Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , , , » Saksi: Lobi AF Atas Izin LHI

Saksi: Lobi AF Atas Izin LHI

Written By Amir Sodikin on Kamis, 16 Mei 2013 | 00.08


Sidang perkara dugaan suap daging impor yang melibatkan PT Indoguna
Utama mulai menyinggung petinggi partai. Saksi dari Komisaris PT
Radina, Elda Devianne Adiningrat, mengungkapkan, dalam lobi-lobi
mengurus perizinan kuota, Ahmad Fathanah selalu mengatasnamakan Luthfi
Hasan Ishaaq (LHI).



Demikian terungkap dalam sidang dengan terdakwa Arya Abdi Effendy,
Direktur Operasional PT Indoguna, dan Juard Effendi, Direktur Human
Resources Development dan General Affair PT Indoguna. Sidang di
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (15/5), dipimpin Ketua
Majelis Hakim Purwono Edi Santosa.



Elda mengatakan, yang membantu mengurus perizinan kuota daging impor
adalah AF. Kemudian hakim anggota Hendra Yospin Alwi bertanya,
tindakan AF yang mengurus perizinan tersebut atas izin siapa. "LHI,"
begitu jawab Elda.



"Siapa LHI itu?" kejar Hendra. "Beliau waktu itu Presiden PKS (Partai
Kesejahteraan Rakyat)," jawab Elda. Hendra kembali bertanya, "Jadi
Fathanah bergerak atas izin LHI?" "Dia selalu bilang begitu," jawab
Elda.



Elda juga mengatakan, AF bukan kader PKS namun orang dekat LHI.
Lobi-lobi AF bisa menembus Menteri. Elda mengatakan, pernah memberikan
data kepada AF yang kemudian diajukan ke Mentan.



Data daftar importir daging diperoleh dari Suharyono, Kepala Pusat
Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian. Elda meminta
bantuan kepada Juard untuk menandai mana importir beneran mana yang
hanya distributor.



"Pak Juard pengurus ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging
Indonesia) jadi tahu kondisi perdagingan," kata Elda. Elda juga
mengatakan, orang yang paling berjasa dalam mempertemukan Mentan
dengan Direktur Utama Indoguna Maria Elisabeth Liman adalah LHI.



"Apa Pak Luthfi punya pengaruh besar ke Mentan Suswono?" tanya
penasehat hukum terdakwa, Bambang Hartono, yang dijawab tidak tahu
oleh Elda.



Elda pernah mempertemukan Elisabeth dengan AF akhir 2012. Salah satu
yang disampaikan asoal penambahan kuota. "Pertemuan itu sebetulnya mau
bertemu dengan pimpinan. Saya menerjemhkan pimpinan itu pimpinan AF,
yaitu Luthfi," papar Elda.



Pada pertemuan selanjutnya, LHI berhasil dihadirkan dan menurut Elda,
Elisabeth menjelaskan soal kondisi daging di Indonesia. "Harga daging
tinggi, di situ LHI tercengang lihat kondisi yang ada selama beberapa
bulan. Salah satu ujungnya adalah meningkatkan kuota impor," kata
Elda.



Elda juga memaparkan, dia mendatangi ASPIDI atas suruhan rekannya
untuk mencari importir yang bisa menjalankan impor daging. Elda
menyebut nama Arif Rahman, rekannya yang memperoleh informasi dari
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tentang akan adanya
peningkatan kuota.



Namun, terdakwa Juard meragukan pengakuan Elda. Menurut Juard. "Bunda
(panggilan Elda) ke ASPIDI bukan karena permintaan Pak Arif. Namun
karena suami Bunda telepon ke AF dia punya kuota 10.000 ton," kata
Juard.



Suami Elda adalah Deni P Adiningrat, yang memperkenalkan istrinya
dengan AF. Deni sebelumnya sempat mengurus proyek di Kementan bersama
AF.





Elisabeth membantah

Direktur Utama PT Indoguna, Maria Elisabeth Liman juga dihadirkan
sebagai saksi. Elisabeth lebih banyak membantah keterlibatan AF dan
LHI dalam lobi-lobi kuota daging impor.



Bahkan, Elisabeth tak mengakui jika aliran dana Rp 1 miliar yang
diminta AF merupakan bagian dari fee pengurusan kuota impor. "Itu
murni sumbangan untuk safari dakwah PKS di Nusa Tenggara dan Papua,"
katanya.



Ia mau bertemu dengan Elda karena Elda lah yang menawari punya kuota
200 ton sehingga dia tertarik membeli kuota itu. Namun, nyatanya
permintaan penambahan kuota ditolak terus.



Elisabeth menyatakan, pemberian uang Rp 1 miliar itu karena AF memohon
kepada dirinya dengan menggunakan pendekatan sesama orang Makassar.
"AF itu berasal dari keluarga religius. Ngomongnya santun, belakangan
di TV diberitakan macam-macam," katanya.



Ibu dari Arya ini juga membantah bahwa dirinya pernah menyanggupi fee
Rp 5.000 per kilogram jika kuota 8.000 ton diloloskan. Ia mengaku tak
tahu menahu soal permohonan kuota 8.000 ton dan tak pernah menjanjikan
fee.



Soal pemberian uang Rp 300 juta kepada AF melalui Elda sebelum
berangkat ke Medan, Elisabeth mengatkana itu adalah "uang bensin"
untuk Elda karena Elda sudah bekerja pada dirinya selama 2,5 bulan.
Majelis hakim akan mengkonfrontasi kesaksian Elisabeth dengan Ahmad
Fathanah dan Elda pada Jumat (17/5). (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved