Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » Zulkarnaen Djabar Bantah Intervensi Kemenag

Zulkarnaen Djabar Bantah Intervensi Kemenag

Written By Amir Sodikin on Selasa, 05 Februari 2013 | 20.35

Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014,

Zulkarnaen Djabar (terdakwa 1) dan anak kandungnya Dendy Prasetya

Zulkarnaen Putra (terdakwa 2), lewat penasehat hukumnya menyampaikan

eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan jaksa. Dalam sidang yang

dipimpin Ketua Majelis Hakim Aviantara, Zulkarnaen membantah telah

mengintervensi Kementerian Agama.



"Terhadap dakwaan jaksa penuntut umum, terkait intervensi oleh

terdakwa 1 dan terdakwa 2 ke Kementerian Agama, sangat dipaksakan

karena itu semua ranah eksekutif," kata penasehat hukum terdakwa,

Erman Umar, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (4/2).



Walau diakui ada komunikasi dengan Kemenag, namun komunikasi itu

diakui hanya sekedar komunikasi biasa pada fungsi pengawasan

legislatif kepada eksekutif. "Tidak ada intervensi. Terdakwa 1 hanya

menelepon tanpa intervensi. Fahd el Fouz lah yang mendatangi para

pejabart dan mengatasnamakan utusan senayan agar bisa ikut tender,"

kata Erman,



Terdakwa 1 juga merasa tak pernah mengutus Fahd sebagai utusan Senayan

atau utusan pribadi terdakwa 1. "Yang melobi aktif adalah Fahd dibantu

terdakwa 2," kata Erman.



Atas kondisi tersebut, menurut penasehat hukum, tidak selayaknnya

terdakwa 1 dijadikan terdakwa dalam perkaara ini.



Dalam dakwaan jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi,

jaksa Dzakiyul Fikri memaparkan, Zulkarnaen didakwa menggiring

anggaran sejak pembahasan pengadaan laboratorium komputer tahun

anggaran 2011 serta penggandaan Al Quran tahun 2011 dan 2012 di

Kementerian Agama. Sementara anaknya, Dendy Prasetya, didakwa berperan

membagi fee dan melakukan lobi.



Dari proyek tersebut, Zulkarnaen menerima hadiah uang Rp 14,3 miliar

dari Abdul Kadir Alaydrus, Direktur PT Sinergi Pustaka. Hadiah

tersebut diberikan melalui Dendy.





Menurut Erman, peran terdakwa 2 adalah saat pelantikan Gerakan Muda

Musyawarah Kekeluargaan dan Gotong Royong, terdakwa 2 bertemu dengan

Dendy membicarakan proyek di Kemenag. Fahd mengetahui ayah Dendy

adalah Wakil Ketua Umum MKGR yang juga anggota komisi VII DPR RI.

Karena itu, Fahd berusaha memanfaatkan akses Dendy.



Fahd dikatakan sering bertanya ke Dendy terkait proyek di Kemenag dan

akhirnya Dendy berinisiatif memfotokopi dokumen pembahasan anggaran di

Kemenag yang dimiliki ayahnya. "Terdakwa 2 berinisiatif memberikan

fotokopi dokumen tersebut kepada Fahd," kata Erman.



Fahd lah yang saat itu Ketua Gema MKGR, yang berinisiatif untuk

melakukan intervensi ke pejabat Kemenag agar perusahaan tertentu

dimenangkan dalam tender. Menurut kubu Zulkarnaen, dakwaan jaksa hanya

didasari pada pengakuan Fahd saja. Fahd dianggap telah mencatut nama

seniornya di MKGR untuk kepentingan proyek tersebut.



Zulkarnaen mengaku terpukul atas pemberitaan bahwa dia dan anaknya

diduga melakukan korupsi apalagi dikaitkan dengan Al Qur'an sebagai

Kita Suci Umat Islam. "Zulkarnaen merasa meninggal sebelum ajalnya

tiba dan merasa sudah divonis sebelum Majelis Hakim mengambil

keputusannya," papar Erman.



Atas eksepsi tersebut, JPU pada KPK akan mengajukan tanggapan secara

tertulis pada Senin pekan depan. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved