Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » Kontraktor Chevron: Ahli Kejagung Salah Ambil Sampel

Kontraktor Chevron: Ahli Kejagung Salah Ambil Sampel

Written By Amir Sodikin on Jumat, 03 Mei 2013 | 22.17

Sidang perkara dugaan bioremediasi fiktif PT Chevron Pacific Indonesia

(CPI) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berlangsung hingga larut

malam. Kali ini, Direktur PT Green Planet Indonesia (GPI), Ricksy

Prematuri menyampaikan nota pembelaan atau pledoi atas tuntutan jaksa

penuntut umum pada Kejaksaan Agung.



Ricksy dituntut pidana penjara 12 tahun, denda Rp 1 miliar subsider

kurungan 6 bulan, dan uang pengganti kerugian negara 3,08 juta dollar.



Ricksy tak habis pikir dengan cara kerja kejaksaan yang terkesan pamer

kekuasaan dengan didasarkan pada laporan keterangan ahli Edison

Effendi. Padahal, Edison memiliki kepentingan dalam kasus ini.



Edison adalah peserta beberapa kali tender di PT Chevron yang tak

pernah menang namun dijadikan ahli dalam menguji sampel tanah

tercemar, referensi utama menyusun dakwaan, hingga dihadirkan menjadi

ahli di persidangan.



Selain Edison, dua ahli lain yang digunakan yaitu Prayitno dan Bambang

Iswanto. Hanya saja, keterangan ketiganya dalam Berita Acara

Pemeriksaan yang dilakukan penyidik Kejagung, isinya sama termasuk

titik komanya, dan mereka juga pernah bekerja di satu perusahaan jasa

konsultan pengolahan limbah.



"Sampel diuji di laboratorium dadakan oleh para ahli Kejaksaan yang

dipimpin Edison, jelas laboratoriumnya tak terakreditasi dan melanggar

peraturan menteri tentang laboratorium lingkungan," kata Ricksy.



Cara sampling yang dilakukan ahli Edison juga menyimpang. Sampling

tanah terkontaminasi minyak bumi hanya dilakukan di SBF (Soil

Bioremediation Facility) Pematang pada tanggal 11 April 2012. "Padahal

kontrak PT GPI dengan PT Chevron telah berakhir 24 Februari 2012,"

kata Ricksy.



Itu pun, sampling tanah terkontaminasi minyak bumi diambil oleh

Kejaksaan di stockpile (empat pengumpulan tanah tercemar) didalam SBF

dan di lokasi buangan tanah terkontaminasi minyak yang telah berhasil

diolah dengan TPH (Total Petroleum Hydrocarbon) dibawah 1%.





Padahal PT GPI sesuai kontrak melakukan pekerjaan jasa bioremediasi

yaitu seluruhnya dilakukan di sel pengolahan didalam SBF, bukan di

stockpile apalagi lokasi buangan.







Salah ambil sampel



Ahli kejaksaan berkesimpulan pekerjaan bioremediasi nihil karena salah

menguji sampel tanah. "Mereka menguji tanah dari sumber tanah di

Minas. "Padahal PT GPI tak pernah bekerja di Minas, melainkan di

Sumatera Light North yaitu di Libo, Pematang, dan Mutiara, tiga jam

dari Minas," kata Ricksy.





Sampel tanah terkontaminasi minyak bumi sebagai alat bukti diuji pada

13 Juni 2012, yaitu 60 hari sejak sampel diambil dari lapangan di SBF

Pematang Duri. Padahal berdasarkan semua referensi yang ada, pengujian

harus dilakukan paling lambat 14 hari sejak sampel diambil dari

lapangan. "Dengan demikian, hasil pengujian dianggap bias tidak bisa

dipertanggungjawabkan," kata Ricksy.





"Sampel tanah terkontaminasi minyak bumi sebagai alat bukti yang di

rekayasa ini diuji para ahli Kejaksaan yang tidak obyektif, tidak

kompeten, tidak dikenal, dan yang paling menyedihkan adalah peserta

tender yang selalu kalah," kata Ricksy.





Menurut Ricksy, Edison tahun 2007 mengikuti tender atas nama PT Sinar

Mandau Mandiri, sedangkan pada tahun 2011 dengan membawa bendera PT

Putera Riau Kemari.





"Atas dasar apa Kejagung menunjuk Edison Effendi, Bambang Iswanto dan

Prayitno sebagai ahli? Padahal mereka tidak tercantum sebagai ahli

bioremediasi di KLH atau jadi dewan pakar Bioremediasi," protes

Ricksy.



Ketiga ahli juga tidak dikenal oleh Forum Bioremediasi Indonesia dan

KLH. Mereka juga bukan ahli yang berpengalaman dalam pemrosesan

bioremediasi landfarming di luar lahan (exsitu).



PT Chevron, menurut Ricksy, adalah perusahaan terbesar yang

berpengalaman mengelola bioremediasi landfarming exsitu di Indonesia.

"Tidak ada satu pun di Indonesia yang mengelola bioremediasi sebesar

PT Chevron. Kami lah PT Chevron dan PT GPI yang paling ahli dan

berpengalaman mengelola bioremediasi landfarming exsitu di Indonesia,"

papar Ricksy. (Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved