Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , » Ketika Presiden Belajar Jadi Warga Baru

Ketika Presiden Belajar Jadi Warga Baru

Written By Amir Sodikin on Senin, 29 April 2013 | 23.31


Rasanya, baru beberapa hari lalu Presiden kita, Susilo Bambang

Yudhoyono, bergabung dengan warga internet atau netizen. Di akhir

kepemimpinannya, ia membuka akun Twitter, itu berarti ia mencoba

membuka diri, tak hanya untuk Indonesia namun juga dunia.





Konsekuensinya, di dunia media sosial, Presiden harus merelakan egonya

karena tiap suara akan diberlakukan sama, tak mengenal kasta, tak

mengenal jabatan. Ia harus cepat merespons, banyak mendengar, dan rela

berbagi ketenaran dengan orang-orang di dunia nyata yang bukan

siapa-siapa.





Menarik dicermati bagaimana warga baru ini bergaul di dunia media

sosial. Mampukah ia menyesuaikan diri dan menjadi warga yang baik? Apa

yang sudah Presiden pelajari dari dunia baru ini?





Selama sepekan ini, Kompas dibantu dengan berbagai mesin algoritma

mencoba menelisik akun @SBYudhoyono, diantaranya menggunakan

PoliticaWave. Algoritma buatan PoliticaWave termasuk paling lengkap

karena sudah disesuaikan dengan Bahasa Indonesia sehingga mampu

memetakan sentimen percakapan terkait @SBYudhoyono.





Mesin analisa PoliticaWave dari 13-20 April menemukan fakta menarik.

Jumlah percakapan terkait akun @SBYudhoyono mencapai 818.978 dan

dengan jumlah akun yang membicarakan sebanyak 409.814. "Jumlah ini

fenomenal, rekor baru nasional karena telah melampaui rekor sebelumnya

yang dipegang Jokowi yang mencapai 250.000 percakapan," kata Yose

Rizal, Direktur PoliticaWave.





PoliticaWave memperkirakan distribusi percakapan terkait @SBYudhoyono

bisa menjangkau 295.579.339 pengguna. Hal itu dikarenakan user yang

terlibat pembicaraan termasuk akun-akun dengan follower banyak, baik

dari dalam negeri hingga luar negeri.





Akun yang membicarakan @SBYudhoyono jumlah followernya berkisar

101-500 follower, dan beberapa akun memiliki follower lebih dari

10.000. "Selain itu, jumlah percakapan per akun terkait @SBYudhoyono

juga cukup banyak karena mereka rata-rata melakukan 1-10 kali," kata

Yose.





Data itu menekankan tingginya antusiasme publik menyambut kehadiran

Presiden sebagai tetangga baru mereka. Seperti di dunia nyata, tak

semua suara ramah menyambut orang baru.





Dari analisa percakapan netizen, terungkap sebanyak 710.959 percakapan

bersikap netral, 56.174 percakapan bernada positif, dan 51.845 bernada

negatif. Sebagai langkah awal, data ini tak begitu buruk untuk

@SBYudhoyono.





Dari percakapan yang bernada negatif, di situlah SBY akan belajar

sesuatu dari dunia baru ini. Yose Rizal mengatakan, sentimen negatif

disumbangkan dari beberapa isu, misalnya miripnya akun SBY dengan

Presiden Amerika Serikat Barack Obama, tweet yang cenderung normatif

dan pencitraan, serta akun-akun yang di-follow akun @SBYudhoyono yang

kebanyakan akun selebritas.





Pengkritik pedas SBY justru orang-orang biasa yang bukan siapa-siapa.

"Malu ga sih kalau avatar + bio SBY yang mirip Obama jadi berita di

Amerika?" begitu komentar @mututucin.





Dari sentimen negatif ini, SBY akan belajar bahwa sesuatu yang tak

original dan menjiplak itu tak mendapat tempat di media sosial dan

mereka membencinya. "Twitter SBY sama dengan Barack Obama, bio dan

headernya sama, cieeh plagiat :D," sambar @naohutabarat.





Akurasi adalah pelajaran kedua yang bisa dipetik. Administrator akun

@SBYudhoyono pernah salah mengutip kata-kata mutiara, "Speak is

silver. Silence is golden", yang kemudian diralat oleh admin menjadi

"Speech is silver. Silence is golden".





Namun, kesalahan admin itu sudah menyebar dan jadi bahan olok-olok.

Bagusnya, netizen paham kalau itu bukan SBY, terlihat dari tweet tanpa

tanda * SBY*. "Sembrono! Pake akunnya RI 1 salah ketik!" kata

@ninokhariyani.





Netizen akhir-akhir ini memang banyak mengkritik admin yang mengelola

akun Presiden karena perilakuknya dianggap tak sesuai. Salah satu yang

menghebohkan adalah akun @SBYudhoyono yang mem-follow akun-akun dari

para selebritas.





"SBY mungkin tidak, tapi adminnya yang kegenitan," begitu @_khadafy

menanggapi kasus tersebut. "SBY gaul banget, nge-follow artis-artis,

kenapa bukan rakyat saja yang di-follow," kata @zhrismi.





Administrator akun seorang Presiden harusnya dipegang orang yang paham

kebijakan publik dan melek teknologi informasi sehingga bisa produktif

memanfaatkan teknologi. Banyak yang berharap, admin Twitter Presiden

harunya seorang pakar komunikasi atau pakar kebijakan publik.





"Miminnya (istilah untuk administrator) akun @SBYudhoyono makan gaji

buta tuh. Hampir semua tweet dibuat SBY sendiri," kata @sigitwid. SBY

memang menandai tweet dari dirinya sendiri dengan kode * SBY* sehingga

orang bisa menghitung mana tweet dari SBY pribadi mana yang dari staf

administrator. "35 dari 42 tweet @SBYudhoyono bertanda * SBY* artinya

presidennya lebih banyak ngetweet daripada stafnya, mungkin stafnya

lebih sibuk kerja," kata @LiongkyTan.





Presiden juga harus membiasakan dengan pengguna media sosial yang

cerewet dan sering usil dengan hal-hal sepele. Akun @dipanggilaing

mengkritik tweet SBY yang sering diselingi dengan gambar, yang menurut

pengkritik akan menunjukkan perbedaan tingkat sosial. Padahal, niatan

SBY pastinya sebaliknya, agar rakyat mengenal lebih dekat Presidennya.





Banyak pula tweet bernuansa dukungan terhadap kebijakan Presiden dan

itu ditanggapi dari kalangan beragam, terutama anak-anak muda. "Memuji

langkah Pak @SBYudhoyono yang action dulu baru nge-tweet, semoga tetap

begtu di hari berikutnya," kata @subosito menanggapi tweet SBY

terhadap kecelakaan Lion Air di Bali.





Respons SBY terhadap kejadian-kejadian terkait bencana baik di tanah

air maupun luar negeri dirasa makin cepat dan membaik, setelah

sebelumnya dianggap terlambat menanggapi masalah Ujian Nasional. "Tadi

pagi saya mau twit 'Kok SBY ga ngetwit tentang #prayforboston? Dia

belum biasa sama kecepatan twitter', gud deh barusan dia twit ini

untuk Obama," kata @BillyBoen.





Daripada tidak



Guru besar psikologi politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia,

Prof Hamdi Muluk, mengaku agak kaget dengan keputusan SBY membuka diri

dengan membuka akun Twitter. "Kenapa tidak dari dulu punya akun

Twitter, ketika gaya komunikasi SBY dikeluhkan banyak pihak karena

selalu lambat merespons," kata Hamdi.





Misalnya ketika SBY lambat merespons kisruh KPK vs Polri beberapa

waktu lalu, sebenarnya bisa ditutupi dengan respons cepat di Twitter.

Tapi, langkah SBY ini lebih baik daripada tidak sama sekali.





Hingga kini, setelah SBY memiliki akun Twitter, Hamdi menilai belum

banyak mengubah banyak gaya komunikasi SBY. Walau beberapa sudah

tampak responsif, misal ketika ada gonjang-ganjing Ujian Nasional, SBY

memberi respons walaupun belum secepat yang diharapkan.





"Jika gayanya sudah berubah, ketika kasus eksekusi Susno Duadji

mencuat, seharusnya SBY cepat tanggap di hari pertama pemberitaan

kasus itu," kata Hamdi. Terlepas dari semua itu, SBY tampak telah

berusaha memperbaiki gayanya walaupun terlambat.





"Harapannya, SBY semakin tanggap terkait kebijakan publik. Solusi yang

dibutuhkan adalah bersifat kebijakan, bukan sekadar menjadi sinterklas

pada kasus per kasus, misal terkait kasus anak 12 tahun Tasripin,"

papar Hamdi.





SBY memang sempat mengomentari pemberitaan media massa terkait kisah

Tasripin, anak 12 tahun yang bekerja sebagai buruh tani untuk

menghidupi adik-adiknya. "Saya akan segera mengutus Staf Khusus saya,

bekerja sama dengan Gubernur Jateng, untuk mengatasi persoalan hidup

Tasripin," kata @SBYudhoyono.





SBY memberi solusi konkrit, namun selaku kepala pemerintahan, yang

dibutuhkan lebih ke kebijakan. Misalnya, memerintahkan kepada Menteri

Sosial untuk mendata Tasripin-Tasripin lain kemudian membuat kebijakan

ikutan bagaimana mengatasinya.





Kini, SBY harus legowo dengan berbagai kemungkinan. Pengkritik dia

paling tajam belum tentu seorang pakar, bisa jadi seorang anak SMU

yang geram dengan ujian nasional. Pembisik kebijakan dia belum tentu

seorang akademisi bergelar profesor, bisa jadi ia hanya buruh.





Pengumpul pendukung dia belum tentu dari Demokrat, karena faktanya

akun Fatin Shidqia Lubis di Facebook, paling banyak mengumpulkan

pendukung.





Penggerak spirit dia belum tentu seorang kiai, tapi bisa jadi sebuah

tweet dari antah berantah yang berisi tautan kisah "Tasripin". Silakan

klik tautan yang demikian Pak Presiden, dan jangan salah klik tautan

yang dikirim @vickyvette yang tempo hari getol mengajak kenalan. (Amir

Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved