Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » MODUS KORUPSI: ”Panglima Senayan” dan Kiprah Pengusaha Busuk

MODUS KORUPSI: ”Panglima Senayan” dan Kiprah Pengusaha Busuk

Written By Amir Sodikin on Selasa, 02 April 2013 | 15.19

”Setiap kali komunikasi dengan Fahd (Fahd el Fouz, seorang pengusaha) ada masalah, Fahd minta tolong Pak Dendy (Dendy Prasetya, terdakwa) untuk telepon seseorang yang disebut panglima,” kata konsultan PT Adhi Aksara Abadi sekaligus Direktur PT Sinergi Pustaka Indonesia, Abdul Kadir Alaydrus. Panglima yang dimaksud adalah seseorang dari Senayan.

Oleh Amir Sodikin

Pekan lalu, Pengadilan Tipikor Jakarta kembali menyidangkan dua terdakwa perkara korupsi penggandaan Al Quran dan pengadaan laboratorium madrasah tsanawiyah, yaitu anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Zulkarnaen Djabar, dan anaknya, Dendy Prasetya Zulkarnaen Putra. Sidang tersebut telah berutang budi pada kesaksian Abdul Kadir Alaydrus.

Di luar perkiraan banyak pihak, Abdul Kadir memberi keterangan begitu lancar dan tampak jujur, tak ada yang ditutupi. Versi Abdul Kadir lebih banyak menceritakan interaksinya dengan broker proyek kepercayaan terdakwa, yaitu Fahd el Fouz.

Kejujuran Abdul Kadir tentu saja semakin membuka mata bagaimana orang-orang Senayan di DPR menjadi faktor pendukung utama, bahkan poros utama upaya korupsi. Panglima dari Senayan, begitulah informasi yang disampaikan Abdul Kadir. Istilah ”panglima Senayan” itu merujuk pada sosok kuat di Kompleks DPR yang digambarkan bisa menyelesaikan segala masalah yang menghambat upaya mengelola proyek di Kementerian Agama (Kemenag).

”Senayan itu yang dimaksud di mana? Apakah lapangan bola di Senayan,” tanya jaksa penuntut umum KMS A Roni kepada Abdul Kadir.

Tentu saja, kata Abdul Kadir, persepsi Senayan ini adalah nama lain dari Kompleks Gedung DPR.

Dalam setiap persoalan yang muncul, Fahd selalu meminta tolong Dendy agar menelepon sang panglima. Belakangan, sekitar April 2012, Abdul Kadir sering mendengar sebutan ”bos” dan ”bapak”, selain sebutan panglima.

Baru ketika peristiwa dugaan korupsi itu terbongkar di media massa, Abdul Kadir tahu ternyata yang dimaksud sang panglima itu adalah terdakwa yang juga ayahanda Dendy. Dialah Zulkarnaen Djabar.

Panglima selalu ditelepon jika ada kasus, misalnya waktu pengumuman lelang lambat dan tidak segera dibuka. Peran panglima adalah menerobos berbagai masalah yang tak bisa atasi Fahd di lapangan. Panglima menjadi penjamin lancarnya jalan operasi.

Abdul Kadir dan perusahaannya, PT Adhi Aksara Abadi (A3I), terlibat dalam beberapa proyek yang dianggap milik Senayan atau disebut Fahd sebagai ”dana kuning” yang dimiliki organisasi Partai Golongan Karya, dalam hal ini Gema Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR). PT A3I pernah mengerjakan proyek penggandaan Al Quran tahun 2011 senilai Rp 5,6 miliar pada proyek pertama. Pada proyek kedua, nilainya Rp 22,5 miliar. Sementara PT Sinergi Pustaka Indonesia (SPI) pernah mengerjakan proyek penggandaan Al Quran tahun 2012 senilai Rp 50 miliar.

Pada proyek dengan nilai Rp 5,6 miliar, Abdul Kadir belum digandeng Fahd. Baru pada proyek Rp 22,5 miliar dan Rp 50 miliar, kubu Fahd mendekati PT A31 dan PT SPI.

Abdul Kadir sering berinteraksi dengan Fahd (yang juga Ketua Umum Gema MKGR) dan anak buah Fahd, yaitu Vasco Ruseimy (Ketua Harian Gema MKGR), Syamsurachman (pengurus Gema MKGR), dan Dendy (Sekjen Gema MKGR). Pertemuan itu menjadi ajang untuk menekan Abdul Kadir agar tidak lagi ikut tender atau jika masih ingin ikut tender harus mengikuti aturan yang mereka buat.

”Dia katakan begini, ’Kami punya pekerjaan di sini, itu pekerjaan kami, kalau mau ikut tender, maka ikuti keinginan kami’,” kata Abdul Kadir menirukan Fahd.

Jika Abdul Kadir tetap mau ikut tender, kubu Fahd menawarkan kompensasi berupa bagi hasil yang nilainya 15 persen dari nilai proyek. Pembagian kompensasi itu akhirnya disetujui Abdul Kadir.

Jagoan lapangan

Panglima boleh saja berperan di kondisi-kondisi genting, tetapi perlu dicatat juga bahwa pelobi aktif dan jagoannya di lapangan adalah Fahd. Fahd tak hanya melobi fee 15 persen, tetapi juga berperan penting dalam menekan orang-orang Kemenag dan pihak swasta lain yang berusaha menghalangi langkah Fahd untuk mengegolkan perusahaan yang dibawanya.

Ketika proyek 2011 senilai Rp 22,5 miliar sempat ada kendala karena ada perusahaan pesaing, yaitu PT Macanan yang menduduki urutan pertama, Fahd-lah yang menjadi penentu pelibasan PT Macanan agar tidak menjadi pemenang. Kubu Fahd langsung bertindak.

”Pak Fahd katanya marah-marah di hadapan pejabat pemerintah. Katanya, ’Kita sudah deal, tapi kok A3I nomor dua’,” kata Abdul Kadir.

Seni lobi Fahd tak hanya sekadar marah. Sempat bertemu dengan pihak PT Macanan, kemungkinan Fahd menyetujui sebuah deal ”tahu sama tahu” dengan PT Macanan.

Abdul Kadir menduga, Fahd meminta Macanan mundur dari lelang. Namun, bukan sekadar meminta mundur. PT A3I diminta memberikan kompensasi mundurnya PT Macanan berupa memberikan sebagian pekerjaan penggandaan Al Quran kepada PT Macanan.

Setelah bepergian dari luar kota dan pengumuman pemenang, Abdul Kadir kemudian menemui PT Macanan untuk menjalankan strategi Fahd. Pada akhirnya, Macanan memang diberi jatah proyek oleh A3I.

Dua perusahaan Abdul Kadir yang dibawa Fahd akhirnya memenangi proyek. Fee untuk kubu Fahd pun digelontorkan senilai Rp 9,25 miliar untuk dua proyek sekaligus. Fee diberikan dalam bentuk cek yang diserahkan kepada Syamsurachman.

Pengaruh panglima Senayan melalui telepon dan sepak terjang pengusaha busuk di lapangan telah bersenyawa menciptakan kekuatan untuk menjalankan rencana korupsi.

Celakanya, yang dikorupsi tersebut adalah dana penggandaan Al Quran.(Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved