Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » MEDIA SOSIAL: LP Cebongan, Antara Informasi Bermakna dan Rekayasa

MEDIA SOSIAL: LP Cebongan, Antara Informasi Bermakna dan Rekayasa

Written By Amir Sodikin on Jumat, 12 April 2013 | 15.17

@fahmi_rizkillah: Tuh kan, kemarin katanya bukan?

@septianprmana: Jujur itu Hebat! Salut buat TNI!

@jiman_zee: Mending mereka ini yang gantiin Timnas sepakbola.

@alamsyahpt: Next target koruptor di cipinang.

@nurulhadi: Gila! Kopassus aja bebas nembak seenak udele, gimana yang nggak khusus?

@ckndoong: Sekarang harus mencontoh yang mana?

Begitulah berbagai respons terkait pengumuman keterlibatan 11 anggota Komando Pasukan Khusus dalam penyerbuan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta. Ada yang mendukung Kopassus, ada yang menghujat, ada pula yang bingung.

Semua informasi seperti saling menggembosi. Publik dibuat bingung dengan membanjirnya informasi lantaran sukses mencampuradukkan ketakutan, harapan, dan realitas.

Penyerbuan LP Cebongan pada 23 Maret 2013 mendapat sorotan gegap gempita, termasuk di media sosial yang berisik tabiatnya. Di media sosial, tanpa ditanya, pendapat diungkapkan begitu saja. Kerap lebih jujur karena tanpa tekanan, meski banyak yang direkayasa.

Informasi dan perbincangan soal Cebongan memuncak ketika Ketua Tim Investigasi TNI AD Brigadir Jenderal Unggul K Yudhoyono mengungkapkan, 11 anggota Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan, Kartasura, Jawa Tengah, terlibat dalam penyerangan dan pembunuhan itu.

Publik pengguna internet (netizen) di media sosial, seperti Twitter dan Facebook, forum- forum di berbagai media massa online, blog, juga Youtube, didominasi usia muda yang sadar informasi. Namun, di luar dugaan, pendapat mereka untuk kasus ini terbelah jadi tiga kelompok.

Yose Rizal, Direktur PoliticaWave, lembaga yang sering memantau percakapan politik di media sosial, mengatakan, dari sampel 619 percakapan pada 4-6 April terkait Cebongan, 54 persen bernada netral, 34 persen positif mendukung TNI, dan 12 persen bernada negatif.

Netizen yang mencoba netral hanya memublikasikan kembali informasi tanpa komentar. ”Untuk respons positif, mereka mengapresiasi tindakan 11 anggota Kopassus dan menganggap sebagai tindakan kesatria memberantas premanisme,” katanya.

Cukup mengejutkan karena volume diskusi di media sosial begitu intensif, yang menganggap tindakan anggota Kopassus tersebut heroik karena berani menghabisi tahanan yang disangka preman yang sebelumnya membunuh senior mereka. ”Salah satu netizen mengakui, semenjak peristiwa ini, beberapa preman di lingkungan sekitarnya seolah tiarap,” kata Yose.

Dari pantauan Kompas, selain menyebar informasi di jejaring sosial, aksi terakhir netizen pro-Kopassus membuat halaman di Facebook: ”Satu Miliar Dukungan untuk 11 Kopassus”.

Namun, masih banyak juga yang menentangnya. ”Saya senang preman dibasmi, tapi bukan pakai cara-cara preman juga plus cara pengecut. Kalau membasmi preman dengan cara pengecut semua orang bisa melakukannya,” begitu komentar pemilik akun liga21 di sebuah forum online.

Pemilik akun revolver di sebuah diskusi online mencoba kritis. Katanya, ”Saat demokrasi lemah dan gagal, antitesa demokrasi yang akan jadi pilihan. Ketika demokrasi menghasilkan pemimpin korup, degradasi moral, dan hukum yang bisa dilelang, maka demokrasi akan kembali dikubur ramai-ramai oleh rakyat.”

Pesan di balik pesan

Di balik beragamnya sikap para netizen, Yose melihat ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan. ”Peristiwa ini dianggap dapat menjadi momentum memberantas premanisme. Saking jengkelnya, ada pula yang berpendapat sebaiknya penembak misterius dihidupkan kembali,” ujar Yose.

Ekspresi kekecewaan netizen terhadap kinerja penegakan hukum, terutama kepolisian yang lemah di hadapan preman, seolah ditumpahkan dalam kasus Cebongan. Akibatnya, penyerbuan oleh anggota Kopassus yang mengangkangi kemanusiaan dan hukum justru disambut sebagai langkah heroik.

Dalam sebuah forum, akun Ko Chandra berkomentar, ”Cuma Kopassus yang bisa bertindak terhadap preman langsung babat habis, tapi kalo yang satunya ya nego dulu hehehe,” begitu komentar Ko menyindir aparat satuan lain.

Di luar soal pro dan kontra, isu ini juga diseret ke ranah politik praktis. ”PoliticaWave menemukan hal menarik. Salah satunya hubungan antara pengungkapan pelaku dan citra Pramono Edhie Wibowo, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, yang juga ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” kata Yose.

Dari pemantauan PoliticaWave terlihat, apresiasi kejujuran tidak hanya diberikan kepada TNI, tetapi juga ditujukan khusus kepada Pramono Edhie atas pengungkapan kasus itu.

Banyaknya kemungkinan atas sebuah kasus besar tanpa tahu mana yang bermakna dan substansial memang menjadi kecenderungan zaman ini. Kini, kita hidup di dunia di mana informasi datang berlimpah-limpah dan beragam kemungkinan mendapat pembenaran sehingga substansi seperti digembosi.

(AMIR SODIKIN/WISNU NUGrOHO)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved