Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , , » SBY Vs Anas, Biarlah Tuhan yang Mengurus Negara

SBY Vs Anas, Biarlah Tuhan yang Mengurus Negara

Written By Amir Sodikin on Sabtu, 16 Februari 2013 | 08.53

Apa sebenarnya perkataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang

berkesan di hati warga pengguna internet (netizen) dalam dua pekan

terakhir? Apakah persoalan bangsa, terkait kemiskinan? Atau soal

pendidikan, olahraga, korupsi? Ternyata tidak.





Selama dua pekan, tak ada kerja terkait persoalan bangsa yang

dikaitkan dengan Presiden SBY. SBY di sosial media, tempat orang-orang

dengan bebas mencurahkan pendapatnya tanpa ditanya, secara signifikan

hanya disebut jika terkait kegiatan Partai Demokrat.





Grafik yang ditunjukkan oleh perangkat lunak berbasis web, Topsy,

menyebutkan dalam dua pekan terakhir yang paling banyak dibicarakan di

sosial media terkait SBY adalah berita "SBY Ambil Alih Kendali Partai

Demokrat" pada 8 Februari lalu.





Lalu lintas berita di sosial media terkait SBY hari itu mencapai

100.132 kali. Bahkan, berita ini yang paling menyita perhatian selama

satu bulan terakhir terkait SBY.





Grafik percakapan terkait SBY dalam dua pekan terakhir ini membentuk

kerucut, puncak kerucut adalah saat SBY berpidato untuk mengambil alih

Demokrat. Sedangkan di sisi kiri, permulaan kerucut dimulai dengan

berita heboh dari Jakarta Post pada 1 Februari berjudul "First family

tax returns raises flags".





Tautan berita di situs Jakarta Post tersebut beredar di kalangan

pengguna Twitter hingga 1.202 kali. Ditambah dengan percakapan di

media sosial yang dipicu pemberitaan media lain, hari itu percakapan

terkait SBY mencapai 5.795 kali. Inilah awal mula para netizen mulai

membicarakan SBY, yang akhirnya berita heboh ini terkubur oleh pidato

penyelamatan Demokrat oleh Presiden.





Karena itu, netizen sejak awal sudah menengarai akan ada pengalihan

isu. "Harusnya berita ini yang meledak hari ini," kata pemilik akun

Twitter dr_piprim sambil menaruh tautan berita soal pajak keluarga

SBY.





Penguna akun Twitter edy_khemod termasuk orang yang pertama berbagi

tautan dari Jakarta Post tersebut. "Konon artikel pajak SBY ini yang

bikin Jakarta Post hilang dari peredaran pagi ini dan websitenya

sempat down," kata edy_khemod.





SBY vs Anas



Dari tanggal 1 Februari hingga 8 Februari, pemberitaan terkait SBY,

Partai Demokrat, dan Anas Urbaningrum kejar-kejaran dan saling

berkaitan. Di hari itu, berita yang menyita perhatian adalah terkait

"Demokrat di Daerah Desak SBY Selamatkan Partai", "SBY Minta KPK

Segera Tuntaskan Kasus Anas Urbaningrum", "Tuntutan KLB Kian Deras,

SBY Kirim SMS dari Mekkah".





Berita-berita itu seolah menkonsolidasi "perang" terbuka SBY vs Anas

di media sosial. Mesin analisis sosial media yang dimiliki

Politicawave pun memantau pertarungan ini sejak tanggal 1 Februari

hingga 14 Februai. Menurut data dari dapur analisis Politicawave, isu

Partai Demokrat di media sosial menyangkut Anas Urbaningrum dan SBY

mencapai 108.530 percakapan dengan pengguna unik yang terlibat

sebanyak 36.840.





Direktur Politicawave, Yose Rizal, mengatakan, di media sosial SBY

memang mendominasi dibanding Anas dengan perbanding 43 persen untuk

SBY, 39 persen untuk Anas Urbaningrum, dan 18 persen gabungan Anas dan

SBY.





Namun, sentimen negatif di media sosial lebih tertuju pada SBY.

"Ternyata tindakan yang dilakukan oleh SBY mendapatkan respon yang

kurang baik di media sosial. Banyak netizen yang menganggap upaya yang

dilakukan SBY ini seolah memperlihatkan SBY sebagai sosok yang

diktator karena mencoba mengambil alih kekuasaan di Partai Demokrat,"

papar Yose.





Selain itu, kata Yose, muncul opini yang menyatakan SBY lebih

mementingkan kepentingan Partai Demokrat dibandingkan kepentingan

rakyat Indonesia karena terus menerus berdoa agar Partai Demokrat

dibebaskan dari berbagai cobaan berat. Beberapa celotehan pengguna

media sosial pun memang mempersepsikan negatif langkah SBY tersebut.





"Urus partaimu saja, biarlah Tuhan yang mengurus negara," kata Badri

Ahmad, pemiluk akun Twitter indiejiens. Komentar Badri tersebut

dilengkapi dengan tautan berita di sebuah media berjudul "Perang

Terbuka Anas vs Cikeas, Siapa Menang".





Namun, kata Yose, ada juga beberapa netizen yang setuju dengan upaya

penyelamatan yang dilakukan SBY. Mereka menganggap upaya SBY

tersebut termasuk hal yang wajar. Bentuk dukungan SBY dilakukand engan

me-retweet opini tokoh-tokoh yang mendukung pernyataan tersebut,

seperti Taufik Kiemas dan Anies Baswedan.





Sebaliknya, citra Anas dengan adanya "perang" ini cenderung netral di

mata netizen. Padahal, sebelumnya Anas menjadi bulan-bulanan di media

sosial karena ada tanda-tanda KPK bakal segera menetapkan Anas sebaga

tersangka terkait kasus Hambalang.

"Dengan "perang" terhadap SBY ini, Anas dipersepsikan sebagai pemimpin

yang bagus karena lebih mendekatkan diri dengan akar rumput dan para

kader Demokrat dibandingkan dengan SBY yang membentuk koalisi dengan

elite Partai Demokrat," kata Yose.





Pendekatan yang dilakukan Anas antara lain dengan bercerita kepada

kader-kader Demokrat mengenai loyalitas sahabat Nabi Muhammad SAW.

Publik di media sosial juga memiliki persepsi, apabila Anas lengser

dari jabatannya maka dapat menghancurkan citra Partai Demokrat ke

depannya.





"Beberapa contoh opini yang terkesan mendukung Anas adalah dari

banyaknya netizen yang mempublikasikan berita yang menyatakan Anas

menandatangani pakta integritas, serta ikut menuliskan Ojo Dumeh di

statusnya," papar Yose.





Setelah publik di media sosial menyatakan ketidaksukaannya pada gaya

diktator SBY, kembali keluarga SBY terimbas persepsi negatif dengan

munculnya beberapa berita terkait Edhie Baskoro atau Ibas. Diantaranya

berita Ibas yang langsung pergi meninggalkan Gedung DPR setelah

menandatangani prensensi, itupun presensinya diantar oleh seorang

petugas.





Beragam komentar pun muncul menanggapi perilaku bolos kerja anak SBY

tersebut. "Ciee gaye anak yang punya negara," komentar pemilik akun

Twitter Sundaningsih. "Kebiasaan sejak sekolah kali," kata megimargi.

"Kuliahnya pasti titip absen nih," sambar gadlimbongst.





Pemberitaan terkait Ibas mulai mereda setelah ditutup kabar Ibas

mundur dari anggota DPR. Kini, publik masih terus menunggu akhir dari

perselisihan Ibas vs SBY. Jika perselisihan terus berlanjut, maka tak

berlebihan jika netizen mengatakan urusan negara ini biarlah Tuhan

yang mengelolanya.

(Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved