Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , , » Misteri Pengajuan Kuota 8.000 Ton

Misteri Pengajuan Kuota 8.000 Ton

Written By Amir Sodikin on Senin, 27 Mei 2013 | 00.43





"Dia tetangga Mentan, rumahnya di Bogor, satu almamater dengan Mentan, kadang-kadang dia bersama Menteri. Saya minta dia komunikasikan ke Menteri," kata Luthfi Hasan Ishaq (LHI) ketika menggambarkan sosok Baran Wirawan, Sekretaris Menteri Pertanian.

Pada Januari 2013, baik LHI maupun Baran di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, sama-sama memberi keterangan senada terkait pertemuan keduanya di DPP Partai Keadilan Sejahtera. Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi, Suryanelly sempat bertanya, LHI selaku politikus dan Presiden PKS apa kewenangannya bisa memanggil Sesmentan?

"Saya bilang, Anda sudah pulang atau belum. Kalau belum mampir ke DPP. Saya menegaskan kembali kepada dia soal krisis daging yang belum ada solusinya. Itu pas mau pulang," jawab LHI. Pengakuan LHI ini melegakan karena beberapa hari setelahnya Baran mengakui hal yang sama.

Hanya saja, majelis hakim yang diketuai Purwono Edi Santosa, terheran-heran kenapa bisa seorang Sesmentan mau dipanggil oleh orang yang bukan atasannya. "Beliau sebagai kolega Menteri. Kalau enggak nyambung telepon Menteri, beliau hubungi saya," jawab Baran.

Hanya saja, ketika ditanya apakah Baran kader PKS, LHI masih menjawab ragu. "Saya enggak tahu dia punya kartu anggota atau tidak," jawabnya diplomatis.

Kesaksian LHI ini penting karena bagi KPK, indikasi LHI ikut bermain dalam persoalan krisis daging ini cukup kuat karena sampai melobi-lobi Sesmentan untuk menyampaikan pesan ke Mentan. Intinya, Mentan diharapkan peka terhadap persoalan krisis daging.

Namun, di persidangan juga harus diakui betapa kuatnya "pertahanan" kubu Mentan. Hingga sidang keempat pemeriksaan saksi-saksi, sosok Mentan terasa tangguh tak mempan dengan lobi-lobi PT Indoguna yang dimotori broker Fathanah.

Tak bisa dipungkiri, LHI dan Mentan punya kegelisahan sama soal krisis daging. Mereka sama-sama malu, tatkala Menteri Pertanian dipegang kader partai Islam, justru daging sangat mahal, itupun bercampur dengan celeng dan tikus.

Itulah pemicu gerakan LHI untuk ikut membantu menyelesaikan krisis daging. Berbagai rangkaian lobi dan upaya memberi masukan yang diistilahkan sebagai "second opinion" dilakukan LHI. Namun celakanya, teman karib selama kuliah di Arab, Fathanah, justru memberi bisikan yang membawa LHI menuju jurang terdalam selama karir hidupnya.

Di persidangan pekan lalu, LHI dan AF sama-sama memberikan kesaksian di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, untuk terdakwa dari PT Indoguna Utama yaitu Arya Abdi Effendy dan Juard Effendi.

AF secara tegas telah membentengi LHI dengan mengatakan uang Rp 1 miliar yang ia terima dari PT Indoguna tak ada kaitannya dengan LHI. Uang tersebut akan digunakan untuk seminar uji publik soal krisis daging dan juga untuk keuntungan pribadi AF.

Soal seminar krisis daging ini memang sering disebut di persidangan namun tak pernah ada indikasi seminar itu akan digelar oleh seorang broker bernama Fathanah. Fathanah bukanlan orang yang paham perdagingan. Jika seminar akan dilakukan oleh Indoguna, itu masih bisa diterima akal sehat.

Di persidangan, semua saksi menyatakan tak pernah ada pengajuan kuota impor 2013 sebesar 8.000 ton yang sempat diajukan ke Kementan, setelah dua kali pengajuan ditolak Kementan. Pengajuan kuota 8.000 ton ini penting di mata KPK karena digunakan untuk menjerat keterlibatan LHI.

Saksi Elda Devianne, Komisaris PT Radina, yang ikut membantu mengurus kuota, menyatakan memang pernah mengajukan kuota itu ke Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Suharyono, namun ditolak mentah-mentah. Alasannya karena belum ada perintah dari Mentan terkait kuota impor 2013.

Hanya saja, dalam dakwaan jaksa penuntut umum KPK, disebutkan setelah pertemuan itu Elda menyerahkan berkas permohonan itu ke AF untuk disampaikan kepada LHI. AF dan LHI mengakui soal dokumen yang akan diberikan ke Mentan. Namun, AF mengaku tak tahu jika dokumen itu berisi surat permohonan.

Dokumen yang diberikan AF kepada LHI itu dianggapnya hanya berisi data krisis. AF pada persoalan ini hanya melempar masalah ke LHI. "Saya serahkan data kepada Ustadz Luthfi, tapi selanjutnya saya tak tahu apa manuver-manuvernya," kata Fathanah.

Kini, KPK harus bekerja keras membuktikan jika LHI memang menyodorkan surat permohonan itu ke Mentan. Merujuk pada pernyataan Mentan Suswono yang sudah tak percaya pada AF, karena AF pernah membohongi istrinya sendiri ketika berada di sebuah hotel bersama sorang perempuan, kiranya kita juga patut curiga atas kejujuran AF kali ini.

Masih banyak simpang siur keterangan para saksi. Mereka diharapkan bisa segera dikonfrontir satu sama lain agar kasus ini bisa terang benderang. (Amir Sodikin)

Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved