Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , , » Pledoi Hartati: Untuk Kesekian Kali, Hartati Membantah

Pledoi Hartati: Untuk Kesekian Kali, Hartati Membantah

Written By Amir Sodikin on Selasa, 22 Januari 2013 | 00.46

Jakarta, Kompas

Sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, pada Senin (21/1)

mengagendakan pembacaan pledoi atau pembelaan Direktur Utama PT

Hardaya Inti Plantations, Siti Hartati Murdaya. Untuk kesekian

kalinya, Hartati mengulang-ulang perkataannya bahwa ia tak terlibat.



Hartati dengan isak tangisnya, membantah telah menyuap dengan uang Rp

3 miliar untuk dana bantuan Pemilihan Kepala Daerah Bupati Buol,

Sulawesi Tengah, Amran Abdullah Batalipu. Ia menekankan tidak pernah

menyuap bupati dan tidak pula merugikan negara.



Di persidangan sebelumnya, walaupun sering terlihat tidak begitu

sehat, namun Hartati biasanya tampak tegar dan percaya diri dan jarang

terlihat menangis. Tapi, ketika membacakan pledoi, derai tangis tak

lagi bisa ia tahan. Berbekal tisu, ia membacakan pledoi pribadinya.



Hartati menegaskan, uang Rp 1 miliar yang ia setujui untuk dicairkan,

merupakan dana sosial yang diberikan perusahaan untuk masyarakat

sekitar pabrik. Bukan dana untuk bantuan Pilkada.



Sedangkan uang Rp 2 miliar, ia mengaku tak pernah memerintahkan

mengeluarkannya, apalagi diperuntukkan bagi bantuan pilkada. Anak

buahnya dianggap telah mengkhianatinya dengan mengeluarkan dana tanpa

seizin dirinya.



Dalam pembelaannya, Hartati merunut kiprah perusahaannya di pelosok

Buol. Perusahaan miliknyalah yang pertama kali berani berinvestasi di

negeri entah berantah itu, hingga akhirnya kini menjadi daerah

penghasil kelapa sawit.



"Ibarat air susu dibalas dengan air tuba. Saya tidak menyuap, dan saya

tidak merugikan negara sedikitpun. Baahkan sebaliknya saya telah ikut

memajukan wilayah Buol," kata Hartati.



Kiprah Hartati di Buol dimulai sejak 1992 ketika diundang Gubernur

Sulawesi Tengah untuk ikut berpartisipasi dalam investasi di Indonesia

Timur. Dari 200 investor yang diundang, hanya dirinyalah yang mau

menanamkan modalnya di sana.



Hartati nekat berinvestasid di Buol karena semangat untuk turut

berperan serta dalam memajukan Kawasan Timur Indonesia, selain karena

merasa ada tanggung jawab sebagai umat beragama. "Sejak kami melakukan

investasi di Buol, roda ekonomi setempat mulai bergerak," katanya.



Pada sidang sebelumnya, Hartati dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU)

pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan pidana penjara lima

tahun dan denda Rp 200 juta. Dia dianggap menyuap Bupati Buol demi

mendapatkan rekomendasi pembuatan sertifikat Hak Guna Usaha perkebunan

kelapa sawit. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved