Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , , » Fathanah Mengaku Utusan Ustadz Luthfi

Fathanah Mengaku Utusan Ustadz Luthfi

Written By Amir Sodikin on Senin, 27 Mei 2013 | 00.39




*Luthfi Pernah Panggil Sesmentan

Ahmad Fathanah, tersangka kasus dugaan suap daging impor, ketika melobi pejabat Kementerian Pertanian memperkenalkan pertama kali sebagai "Ustadz Ahmad" yang merupakan utusan Ustadz Luthfi. Namun, upaya tersebut tak membuahkan hasil karena permohonan penambahan kuota impor daging ditolak.

Demikian terungkap dari keterangan saksi Syukur Iwantoro, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (22/5).

Sidang lanjutan tersebut untuk terdakwa Arya Abdi Effendy, Direktur Operasional PT Indoguna Utama, dan Juard Effendi, Direktur Human Resources Development dan General Affair Indoguna. Sidang dipimpin Ketua Mejelis Hakim Purwono Edi Santosa.

Terdakwa Juard pada awal 8 November 2012 bersama Elda Devianne, Komisaris PT Radina, memang membawa surat permohonan penambahan kuota impor 500 ton kepada Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP), Suharyono. Suharyono kemudian meneruskannya pada Syukur.

Fathanah kemudian melobi Syukur dengan harapan permohonan PT Indoguna itu disetujui. "Memang ada seseorang yang datang ke kantor saya sekitar November menjelang maghrib," kata Syukur.

Orang yang dikenal sebagai Ahmad Fathanah itu mengaku sebagai utusan Ustadz Luthfi. Tujuannya meminta bantuan agar penambahan impor daging dikabulkan.

Di kepala Syukur, nama Ustadz Luthfi sudah familiar. Dia mengasosiasikan nama itu dengan Luthfi Hasan Ishaaq, Presiden Partai Keadilan Sejahtera saat itu. "Lalu saya katakan semua sudah ada aturan mainnya," kata Syukur.

"(Fathanah) Masih berusaha lagi nggak?" tanya hakim ketua Purwono. "Dia katakan, kalau begitu salinan suratnya dibawa saja Pak Syukur. Karena memaksa, saya bawa saja tapi saya tinggal di meja," kata Syukur.

Saksi Ahmad Junaedi, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pascapanen Kementan mengatakan, permohonan itu tak sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No 50 tahun 2011. "Permohonan itu menyalahi periodesasi kapan diberikan. Penambahan juga harusnya dibahas dulu di tingkat rapat koordinasi terbatas," kata Junaedi.

Akhirnya permohonan itu ditolak dengan penerbitan surat dari PPVTPP tanggal 26 November 2012. Keesokan harinya, PT Indoguna kembali mengajukan permohonan tambahan kuota 5100 ton dengan mengajak tiga perusahaan grup Indoguna.

"Waktu itu permohonan melalui loket. Langsung kita buat surat penolakan karena sudah tahu berdasarkan pegangana surat sebelumnya, ditolak dengan surat resmi 30 November 2012," kata saksi Ewin Sueb, Kasubdit Sarana III di Kementan.

Fathanah setelah tahu permohonan Indoguna ditolak, sempat mengontak Sekretaris Menteri Pertanian Baran Wirawan. Dalam sidang kemarin, saksi Baran mengaku pernah ditelepon Fathanah agar membantu meloloskan permohonan penambahan kuota impor daging.
"Fathanah menelepon saya, menceritakan usahanya digagalkan Pak Syukur. Dia minta saya hubungi Pak Syukur untuk membantu. Karena bukan kewenangan saya, tidak saya tanggapi," kata Baran.

Luthfi Panggil Sesmentan
Terungkap pula ternyata Luthfi sempat memanggil Baran ke kantor DPP PKS. Cara seperti itu biasa dilakukan Luthfi jika gagal mengontak Mentan secara langsung. Dalam pertemuan pada Januari 2013, Luthfi menitipkan pesan kepada Mentan soal krisis daging.

"Kata Pak Luthfi, Pak Menteri diminta agar lebih peka terhadap problem yang dihadapi masyarakat," kata Baran. Problem yang dimaksud adalah tingginya harga daging dan bercampurnya daging sapi dengan daging celeng dan tikus.

Baran pun menyampaikan pesan itu kepada Mentan. "Kemudian apa tanggapan Pak Menteri?" tanya Jaksa Suryanelly. Baran mengatakan, Mentan sudah tahu adanya persoalan itu dan akan merespons persoalan.

Permohonan ketiga
Dalam sidang kemarin, saksi Ewin mengatakan setelah permohonan kedua tak ada lagi permohonan ketiga yang diajukan ke Kementan. Di persidangan sebelumnya terungkap, permohonan ketiga sebanyak 8.000 ton tak sempat diajukan ke Kementan.

Namun jaksa penuntut umum menyebutkan, permohonan ketiga disertakan dalam dokumen yang diberikan ke Mentan. Dokumen berisi data krisis daging tersebut disiapkan Fathanah dan Indoguna atas permintaan Luthfi. Namun, Fathanah mengaku tak tahu jika dalam berkas tersebut ada surat permohonan kuota 8.000 ton.

Dalam sidang sebelumnya, Fathanah mengaku menyerahkan dokumen itu ke Luthfi. "Saya serahkan data kepada Ustadz Luthfi, tapi selanjutnya saya tak tahu apa manuver-manuvernya," kata Fathanah.

Luthfi menjanjikan akan menyampaikan data itu kepada Mentan besok paginya namun AF tak tahu apakah benar-benar dilakukan. "Katanya Ustadz besok ke Pak Menteri tapi tak ada laporan balik," kata AF.

Luthfi sendiri mengaku memberikan dokumen ke Mentan namun sama sekali tak terkait pengajuan kuota, apalagi terkait PT Indoguna. Dokumen tersebut ia sebut sebagai "second opinion" untuk menyelesaikan krisis daging.

Sidang sebenarnya juga mengagendakan pemeriksaan saksi kunci lainnya yaitu Ahmad Zaky. Namun, untuk kedua kalinya Zaky tak hadir dalam sidang kemarin. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved