Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » Media Sosial: Anas Vs Demokrat

Media Sosial: Anas Vs Demokrat

Written By Amir Sodikin on Senin, 04 Maret 2013 | 01.33

Di atas kertas, lengsernya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai

Demokrat setelah ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi

Pemberantasan Korupsi merupakan angin kemenangan bagi Susilo Bambang

Yudhoyono dan Partai Demokrat. Namun, sesuai prediksi banyak pihak,

Anas pasti tidak tinggal diam.





Respons warga pengguna internet (netizen) terhadap perlawanan Anas di

media sosial ternyata beragam. Puncak amplifikasi berita Anas di

berbagai kanal media sosial terjadi saat KPK mengumumkan namanya

sebagai tersangka. Sekurangnya, di hari itu, mesin analisa media

sosial milik Topsy, merekam 151.248 perkacapan terkait Anas.





Sementara, mesin analisa milik PoliticaWave mencatat dominasi Partai

Demokrat dalam percakapan di berbagai kanal media sosial sebagai

dampak polemik yang terjadi antara Anas dengan Demokrat. Namun,

Direktur PoliticaWave, Yose Rizal, memberi peringatan penting terkait

dominasi tersebut.





Perlawanan Anas ternyata telah membuahkan hasil dengan memberikan

sentimen negatif pada kredibilitas Partai Demokrat dan sekaligus

serangan terhadap keluarga SBY. Jika tujuan Anas adalah untuk

menurunkan citra Demokrat, maka tujuan itu kini sudah berhasil.





"Jumlah pembicaraan mengenai Demokrat mencapai 48,5 persen dari total

pembicaraan tentang partai politik. Sayangnya mayoritas pembicaraan

netizen memiliki nuansa negatif, sehingga menyebabkan sentimen

Demokrat di mata netizen sangat negatif dengan poin -22,42," kata

Yose.





Salah satu keahlian mesin analisa PoliticaWave adalah mampu memetakan

sentimen dari seluruh pembicaraan di berbagai kanal media sosial,

seperti di Twitter, Facebook, Youtube, blog, forum, dan media online.

Mesin analisa telah disesuaikan dengan format bahasa Indonesia

sehingga semua bahasa dan kode ekspresi netizen bisa dipetakan.





Serangan balik Anas dengan menyatakan ada keterlibatan Sekretaris

Jenderal Partai Demokrat yang juga merupakan anak SBY, yaitu Edhie

Baskoro (Ibas), dalam kasus Hambalang, tampak efektis memuku balik.

Anas juga berencana membeberkan kecurangan yang dilakukan SBY saat

Pemilu 2009 serta keterkaitan Partai Demokrat pada kasus Century.





"Berdasarkan hasil pemantauan PoliticaWave, banyak netizen yang

mendukung upaya Anas. Salah satu bentuk dukungan terlihat dari

banyaknya netizen yang mempublikasikan tautan-tautan berita, seperti

sindiran Anas yang mengatakan Presiden tidak boleh mengeluh," kata

Yose. Bentuk dukungan lainnya dengan menyatakan upaya Anas untuk

mengungkap "kebobrokan" adalah hal yang benar dan patut didukung.





Mundurnya Anas sebagai ketua umum dianggap akan menurunkan

elektabilitas Partai Demokrat. Padahal, Anas adalah figur yang menurut

pendukungnya cocok dicalonkan sebagai Capres. "Beberapa netizen juga

merasa terkesima dengan pidato pengunduran diri Anas dan wawancara

eksklusif dirinya di sebuah stasiun televisi swasta," kata Yose.





Meskipun Anas tampak berhasil di media sosial, namun Anas tetap

memanen sentimen negatif. "Sebagian besar netizen mempertanyakan

sumpah Anas yang belum juga dilaksanakan, yaitu siap digantung di

Monas bila dirinya terlibat kasus korupsi," kata Yose.





Strategi melawan



Perlawanan Anas dimulai dengan cara cara menyindir. Di berbagai kanal

media sosial, perlawanan setelah 22 Februari mulai bersifat frontal.

Dari analisa Kompas dengan mesin Topsy, fluktuasi percakapan terkait

Anas tampak stabil hingga 3 Maret 2013.





Perlu dicatat juga, cara-cara melawan dengan menyindir seperti yang

tampak dalam status BlackBerry Anas, misalnya "Politik Para Sengkuni",

"Ojo Dumeh", dan "Nabok Nyilih Tangan", "Adigang, Adigung, Adiguno",

ternyata tak populer di mata netizen. Frase "Politik Para Sengkuni",

misalnya, hanya dibicarakan 463 kali menurut data Topsy. Sedangkan

frasa "Adigang, Adigung, Adiguno" hanya dibicarakan 49 kali.





Istilah dalam kisah Mahabarata dan retorika Bahasa Jawa ternyata

penetrasinya terbatas dan membuat perlawanan Anas tak mendapatkan

amplifikasi berarti dari netizen. Jika menginginkan perlawanan

efektir, pola ini harus diubah Anas dengan komunikasi yang lebih mudah

dipahami.





Sehari setelah pengumuman KPK, Anas mencoba melakukan perlawanan yang

terekam dengan tiga berita utama yaitu: "Anas Adalah Bayi yang Tak

Diharapkan", "Ini Bukan Akhir, Tapi Halaman Pertama", dan "Saya Akan

Ikuti Proses Hukum". Ketiga berita utama tersebut kesemuanya disimak

oleh warga pengguna internet (netizen) dengan seksama.





Hasilnya, Anas tetap menjadi pembicaraan di kalangan netizen namun

dengan nuansa berita versi Anas. Walaupun netizen tertarik dengan

manuver Anas, sentimen tetap terbelah dengan cenderung ke sentimen

negatif.





"Udah ketahuan korup, (baru) bilang begitu," kata pengguna akun

zalcrut. Akun syadiin juga menyumbang sentimen negatif, "Giliran kena

kasus baru merasa dizolimi, payah."





Soal janji Anas untuk mentaati proses hukum, terdengar kesatria, namun

ternyata dominan direspons negatif oleh netizen. "Jangan lupa janji

gantung di Monas ya Om Anas," kata akun noviantypoo.





Dari analisa menggunakan Mentionmapp, para kolega dekat Anas yang

memiliki pengaruh di media sosial, ternyata tak banyak membantu

mendongkrak sentimen positif Anas. Akun Twitter pbhmi dan infohmi,

yang tampak memberi sumbangan positif untuk Anas, tak mampu berbuat

banyak melawan banjirnya sentimen negatif.





Anas sendiri tak banyak bergerak di media sosial. Percakapan akun

Twitter anasurbaningrum hanya terkait dengan beberapa akun penting

seperti ferrymbaldan (Ferry Mursyidan Baldan), saididu (Muhammad Said

Didu), ramadhanpohan1 (Ramadhan Pohan), dan edihafidl (Gus Ed).

Setelah diteliti, beberapa pembicaraan mereka tak cukup berarti karena

yang mereka bicarakan ternyata tentang sepak bola.





Interaksi pribadi Anas di jejaring sosial tersebut seperti menepis

anggapan bahwa ritme hidup Anas masih seperti biasanya. Suka sepak

bola, kuliner, dan pembaca Mahabarata. Jika benar ritme hidup Anas

normal-normal saja, maka cukup sudah pemberitaan terkait Anas vs

Demokrat karena netizen sudah bosan dengan berita itu-itu saja. (Amir

Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved