Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » Pejabat UNJ Mengaku Terima Uang "Terima Kasih"

Pejabat UNJ Mengaku Terima Uang "Terima Kasih"

Written By Amir Sodikin on Kamis, 07 Maret 2013 | 21.46

Drama sidang perkara korupsi pengadaan peralatan laboratorium di

Universitas Neger Jakarta (UNJ) mulai terasa. Pimpinan Majelis Hakim,

Pangeran Napitupulu, mengeluarkan ancaman pidana penjara karena sumpah

palsu pada seorang saksi dari UNJ.





Hasilnya, saksi akhirnya mengakui menerima aliran uang dari PT Anugrah

Nusantara dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta,

Kamis (7/3), dengan terdakwa Fakhruddin Arbah, Pembantu Rektor III

UNJ, saat itu pejabat pembuat komitmen, dan Tri Mulyono, dosen

Fakultas Teknik UNJ, saat itu ketua panitia pengadaan.





Fakhruddin dan Tri didakwa dalam kongkalikong pengadaan peralatan

laboratorium UNJ 2010. Tri dianggap menetapkan sendiri pemenang lelang

yang disetujui Fakhruddin. Pemenang lelang merupakan perusahaan Grup

Permai. Kasus ini bagian dari penggiringan anggaran di 16 universitas

dan terkait erat dengan perkara Angelina Sondakh.





Hakim Napitupulu sempat dibuat marah oleh saksi Dedi Purwana, Pembantu

Dekan I Fakultas Ekonomi UNJ. Awalnya Dedi hanya mengaku menerima uang

THR dari Melia Rike, staf marketing PT Anugrah, sebesar Rp 10 juta.

Dedi mengaku tak tahu peruntukan uang itu.





Pengakuan Dedi dianggap bohong dan tak sesuai fakta sehingga

Napitupulu mengeluarkan ancaman pidana penjara jika bersikukuh bohong.

Saksi Melia telah mengatakan Dedi menerima Rp 25 juta dan jika ada

satu saksi lagi yang membenarkan keterangan itu, Dedi bisa dianggap

memberi keterangan palsu.





Melia bersama orang Anugrah lainnya yaitu Gerhana Sianipar membawa

uang Rp 100 juta dalam empat amplop yang berisi masing-masing Rp 25

juta. Uang diserahkan di UNJ untuk orang-orang UNJ seperti Suryadi,

Dedi, dan Tri Mulyono.

"Di sini yang penting jawab yang benar. Benar terima Rp 25 juta?"

bentak Napitupulu. "Saya tidak hafal, tapi pernah terima Rp 20 juta

dari Pak Suryadi," kata Dedi mulai mengakui.





Ternyata, setelah itu Melia membari lagi Rp 10 juta kepada Dedi. Dedi

mengakui uang itu terkait pengadaan laboratorium UNJ. "Nah begitu,

yang duduk di sini itu tak bisa dibodoh-bodohi. Kami di sini Wakil

Tuhan bukan sembarangan," kata Napitupulu.

Napitupulu dengan nada tinggi juga memerintahkan jaksa agar menjerat

Gerhana sebagai tersangka. "Makanya penuntut umum, Gerhana itu

jadikan tersangka. Termasuk Marisi Matondang, cari di mana orangnya,

jangan main-main," kata Napitupulu dan jaksa menjawab siap.





Vendor mengakui



Dalam kesempatan itu, para vendor penyuplai barang mengakui dikontak

Melia untuk dimintai diskon 40 persen. Hanya saja, mereka tahunya

Melia dari PT Marel Mandiri.

Direktur Eramitra Perdana, Yusral, yang menyediakan alat spektometer

mengatakan, Melia pernah menelepon perusahaannya untuk meminta

penawaran dengan diskon 40 persen. "Kita pertama tidak setuju, umumnya

diskon itu maksimal 20 persen," kata Yusral.





Jika tidak setuju, perusahaan Yusral tak akan diikutkan dalam proyek.

Karena tekanan itu, Yusral akhirnya menyetujui diskon 40 persen dengan

ketentuan pengiriman barang dari Amerika Serikat hanya sampai di

Singapura. "Mereka yang urus ke Jakarta, nilai barang 54.000 dollar AS

sebelum diskon," kata Yusral.





Yusral tak tahu jika perusahaan itu termasuk grup Anugrah Nusantara.

"Tidak tahu kalau itu Anugrah Nusantara? Milik M Nazaruddin dan Anas

Urbaningrum, anak buahnya ada Rosa Manulang, Marisi Matondang, Gerhana

Sianipar. Jangan pura-pura tidak tahu," sergah Napitupulu.





Saksi lain yaitu Agung Fajar Wahyudi dari perusahaan yang menyuplai

peralatan multimedia dan Devi Lusiana yang menyediakan furnitur, juga

mengaku ditelepon Melia untuk mendapatkan diskon 40 persen. Melia

mengambil barang dari Agung senilai Rp 1,1 miliar dengan diskon 30

persen. Sementara dari Devi, Melia mengambil barang seharga Rp 54 juta

dan dengan diskon 40 persen. (amr)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved