Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , » SIDANG KORUPSI: Kita Lihat Perempuan Hakim Memimpin

SIDANG KORUPSI: Kita Lihat Perempuan Hakim Memimpin

Written By Amir Sodikin on Sabtu, 16 Maret 2013 | 15.28


Lihatlah perempuan hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Cantik, anggun, lembut, dan tidak kurang tegasnya. Kepalsuan para terdakwa di depan mereka mudah tercium.

Sebut saja Tati Hadianti yang memimpin sidang Neneng Sri Wahyuni dan Sudharmawatiningsih yang memimpin sidang dugaan korupsi bioremediasi PT Chevron Pacific Indonesia.

Di tengah dominasi pria, perempuan hakim ini menarik karena kuatnya karakter mereka. Mereka lihai menguber pertanyaan secara rinci yang kerap terlupakan pria hakim.

Perempuan hakim tidak mudah ditundukkan dengan kesaksian berbelit-belit. Kepalsuan dapat mereka baca karena psikologi dan gerak tubuh mereka pelajari. Lembut, perhatian, dan tegas bersenyawa jadi satu. Namun, ketika kepalsuan tercium, tak akan ada belas kasihan. Terdakwa Neneng yang selalu ”manja” di persidangan kena batunya.

Kamis (14/3), kesabaran Tati diuji pengajuan penundaan vonis Neneng. Publik juga mencatat, Neneng terlalu sering mengajukan penundaan sidang dengan alasan sakit yang sama, yaitu diare dan mag.

Didukung hasil pemeriksaan dokter Komisi Pemberantasan Korupsi, yang menyatakan Neneng bisa mengikuti persidangan, Tati membuat keputusan bersejarah. Untuk pertama kalinya di Pengadilan Tipikor Jakarta vonis dibacakan tanpa kehadiran terdakwa.

Keputusan berani yang melegakan rasa keadilan publik. Vonis yang dijatuhkan begitu perkasa dan meyakinkan, pidana penjara 6 tahun dari tuntutan jaksa 7 tahun. Vonis itu lebih berat dibandingkan vonis untuk suaminya, M Nazaruddin, 4 tahun 10 bulan penjara.

Belajar psikologi

Dalam sebuah sidang korupsi alat kesehatan dengan terdakwa pegawai Kementerian Kesehatan, Rustam Syarifuddin Pakaya, saat itu dihadirkan saksi Rosdiah Endang, adik mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Di sidang itu, Rosdiah tampak lemas, memelas, dan sulit merespons pertanyaan hakim.

Namun, Tati gigih bertanya setelah membaca gerak tubuh saksi yang tak jujur. Rosdiah sering mengatakan tidak tahu atau lupa dan menyebut sebagai orang awam. Bukan belas kasihan yang diterima Rosdiah, justru ancaman.

Hakim perempuan lainnya yang saat ini memimpin adalah Sudharmawatiningsih. Datanglah Senin, Rabu, atau Jumat ke Pengadilan Tipikor, Anda akan melihat bagaimana Sudharmawatiningsih begitu perkasa, berjibaku membuktikan dakwaan jaksa atas dakwaan bioremediasi Chevron.

Banyak orang berpendapat, dakwaan jaksa begitu lemah untuk menyeret para terdakwa dalam korupsi bioremediasi fiktif. Hakim Sudharmawatiningsih- lah yang teliti mengajukan pertanyaan bermutu.

Sudharmawatiningsih sangat detail dengan berbagai kemungkinan pelanggaran para terdakwa. Ia juga hafal jalannya sidang, berikut angka-angkanya. Misalnya, soal detail lokasi yang menggunakan kode angka, Sudharmawatiningsih tampak lebih menguasai dibanding jaksa atau penasihat hukum. ”Penasihat hukum diharapkan memperhatikan sidang dan mencatat (kode) lokasi,” kata Sudharmawatiningsih mengingatkan.

Bagi jaksa ataupun penasihat hukum, jangan sekali-kali tak menyimak sidang dan jangan sampai mengulang pertanyaan karena Sudharmawatiningsih hafal jalannya sidang dan substansinya. ”Penuntut Umum, jangan mengulang pertanyaan lagi, itu sudah ditanyakan,” sergah Sudharmawatiningsih.

Dibandingkan hakim lain, Sudharmawatiningsih pandai memformulasikan pertanyaan penasihat hukum atau jaksa yang kerap berputar-putar tak bermutu. Dengan hakim seperti mereka, upaya pemberantasan korupsi menemukan jalan lapangnya. (Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved