakapan manusia yang tidak natural. Beberapa percakapan sengaja dikirimkan berkali-kali untuk memanen kuantitas percakapan dan tampak sebagian disumbangkan oleh bot.

    Kedua percapakan dan analisis tagar ini bisa dibandingkan di http://goo.gl/9B2JIT untuk tagar #AkhirnyaMilihJokowi dan di http://goo.gl/nGZzlB untuk #CoblosNomor1_PrabowoHatta. (amr)

    I Stand on The Right Side: Perang Senyap Pita Dukungan Capres

    Hingga Minggu (8/6) siang pukul 12.00, pita kampanye “I Stand on The Right Side” meroket di posisi teratas meninggalkan semua jenis kampanye di dunia. Paling sedikit ada 26.673 dukungan dan tiap detiknya terus bertambah, yang ditujukan mendukung calon presiden nomor urut dua dengan memasang pita yang dibuat di Twibbon.com.

    Fantastis, fenomena dukungan melalui pemasangan gambar profil diri atau avatar di sosial media, seperti Twitter dan Facebook, ini mengalahkan gegap gempita piala dunia di Brasil. Pita yang dimaksud hanyalah gambar kecil yang di-tumpangsusun-kan (overlay) di atas setengah bidang avatar.

    Bentuknya berupa angka dua dan teks “I Stand on The Right Side” dengan latar warna merah, tanpa menyebutkan nama Jokowi-Kalla. Tren di jagad mayantara pada empat hari terakhir ini juga menjalar pada penggunaan gambar profil di BlackBerry Messenger.

    Entah siapa yang sebenarnya memulai, namun di akun Facebook milik DPP PDI-Perjuangan (facebook.com/DPP.PDI.Perjuangan), disebutkan pekerja seni Joko Anwar dan Ernest Prakarsa yang pertama memulai menggunakan avatar “I Stand on The Right Side”. Format avatar dukungan nomor dua ini di linimasa Twitter disebutkan dibuat pertama kali oleh akun Twitter @monstreza.

    Pada akhirnya, banyak yang menyediakan berbagai alat bantu untuk bisa membuat avatar pita dukungan. Paling besar dari situs web Twibbon.com, yang spesialis menyediakan alat bantu kampanye menggunakan pita. Ternyata, kampanye “I Stand on The Right Side” ini di Twibbon diinisiasi Thomas Harjanto dengan akunnya @masbedjo pada 4 Juni lalu. Kemarin siang sudah mendapat 23.654 dukungan.

    Thomas Harjanto adalah relawan yang tak ada kaitannya dengan tim sukses resmi Jokowi-Kalla. “I Stand On the Right Side ini bukan ide saya, saya hanya mengkampayekan melalui Twibbon saja. Saya sendiri tak tahu siapa yang pertama kali membuat kampanye ini,” kata Thomas.

    Saat itu, ada yang melintas di linimasa Twitter yang memamerkan kampanye tersebut dan Thomas tertarik. “Spontan saya langsung membuatnya di Twibbon dengan maksud memudahkan teman-teman lain yang ingin menggunakan avatar seperti itu,” kata Thomas.

    Untuk mempromosikannya, Thomas hanya memposting tautan menuju kampanye pita dukugan tersebut. “Tanggal 4 Juni saya buat dan langsung saya twit, keesokan harinya sudah banyak yang memasangnya,” kata Thomas.

    Thomas mengaku hanya relawan Jokowi. “Saya bergerak pribadi. Secara formal tidak pernah ikut dalam kelompok relawan,” kata programer web ini.

    Kampanye yang sama juga dibuat dua orang lain di Twibbon.com. Mereka adalah akun noldymusaid yang sudah dipakai 1.542 pendukung, kemudian akun Indra Chandra yang dipakai 1.477 pendukung.

    Pendukung Prabowo-Hatta lebih dulu membuat kampanye pita dukungan yang dibuat akun pks_kreatif dengan judul “Prabowo-Hatta #1”, dibuat sepekan lalu, dengan 3.583 dukungan. Kampanye ini menggunakan logo mirip Garuda Pancasila yang di tengahnya ada nomor satu.

    Namun kampanye “Prabowo-Hatta #1” tenggelam oleh fenomena “I Stand on The Right Side”. Seperti ingin menandingi “I Stand on The Right Side”, akun pks_kreatif di Twibbon.com membuat lagi kampanye pita dukungan dengan teks “Pilih Satu Karena Saya Cinta Indonesia” dengan gambar Garuda Pancasila. Hasilnya, sudah mendapat 1.749 dukungan.

    Analis media sosial, Yose Rizal, mengatakan, di ranah media sosial yang mengandalkan perang kicauan, kubu tim media sosial Prabowo-Hatta tampak terorganisir lebih rapi dan terkoordinasi. “Apalagi setelah mendapat dukungan penuh tim media sosial Partai Keadilan Sejahtera,” kata Yose.

    Mereka memang sudah punya pengalaman di Pemilu Legislatif untuk membangun perang kicauan berbasis kata-kata. Berbeda dengan kubu Jokowi-Kalla yang tim media sosialnya tampak tak terkoordinasi karena berbasis relawan yang spontan.

    Namum, pada perang senyap tanpa kata-kata, hanya dengan gambar avatar dengan pita dukungan twibbon, tampak kubu Prabowo-Hatta kewalahan. Fenomena gambar diri dengan pita dukungan ini, telah menaikkan level pertarungan di media sosial, tak lagi mengandalkan kata-kata saling umpat dan saling hardik.

    Kedua kubu telah belajar, cara mendukung yang sewajarnya justru memiliki kekuatan mengajak kelas menengah yang memiliki gaya tak mau banyak umbar kata-kata tak perlu. Banyak orang yang tak pernah mengekspresikan dukungan, tiba-tiba secara senyap telah mengenakan pita dukungan salah satu capres.

    Jadi, stop perang caci-maki karena cara seperti itu tak ada gunanya dan justru berpotensi menjadi boomerang. Mari dukung pasangan calon dengan sewajarnya saja. (Amir Sodikin)

    KPU Sebenarnya Siap dengan Pemilu Serentak 2014

    Walaupun akan merepotkan, Komisi Pemilihan Umum sudah mengantisipasi putusan MK jika menginginkan pemilu serentak pada 2014. Komisioner KPU, Arief Budiman, di Jakarta, mengatakan, walaupun akan merepotkan, dalam beberapa hal pihaknya tak memiliki masalah jika pemilu serentak digelar pada 2014 ini. Dari sisi anggaran, sebenarnya sudah tersedia. “Tahun 2014 ini kami sudah mengajukan anggaran untuk pileg dan pilpres, tinggal nanti bisa dicairkan dalam waktu dekat. Kemudian personel. Kalau personel, kami sudah cukup memiliki personel mulai dari KPUD hingga PPS, dan tinggal merekrut KPPS,” kata Arief. Untuk logistik juga tak akan mengkhawatirkan. Menurut Arief, logistik cukup tersedia. Hanya beberapa hal baru memang harus diproduksi baru, misal surat suara. Juga formulir rekapitulasi penghitungan suara tak bisa dipakai. “Tapi kotak suara dan bilik suara pileg bisa digunakan. Jadi dalam beberapa hal kami tak memiliki masalah,” kata Arief. Komisioner KPU lainnya, Sigit Pamungkas, juga menjelaskan hal senada. Pemilu serentak akan membuat biaya logistik lebih murah karena beberapa pengeluaran seperti transportasi dan lelang hanya sekali. Pemilu serentak juga mudah penataannya. “Hanya intensitas politiknya makin tinggi. Kompetisinya makin kuat dan risiko keamanan harus diperhatikan,” kata Sigit. Hanya saja, harus ada sinkronisasi antara UU Pileg dengan UU Pilpres. DPR harus konsolidasi lagi kedua UU itu karena ada alur yang tdak sinkron. Misalnya, rekapitulasi suara itu untuk pileg dielar di PPS, sementara untuk pilpres di PPK. “Pendaftaran calon presiden dan parpol juga harus dipastikan apakah akan dibarengkan atau dipisahkan,” kata Sigit. (adm)

    Jokowi Pengaruhi Angka Ambang Batas Parlemen

    Figur Joko Widodo atau Jokowi dalam konstelasi politik Indonesia masih dominan dan bisa mempengaruhi iklim politik, mulai dari elektabilitas kandidat, elektabilitas parpol, bahkan hingga tingkat ambang batas parlemen. Jika Jokowi maju menjadi calon presiden, akan ada empat parpol yang bakal lolos parliamentary threshold. Jika pemilu tanpa Jokowi, diprediksikan akan ada lebih banyak lagi parpol yang lolos. Demikian hasil survei Pol-Tracking Institute yang dipublikasikan di Jakarta, Minggu (26/1). Survei dilakukan pada 16-23 Desember 2013, dengan jumlah sampel 1.200 orang di 33 provinsi, margin error plus minus 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute Hanta Yuda AR dalam paparannya mengatakan, jika Jokowi tidak maju dalam capres, maka semua parpol kecuali PDIP akan diuntungkan. "Akan ada tujuh parpol yang berpeluang lolos parliamentary threshold 3,5 persen jika Jokowi tak diajukan sebagai capres," kata Hanta. Ketujuh parpol itu adalah PDIP (18,8 persen), Golkar (15,8 persen), Gerindra (7,6 persen), Demokrat (5,6 persen), PPP (4 persen), PKB (4 persen), dan Hanura (3,92 persen). Jika Jokowi akhirnya diusung sebagai capres dari PDIP, hanya ada empat parpol yang akan lolos parliamentary threshold yaitu PDIP (30,78 persen), Golkar (12,34 persen), Gerindra (6,51 persen), dan Demokrat (4,67 persen). "Jika partai lain ingin menaikkan suaranya, maka strateginya adalah dorong agar Jokowi tak maju capres," kelakar Hanta. Skenario ini akan merugikan PDIP tapi akan menguntungkan hampir semua partai akibat limpahan suara pemilih PDIP. Dalam elektabilitas capres, Jokowi kembali tak terkalahkan dengan elektabilitas 37,95 persen, disusul Prabowo (10,34 persen), Aburizal Bakrie (5,92 persen), dan Wiranto (5,42 persen). Jika Jokowi tidak maju sebagai capres, maka Prabowo berpeluang memimpin dengan 19,18 persen, disusul Megawati (15,26 persen), Aburizal Bakrie (13,76 persen), dan Wiranto (11,34 persen). Jokowi juga mempengaruhi elektabilitas parpol. Jika Jokowi diusung menjadi capres PDIP, elektabilitas PDIP berada di puncak dengan 30,87 persen, disusul Golkar (12,34 persen), Gerindra (6,51 persen), Demokrat (4,67 persen), dan partai lain di bawah 4 persen. Jika Jokowi tak diusung jadi capres, PDIP tetap di puncak namun suaranya turun drastis menjadi 18,85 persen, disusul Golkar (15,85 persen), Gerindra (7,59 persen), Demokrat (5,59 persen), PPP (4 persen), PKB (4 persen), dan partai lain di bawah 4 persen. Suara PDIP labil Survei ini juga mengindikasikan betapa suara PDIP sangat labil karena bergantung pada figur. PDIP bergantung pada swing voters yang mencapai 57 persen. "Hanya ada 27,6 persen pemilih yang cukup solid menyatakan sudah mantap dalam pilihannya," kata Hanta. Hanta menegaskan, survei ini makin mengkonfirmasikan bahwa pendukung paling rentan adalah PDIP. Golkar dan Gerindra lebih stabil. Jika Jokowi tak menjadi capres, bahkan jika hanya menjadi cawapres, banyak pemilih yang akan berpindah ke partai lain. Gerindra akan mendapatkan banyak limpahan suara walaupun elektabilitasnya cukup jauh dari PDIP dan Golkar. Figur dan korupsi Survei ini juga menanyai responden mengapa tidak memilih parpol tertentu. Alasan yang mereka ungkapkan ternyata dilandasi pada dua hal yaitu adakah tokoh yang diidolakan di partai tersebut, atau apakah parpol tersebut para kadernya terlibat korupsi atau tidak. Dua parpol yaitu Demokrat dan PKS, tidak dipilih karena kasus korupsi dan ditambah lagi tak adanya figur membuat dua parpol ini terus turun elektabilitasnya. "Sedangkan partai lain, lebih pada tak adanya figur yang diidolakan di parpol. PDIP juga didera isu korupsi tapi pemberitaannya tertutup sentimen positif pemberitaan Jokowi," kata Hanta. Hanta juga menyoroti respons responden terhadap elektabilitas parpol (tanpa perlakuan memasangkan capres) dibanding elektabilitas figur. Figur Jokowi (37,95 persen) telah melewati elektabilitas parpolnya PDIP (22,44 persen). Elektabilitas Aburizal Bakrie (5,92 persen) terlalu di bawah Golkar (15,93 persen), Prabowo (10,34 persen) bisa mengimbangi Gerindra (8,67 persen), Dahlan Iskan (1,75 persen) terlalu jauh elektabilitasnya dibanding partainya Demokrat (7,92 persen. Begitu pula Mahfud MD (2 persen) dibanding PKB (4,59 persen), Surya Dharma Ali (0,25 persen) juga di bawah PPP (4,5 persen), Wiranto (5,42 persen) mampu mengimbangi Hanura (4,25 persen). Menurut Hanta, data itu bisa digunakan parpol untuk menentukan strategi siapa yang layak diajukan jadi capres. Namun, Hanta menegaskan hasil survei ini relevan saat survei dibuat. "Cuaca politik bisa berubah setiap saat, tapi tidak akan ekstrim, kecuali jika ada gempa politik," katanya. (AmirSodikin.com)
     
    Banner Kiri Tengah
    My most popular images for sale at Shutterstock:

    Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
    Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved