Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » Pejabat Kemenag Akui Ditekan Zulkarnaen Djabar

Pejabat Kemenag Akui Ditekan Zulkarnaen Djabar

Written By Amir Sodikin on Kamis, 21 Februari 2013 | 23.06

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (21/2), kembali

menyidangkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dari Komisi VIII,

Zulkarnaen Djabar, dan putranya Dendy Prasetya Zulkarnaen Putra. Saksi

dari pejabat Kementerian Agama mengungkapkan, pernah ditekan

Zulkarnaen untuk memasukkan anggaran proyek. Jika tidak, Komisi VIII

DPR RI tak akan menyetujui anggaran Kemenag.





Zulkarnaen dan putranya adalah terdakwa pengadaan laboratorium

komputer pada madrasah tsanawiyah dan penggandaan Al-Quran yang

dibiayai anggaran Kementerian Agama tahun 2011 dan 2012. Sidang yang

dipimpin Ketua Majelis Hakim Afiantara hari itu menghadirkan Kepala

Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Kemenag, Syamsuddin, serta

Affandi Mochtar, mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan

Islam Kemenag.





Syamsuddin mengatakan, Zulkarnaen selaku juru bicara Komisi VIII

berkirim surat yang menyatakan ada tambahan dana yang disetujui tahun

2012 yaitu Rp 130 miliar. Dari angka itu, Rp 50 miliar untuk anggaran

penggandaan Al-Quran pada Dirjen Bimas Islam.





"Kami tidak tahu apa dan bagaimana bisa muncul angka Rp 50 miliar,

tapi kami terima surat dari Komisi VIII yang isinya demikian,"

katanya. Padahal, anggaran yang diajukan Kemenag hanya Rp 9 miliar,

itu pun sudah termasuk besar karena pada 2011 anggarannya sudah

tinggi Rp 22,8 miliar, dan anggaran tahun-tahun sebelumnya hanya

berkisar Rp 4-5 miliar.





Dengan demikian, total anggaran penggandaan Al-Quran 2012 menjadi Rp

59 miliar. Syamsuddin melihat anggaran itu berlebihan karena banyak

keperluan mendesak, misalnya Kantor Urusan Agama sebanyak 853 unit

tempatnya masih menyewa.





Zulkarnaen sempat menelepon Syamsuddin untuk membicarakan beda

pendapat pada anggaran penggandaan Al-Quran. "Saya protes kepada Pak

Zul, itu jumlahnya terlalu besar nanti pekerjaannya tidak sederhana

kalau terlalu besar," kata Syamsuddin.

Tanggapan Zulkarnaen, katanya hal itu sudah dibicarakan dengan Dirjen

Bimas Islam Nasarudin Umar dan beliau sudah setuju.





Utusan Senayan



Tak hanya melalui telepon, Syamsuddin pernah diundang Zulkarnaen di

Plaza Senayan untuk membahas dana tersebut. Tujuannya untuk memastikan

anggaran penggandaan Al-Quran tidak ditolak dan masuk dalam program

Kemenag.





Sebelum ada surat yang memberitahukan ada penambahan dana, Zulkarnaen

menelepon untuk menginformasikan akan ada Fahd el Fouz yang akan

menemuinya. Fahd adalah pengusaha yang dianggap menjadi "utusan

Senayan" yang mewakili kepentingan Zulkarnaen.





Kepada Fahd, Syamsuddin mengatakan pihaknya tak bisa memasukkan

program yang diinginkan jika belum ada surat Komisi VIII. Dalam

telepon, Zulkarnaen berjanji akan mengesahkan anggaran Kemenag jika

program yang diusulkan olehnya disetujui.





Baik Zulkarnaen melalui telepon dan juga Fahd el Fouz yang menemuinya

langsung, mengatakan dana tambahan tahun 2011 dan 2012 adalah

kepunyaan Senayan. Kalau tidak demikian, maka anggaran tidak akan

disetujui Komisi VIII.





Untuk 2011, tambahan anggarannya Rp 125 miliar yang juga merupakan

usulan dari Komisi VIII, bukan dari Kemenag. "Fahd sering tanya ke

Saudara apakah dana punya Senayan sudah dimasukkan apa belum?" tanya

Ketua Majelis Hakim Afiantara, yang dibenarkan Syamsudin.





Jaksa KMS A Roni menanyakan, tekanan dari Zulkarnaen tersebut

bentuknya seperti apa? "Kalau program Zulkarnaen tidak masuk dalam

program Kemenag, anggaran Kemenag tidak akan disetujui. Kalau tak ada

persetujuan Komisi VIII, Kemenag tak berani juga mengesahkan

anggaran," kata Syamsuddin.





"Fahd kerjanya apa ini?" cecar Afiantara yang dijawab Syamsuddin tidak

tahu. "Kok diterima?" tanya Afiantara. "Karena ditelepon sebelumnya

oleh Zulkarnaen. Fahd minta pekerjaan pengadaan, yang katanya milik

Senayan itu," kata Syamsuddin.





"Maksudnya angaran itu punya Senayan itu bagaimana?" sela Ketua

Majelis Hakim Afiantara. "Kalau bagi saya, itu berarti memasukkan

program tersebut dalam dokumen anggaran," jawab Syamsuddin. Kemudian,

program tersebut nantinya akan dikerjakan orang-orang Zulkarnaen.





Syamsuddin juga diminta Zulkarnaen untuk mengenalkan Fahd dengan

Affandi Mochtar dan permintaan itu dipenuhi. "Wajar enggak ini?

Masalah ini kan sebenarnya sudah umum, yang ditakutkan (dari telepon

Zulkarnaen) itu apa?" tanya Afiantara.





"Ya karena ada permintaan dari Pak Zulkarnaen. Kemitraan dengan Komisi

VIII nanti jadi tidak baik, saya menjaga hubungan itu saja," elak

Syamsuddin. Dari dana tambahan Komisi VIII tersebut, banyak proyek

yang tak berjalan dan kembali ke kas negara karena anggaran tak

terserap.





Affandi Mochtar mengakui diperkenalkan dengan Fahd dan juga Dedy

Prasetya dan sempat bertemu dengan mereka. Fahd mengungkapkan

keinginannya dalam pelaksanaan anggaran. Namun, dari keterangan

Affandi, tak banyak fakta yang terungkap karena Affandi sering

menjawab tidak tahu atau menutupi apa yang dibicarakannya dengan Fahd

dan Dendy. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved