Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , » PAN Luncurkan 8 Isu Strategis Hadapi 2014

PAN Luncurkan 8 Isu Strategis Hadapi 2014

Written By Amir Sodikin on Minggu, 17 Februari 2013 | 20.47

Di kala partai-partai lain sedang berkonsolidasi memecahkan konflik

internal, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa sudah

meluncurkan delapan pandangan PAN untuk mewujudkan partai bernomor

delapan itu terdepan pada pertarungan politik 2014 nanti. Kedelapan

pandangan tersebut untuk merespons isu dan program strategis

pembangunan menuju bangsa yang unggul dan berperadaban.





Sosialisasi tersebut dilakukan pada Pidato Kebangsaan Hatta Rajasa

pada temu kader PAN tingkat nasional di Jakarta Internasional Expo,

Kemayoran, Jakarta, pada Minggu (17/1). Secara umum, kedelapan isu

strategis tersebut semakin memposisikan PAN sebagai partai yang

berusaha berpihak pada yang lemah, promultikulturalisme, antikartel,

dan antipenguasaan sumber daya alam oleh kelompok tertentu.





Hatta memulai pidato dengan mengatakan membaiknya ekonomi Indonesia

dibanding satu dekade lalu, dari pendapatan per kapita 500 dollar AS,

saat ini menjadi lebih dari 3.500 dollar AS. "Keadaan kita sekarang

lebih baik dibanding 8 tahun lalu. Bagaimana kita melakukan

transformasi, perubahan besar sebagai bangsa untuk mewujudkan

Indonesia yang maju dan berperadaban di abad ke-21 ini? Terhadap

pertanyaan ini, kita memiliki 8 pandangan utama," kata Hatta.





Kedelapan pandangan utama tersebut secara singkat dapat diringkas

menjadi: perlunya kebersamaan untuk mencapai tujuan, nasionalisme dan

multikulturalisme, desentralisasi di tengah megaperubahan, mewujudkan

pasar yang adil, keadilan untuk semua, membangun kemandirian bangsa,

kaji ulang tata kelola kekayaan alam, dan pentingnya program

perlindungan sosial.





Dari kedelapan pandangan PAN tersebut, respons para kader memuncak

ketika Hatta memaparkan pandangan terkait kapitalisme, sistem pasar,

dan keberpihakan pada masyarakat lemah. "Di ruang pasar, agenda

perubahannya tidak saja mendorong terjadinya pasar yang terbuka namun

juga pasar yang adil. Not only a free market, but also a fair market,"

kata Hatta.





"Tidak saja sebuah ekonomi yang berorientasi keluar, tapi juga ekonomi

yang berorientasi ke dalam. Tidak hanya ekonomi yang mengejar

pertumbuahan semata, namun juga pemerataan yang bersifat inklusif,"

lanjuta Hatta.





Hatta juga menjelaskan pandangan PAN yang tidak setuju dengan

neoliberalisme dan pasar bebas karena cenderung tidak menghadirkan

keadilan. "Sebuah mekanisme pasar, yang tidak mampu mengontrol

keserakahan. Pasar bebas tidak mampu memperbaiki distorsi pada

dirinya, diperlukan kehadiran negara untuk melindungi yang lemah.

Keadilan harus dihadirkan bagi semua," katanya.





Monopoli atas sumber daya alam yang dikuasai kelompok tertentu juga

menjadi sorotan. "Anugerah sumber daya alam yang disediakan Allah SWT

harus dinikmat bersama-sama, bukan hanya dinikmati oleh sekelompok

tertentu saja. Kelompok besar tidak boleh memonopoli penguasaan sumber

daya alam," katanya.





Selain menjanjikan soal keadilan atas penguasaan lahan persawahan,

Hatta juga mengkritisi fenomena pangan impor yang dikuasai kelompok

tertentu, bahkan oleh kartel yang mengakibatkan petani semakin tak

berdaya. Pidato paling "menyengat" para kader PAN adalah soal

penolakan terhadap kartel penguasa impor pangan.





"Petani tak berdaya oleh pangan impor, petani kita harus berkebun di

tanahnya sendiri. Keadilan atas lahan harus kita wujudkan. Dan yang

penting, tak boleh di bumi ini, kartel menguasai pangan yang

merupakan hajat hidup orang banyak," papar Hatta.





Soal pandangan terhadap modal asing, secara implisit disinggung Hatta

dalam persoalan renegosiasi kontrak-kontrak pengelolaan sumber daya

alam yang merugikan. Indonesia perlu mengaji ulang terhadap cara

mengelola kekayaan alam. Tidak boleh sumber-sumber kekayaan alam

dikelola oleh sekelompok orang tsaja.





"Renegosiasi kontrak yang tidak adil harus kita lakukan. Hak-hak

negara berupa royalti, divestasi, nilai tambang, dan keikutsertaan

peran masyarakat harus diwujudkan," kata Hatta yang disambut gemurut

tepuk tangan para kader.





Ekspor terhadap bahan mentah juga akan dihentikan karena hanya membuat

bangsa menjadi lemah. Sebagai gantinya, harus dibangun

industri-industri untuk memproses bahan mentah menjadi bernilai

tambah, disamping meningkatkan lapangan kerja juga membangun

kemandirian bangsa.





"Tidak mungkin kita biarkan negara kita tergantung pada negara lain

secara absolut. Kita harus membangun kedaulatan dan swasembada pangan.

Sejarah mencatat, tidak ada negara yang unggul di dunia ini tanpa

memilik kemandirian pangan," kata Hatta.





Dalam perlindungan sosial, Hatta menegaskan perlunya peningkatan

kehadiran peran negara terhadap ekonomi lemah. "Mendorong pertumbuhan

ekonomi yang tinggi adalah penting, akan tetapi menjaga agar tidak

menimbulkan kesenjangan sosial, juga amat penting. Negara harus hadir

dalam program afirmatif untuk melindungi yang lemah," jelas Hatta.

(AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved