Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » "Utusan Senayan" Catut Nama Menag

"Utusan Senayan" Catut Nama Menag

Written By Amir Sodikin on Kamis, 07 Maret 2013 | 21.41

Sidang perkara korupsi pengadaan laboratorium madrasah tsanawiyah dan

penggandaan Al-Quran kembali digelar Pengadilan Tindak Pidana Korupsi,

Kamis (7/3). Terungkap, "Utusan Senayan" menekan Ketua Unit Layanan

Pengadaan Kementerian Agama dengan menggunakan nama Menteri Agama.





Hal itu terungkap dalam sidang dengan terdakwa anggota Dewan

Perwakilan Rayat RI, Zulkarnaen Djabar, dan putranya Dendy Prasterya

ZP. Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Afiantara menghadirkan

saksi Muhammad Zen, Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal

Pendidikan Islam Kemenag yang waktu itu menjadi Ketua Unit Layanan

Pengadaan proyek APBN-P 2011 untuk laboratorium komputer MTS 2011.





Begitu ditanya jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi,

KMS A Roni, tentang kaitannya dengan para terdakwa, Muhammad Zen

bercerita peristiwa tanggal 16 November 2011. "Apa yang terjadi waktu

itu?" tanya Roni.





"Malam-malam kami kedatanan tamu ke kantor saya, sekitar 5-6 orang,

diantara mereka Fahd el Fouz dan Syamsu Rahman. Mereka memaksa agar

pemenang lelang segera diumumkan," kata Zen. Tamu tersebut merupakan

"Utusan Senayan", dalam hal ini DPR atau Zulkarnaen Djabar. Di ruangan

itu, Zen ditemani Pejabat Pembuat Komitmen Undang Sumantri.





"Di pertemuan itu, Fahd seolah-olah menelepon seseorang. Sepertinya

dia mengatakan 'Halo Pak Menteri, saya di ruang Bapak ini'," kata Zen.

Telepon yang seolah-olah ke menteri itu ia tangkap sebagai tekanan

agar segera mengumumkan pemenang lelang untuk perusahaan yang

diusulkan "Utusan Senayan".





Padahal, ULP belum menyelesaikan analisis terakhir secara detail

sehingga memang belum waktunya. Setelah seolah-olah menelepon menteri,

Fahd kemudian banyak bicara yang intinya agar paket lelang segera

diumumkan.

Untuk perusahaan yang harus dimenangkan dalam proyek pengadaan

laboratorium komputer MTS senilai Rp 38 miliar, Syamsu membawa nama PT

Batu Karya Mas, yang akhirnya menjadi pemenang. Keesokan harinya,

karena tekanan itu, ULP kemudian mengumumkan pemenangnya.





Padahal, dokumen penawaran PT BKM tidak memenuhi syarat yaitu tidak

mencantumkan spesifikasi komputer secara detail. Perusahaan yang

dicalonkan menang adalah PT Harvest.

Peristiwa malam itu membuat Zen berselisih dengan koleganya yaitu

Bagus Natanegara, Kepala Seksi Perlengkapan Bagian Umum Direktorat

Jenderal Pendidikan Islam. Bagus menyebut orang-orang yang datang

malam itu dengan kode "anak-anak jin". Karena itu, kalau sayang anak

istri dan sayang keluarga, maka ikuti saja skenario.





"Skenario apa?" tanya jaksa Roni. Zen menjawab, paket-paket atau

proyek tersebut sudah dikawal dan ada pemiliknya serta sudah

ditentukan pemenangnya. "Bagus bilang, laksanakan semua nanti akan

saya backup. Bagus itu Kepala Subbagian, bukan atasan saya namun dia

lebih senior," kata Zen.





Akibat tekanan itu, ditambah diamnya Pejabat Pembuat Komitmen,

diterjemahkan Zen sebagai persetujuan terhadap tekanan malam itu.

"Malam itu juga, dokumen disiapkan dan saya tanda tangan untuk

diumumkan besok," kata Zen.





Fahd juga marah-marah, jika tidak segera diumumkan maka dia mengancam

akan memindahkan dirinya dan staf lain ke Papua. "Fahd bilang

pengajian harus segera diumumkan agar jalan tidak segera becek.

Pengajian itu lelang, becek itu mungkin biar tak terlalu bermasalah,"

kata Zen. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved