Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » MEDIA SOSIAL: Anas Versus Demokrat

MEDIA SOSIAL: Anas Versus Demokrat

Written By Amir Sodikin on Senin, 04 Maret 2013 | 15.32

Di atas kertas, mundurnya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat setelah ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan angin kemenangan bagi Partai Demokrat. Namun, sesuai prediksi banyak pihak, Anas pasti tidak tinggal diam.

Respons warga pengguna internet (netizen) terhadap perlawanan Anas di media sosial ternyata beragam. Puncak amplifikasi berita Anas di berbagai kanal media sosial terjadi saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan namanya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek Hambalang pada 22 Februari 2013. Paling tidak, pada hari itu, mesin analisis media sosial milik Topsy merekam 151.248 percakapan terkait Anas.

Sementara mesin analisis milik PoliticaWave mencatat dominasi Demokrat dalam percakapan di berbagai kanal media sosial sebagai dampak polemik antara Anas dan Demokrat. Namun, Direktur PoliticaWave Yose Rizal memberi peringatan penting terkait dominasi itu.

Perlawanan Anas ternyata membuahkan hasil dengan memberikan sentimen negatif pada kredibilitas Demokrat dan sekaligus serangan terhadap keluarga Susilo Bambang Yudhoyono. Jika tujuan Anas adalah untuk menurunkan citra Demokrat, tujuan itu berhasil.

”Jumlah pembicaraan mengenai Demokrat mencapai 48,5 persen dari total pembicaraan tentang partai politik. Sayangnya, mayoritas pembicaraan netizen memiliki nuansa negatif sehingga menyebabkan sentimen Demokrat di mata netizen sangat negatif dengan poin minus 22,42,” kata Yose.

Salah satu keahlian mesin analisis PoliticaWave adalah mampu memetakan sentimen dari seluruh pembicaraan di berbagai kanal media sosial, seperti Twitter, Facebook, Youtube, blog, forum, dan media online. Mesin analisis telah disesuaikan dengan format bahasa Indonesia sehingga semua bahasa dan kode ekspresi netizenbisa dipetakan.

Serangan balik Anas dengan menyatakan ada keterlibatan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat yang juga anak SBY, yaitu Edhie Baskoro (Ibas), dalam kasus Hambalang, tampak efektif memukul balik. Anas juga berencana membeberkan kecurangan Demokrat saat Pemilu 2009 serta keterkaitan Partai Demokrat dalam kasus Century.

”Berdasarkan pemantauan PoliticaWave, banyak netizen yang mendukung upaya Anas. Salah satu bentuk dukungan terlihat dari banyaknya netizen yang memublikasikan tautan- tautan berita, seperti sindiran Anas yang mengatakan Presiden tidak boleh mengeluh,” kata Yose. Bentuk dukungan lain adalah dengan menyatakan upaya Anas mengungkap ”kebobrokan” adalah hal yang benar dan patut didukung.

Mundurnya Anas sebagai ketua umum dianggap akan menurunkan elektabilitas Partai Demokrat. Anas adalah figur yang menurut pendukungnya cocok dicalonkan sebagai presiden. Beberapa netizen juga terkesima dengan pidato pengunduran diri Anas dan wawancara dirinya di stasiun televisi swasta.

Meski tampak berhasil di media sosial, Anas tetap memanen sentimen negatif. ”Sebagian besar netizen mempertanyakan sumpah Anas yang belum juga dilaksanakan, yaitu siap digantung di Monas jika terlibat kasus korupsi,” kata Yose.

Strategi melawan

Perlawanan Anas dimulai dengan cara menyindir. Di berbagai kanal media sosial, perlawanan setelah 22 Februari mulai frontal. Dari analisis Kompas dengan mesin Topsy, fluktuasi percakapan terkait Anas tampak stabil hingga 3 Maret 2013.

Perlu dicatat juga, cara-cara melawan dengan menyindir seperti dalam status Blackberry Anas, misalnya ”Politik Para Sengkuni”, ”Ojo Dumeh”, ”Nabok Nyilih Tangan”, dan ”Adigang, Adigung, Adiguno”, ternyata tak populer di mata netizen. Frase ”Politik Para Sengkuni”, misalnya, hanya dibicarakan 463 kali menurut data Topsy. Sementara frasa ”Adigang, Adigung, Adiguno” hanya dibicarakan 49 kali.

Istilah dalam kisah Mahabarata dan retorika bahasa Jawa ternyata memiliki penetrasi terbatas dan membuat perlawanan Anas tak mendapatkan amplifikasi berarti dari netizen. Jika menginginkan perlawanan efektif, Anas harus mengubah pola ini dengan komunikasi yang lebih mudah dipahami.

Sehari setelah pengumuman KPK, Anas mencoba melawan, yang terekam dengan tiga berita utama, ”Anas adalah Bayi yang Tak Diharapkan”, ”Ini Bukan Akhir, tapi Halaman Pertama”, dan ”Saya Akan Ikuti Proses Hukum”. Ketiga berita utama tersebut disimak netizen dengan saksama.

Hasilnya, Anas tetap menjadi pembicaraan di kalangan netizen, tetapi dengan nuansa berita versi Anas. Walaupun netizen tertarik dengan manuver Anas, sentimen tetap terbelah dengan cenderung ke sentimen negatif.

Soal janji Anas untuk menaati proses hukum terdengar kesatria, tetapi ternyata dominan direspons negatif oleh netizen. ”Jangan lupa janji gantung di Monas ya Om Anas,” kata akun @noviantypoo.

Dari analisis menggunakan Mentionmapp, para kolega dekat Anas yang berpengaruh di media sosial ternyata tak banyak membantu mendongkrak sentimen positif Anas. Akun Twitter @pbhmi dan @infohmi, yang tampak memberi sumbangan positif untuk Anas, tak mampu berbuat banyak melawan banjirnya sentimen negatif.

Anas sendiri tak banyak bergerak di media sosial. Percakapan akun Twitter @anasurbaningrum hanya terkait dengan beberapa akun, seperti @ferrymbaldan (Ferry Mursyidan Baldan), @saididu (Muhammad Said Didu), @ramadhanpohan1 (Ramadhan Pohan), dan @edihafidl (Gus Ed). Itu pun beberapa pembicaraan mereka tentang sepak bola.

Interaksi pribadi Anas di jejaring sosial itu seperti menunjukkan bahwa ritme hidup Anas masih seperti biasa, suka sepak bola, kuliner, dan pembaca Mahabarata. Jika benar begitu, cukup pemberitaan terkait Anas versus Demokrat karena netizen sudah bosan dengan berita itu-itu saja. (Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved