Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , » SIDANG TIPIKOR: Ketika Para Jaksa Percaya Dukun

SIDANG TIPIKOR: Ketika Para Jaksa Percaya Dukun

Written By Amir Sodikin on Senin, 28 Januari 2013 | 07.03

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (2/1), ger-geran (penuh tawa dan canda) ketika mendengarkan keterangan para saksi yang hadir dalam sidang pemerasan yang melibatkan para jaksa dengan terdakwa Dede Prihantono. Dede, menurut jaksa penuntut umum, adalah mantan pengacara yang saat menjalankan aksinya dikenal sebagai jaksa gadungan yang mencoba memeras Budi Ashari, Direktur PT Budi Indah Mulia Mandiri, sebesar Rp 2,5 miliar.

Saksi-saksi yang dihadirkan ternyata bukan saksi biasa. Mereka berasal dari kejaksaan, yaitu jaksa Andri Fernando Pasaribu (jaksa fungsional pada Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara Kejagung), jaksa Arief Budi Haryanto (jaksa fungsional di Direktorat Tata Usaha Negara), serta Sutarna (staf tata usaha pada Subdirektorat Pelayanan Hukum Direktorat PPh di Kejagung Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara).

Ketiga saksi juga menjadi terdakwa dalam kasus yang sama. Pada 25 September 2012, para terdakwa bertemu membicarakan rencana yang akan dilakukan agar Budi memberikan sejumlah uang. Untuk menakut-nakuti Budi yang jadi target pemerasan, ketiganya kemudian membuat surat panggilan untuk Budi.

Informasi dari dukun

Suasana sidang yang tadinya membosankan menjadi penuh tawa karena dalam kesaksiannya, para jaksa mengaku mendapat informasi dari para dukun bahwa skenario yang akan mereka jalankan sudah aman.

"Kami tergiur janji-janji Amin Saleh," kata saksi Sutarna ketika menjawab pertanyaan majelis hakim mengapa orang-orang pandai bisa terjebak masalah seperti itu. Amin Saleh adalah terdakwa dalam kasus yang sama yang diduga jadi otak rencana pemerasan.

Jawaban Sutarna ditimpali oleh saksi Andri. "Sutarna sempat telepon orang pintar di Madiun, katanya aman. Saya juga sudah kontak orang pintar di Banten dan katanya juga aman," papar Andri yang disambut tawa pengunjung sidang.

Ketua Majelis Hakim Afiantara tampaknya tertarik dengan masalah dukun ini. "Enggak, saya cuma mau tanya saja, kalau bayar ke dukun itu berapa?" tanya Afiantara sambil tersenyum-senyum.

Semua hadirin di persidangan tampak hening menunggu jawaban para saksi. Beberapa di antaranya yang berada di baris belakang tampak berdiri menunggu jawaban para saksi.

"Jadi begini, itu sebenarnya kiai atau pak ustaz. Sebenarnya sudah dibilang kiai enggak boleh," jawab Arief mencoba menghindar.

Saksi lain, terutama Andri dan Sutarna, juga dengan suka hati menceritakan soal dukun-dukun itu dan tak ada niatan untuk menutup-nutupinya. "Pak Sutarna sampai mengongkosi kedatangan dukun itu dari Madiun ke Jakarta," sela Andri.

"Enggak, sebenarnya dia itu kebetulan ada perlu ke Jakarta, jadi sekalian saya tanya saja. Kami itu bertiga (Sutarna, Andri, dan Arief) itu kayak orang lupa saja," jawab Sutarna.

"Kata dukun itu sebenarnya gimana," tanya Afiantara. "Aman pokoke, begitu katanya," jawab Andri.

Rp 150 juta

Maka, kata Andri, sang dukun yang telah memberi sinyal "aman" itu kemudian direncanakan akan diberi uang Rp 150 juta untuk kiai dari Banten yang nanti statusnya untuk sumbangan ke pondok pesantren. Sementara dukun dari Madiun akan diberi uang Rp 50 juta.

Belum sampai rencana itu bisa dijalankan, para pelaku sudah tertangkap lebih dulu oleh Kejaksaan Agung. Afiantara rupanya masih penasaran. Dengan nada santai dan sambil tertawa, ia masih menyidik soal dukun itu. "Dukunnya itu sebenarnya dari daerah mana?" tanya Afiantara.

"Dari Caruban, Yang Mulia," jawab Sutarna. "Ya sudah, nasi sudah jadi bubur. Tapi kan masih bisa diolah juga, jadi bubur ayam misalnya," jawab Afiantara mencoba menenteramkan dan langsung disambut ger-geran pengunjung sidang.

"Kalau saya, saya ambil hikmahnya. Saya pasrah saja menjalani ini," jawab Andri. Sutarna dan Arief pun mengungkapkan hal yang sama dan tak akan menutup-nutupi kasus tersebut. Di persidangan, memang para saksi ini lancar bercerita tanpa banyak ditanya. Jaksa penuntut umum hanya memancing dengan beberapa pertanyaan saja dan dengan bersahutan para saksi tersebut bercerita saling melengkapi.

Di depan persidangan, Andri mengatakan mereka mendatangi Budi Ashari dua kali, yaitu pada 25 September dan 2 Oktober. Mereka hanya ditemui sekretarisnya.

"Apakah waktu itu menakut-nakuti Pak Budi?" tanya penasihat hukum terdakwa. "Kami tak pernah mengancam. Kami tanya baik-baik apa surat panggilan sudah sampai. Saya tidak mengancam, bisa dibuktikan di rekaman CCTV," kata Andri.

Waktu itu, kata Andri, ia sama sekali tak menyebutkan sejumlah uang kepada Budi. "Saya hanya menanyakan, mengapa tidak datang pada tanggal 28 September 2012. Dia bilang sibuk, tetapi akan datang 5 Oktober," katanya. (Amir Sodikin)

tags: kasus korupsi, korupsi, tipikor, jaksa, dukun

Arsip tulisan ini telah dimuat di Kompas, 4 Januari 2013

Visit: http://www.amirsodikin.com

Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved