Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » Terdakwa Korupsi UNJ Hanya Akui Terima Rp 20 Juta

Terdakwa Korupsi UNJ Hanya Akui Terima Rp 20 Juta

Written By Amir Sodikin on Kamis, 02 Mei 2013 | 19.08

Sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, pada Kamis (2/5),

mengagendakan pemeriksaan para terdakwa perkara dugaan korupsi

pengadaan alat laboratorium di Universitas Negeri Jakarta. Kasus ini

erat kaitannya dengan kiprah Angelina Sondakh bersama Grup Permai

dalam penggiringan anggaran di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

untuk 16 universitas.


Namun, sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Pangeran Napitupulu,

kesulitan mengungkap rangkaian peranan Grup Permai yang aktif

menggiring proyek dengan keterlibatan para terdakwa. Dua terdakwa yang

diperiksa yaitu Fakhruddin Arbah, Pembantu Rektor III UNJ yang saat

itu menjadi Pejabat Pembuat Komitmen dan terdakwa Tri Mulyono, dosen

Fakultas Teknik yang saat itu menjadi Ketua Panitia Pengadaan Lelang.



Dari 11 aliran dana dari Grup Permai yang masuk ke terdakwa dengan

nilai ratusan juta rupiah, para terdakwa hanya mengakui penerimaan

dana masing-masing Rp 20 juta. Itupun, kata Fakhruddin dan Tri

Mulyono, hanyalah dana tunjangan hari raya.



"Ada uang THR Rp 20 juta dari Pak Suryadi (Pembantu Rektor II UNJ),"

kata Fakhruddin menjawab pertanyaan Pangeran Napitupulu. Ia sadar

bahwa uang THR itu begitu tinggi karena biasanya hanya berkisar Rp 1

juta. Namun ia berfikir itu kemungkinan terkait dengan jabatannya,

entah sebagai PR III ataupun PPK.




"Saya tidak tahu itu THR apa, karena pemberian PR II ya saya treima,"

kata Fakhruddin. Di luar THR, Fakhruddin tak mengakui penerimaan lain

seperti dalam dakwaan jaksa.



Hal yang sama juga disampaikan Tri Mulyono dalam pemeriksaan terpisah.

Ia hanya menerima Rp 20 juta dari Suryadi. Ia menyatakan keheranannya

mengapa banyak aliran dana yang disampaikan jaksa penuntut umum

melalui dirinya.




Dalam sidang sebelumnya terungkap, untuk memuluskan perusahaan

memenangkan tender di UNJ, Melia Rike dari PT Anugerah Nusantara (Grup

Permain) memberikan sejumlah uang yang disebut uang support atau uang

pengamanan. Jaksa penuntut umum mencatat ada 11 aliran dana yang

berlangsung dari Februari 2010 hingga Desember 2010.




Namun, aliran dana tersebut tak diakui Tri Mulyono. Hanya saja, Tri

Mulyono mengakui jika penentuan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) hanya ia

lakukan sendiri tanpa melalui rapat-rapat panitia. Fakhruddin juga

menegaskan, ia tak terlibat ikut dalam rapat-rapat panitia.



"Apa Ketua Panitia pernah menghadap ke Saudara untuk lapor panitia

sudah survei ke lapangan terkait peralatan laboratorium?" tanya

Pangeran Napitupulu yang dijawab tidak oleh Fakhruddin.




"Saya tidak melakukan apa-apa, hanya menunggu laporan sudah

dilaksanakan," lanjut Fakhruddin. HPS sudah ada di meja Fakhruddin dan

sudah selesai ditanda tangani semua. "Di situ saya hanya mengetahui

dan menyetujui. Saya tanya apakah sudah sesuai dengan prosedur,

dijawab sudah," kata Fakhruddin.



"Dosen itu memang sering pake kacamata kuda, lurus ke depan

Hanya tanya sudah beres atau belum sudah cukup. Tahu kenapa kuda pakai

kacamata?" sindir Pangeran kepada Fakhruddin.



"Supaya tidak lihat yang lain-lain," jawab Fakhruddin yang disambut

tawa pengunjung sidang.




Baik Fakhruddin maupun Tri Mulyono juga mengaku tak pernah bertemu

dengan pemenang lelang sebelumnya yaitu PT Marel Mandiri. Mereka juga

tak tahu jika pekerjaan tender itu akhirnya bukan dikerjakan oleh PT

Marel melainkan oleh PT Anugerah Nusantara.



Dalam sidang sebelumnya, saksi dari para anggota panitia juga mengakui

tak pernah diajak membuat HPS dan juga tak pernah melakukan survei

untuk pembuatan HPS. Anggota panitia juga mengaku tak pernah

mengadakan rapat dan mengaku sibuk dengan kegiatan di luar kepanitian

pengadaan peralatan laboratorium.



Jaksa penuntut umum mendakwa Tri Mulyono dan Fakhruddin terlibat

pembicaraan proyek sejak awal dengan orang-orang dari Grup Permai yang

dikendalikan M Nazaruddin. Terdakwa Tri Mulyono juga dianggap

menetapkan sendiri para pemenenag lelang yang disetujui Fakhruddin.



Walaupun demikian, baik Fakhruddin maupun Tri Mulyono sama-sama

menyesali perbutan mereka. "Saya menyesal dengan kemampuan yang saya

miliki, akhirnya kejadiannya seperti ini," kata Fakhruddin.




Aliran dana

Beberapa aliran dana lewat Tri Mulyono yang dimaksud dalam dakwaan

yaitu pada 1 Februari 2010 Rp 400 juta diantar kurir Riki dan diterima

Tara untuk Tri Mulyono. Tanggal 5 Juli 2010 Rp 100 juta dibawa Gerhana

dan Melia Rike (keduanya staf Anugerah Nusantara) diterima Tri

mulyono, Suryadi, dan Dedi di ruang kerja Suryadi di Gedung Rektorat

lantai 1 UNJ.



Kemudian 6 Juli 2010 uang untuk sunatan Rp 3 juta diterima Tri

Mulyono. Tanggal 25 Agustus 2010 Rp 10 juta kembali diberikan untuk

Tri Mulyono. Tanggal 25 Agustus 2010 Rp 150 juta diantar Melia Rike

dan Chika ke beberapa alamat termasuk untuk tri Mulyono Rp 75 juta.



Pada 2 September 2010, Rp 30 juta diserahkan ke Tri Mulyono, ditambah

lagi tanggal 21 Oktober 2010 Rp 30 juta. Tanggal 22 November 2010 Rp

15 juta untuk pencairan termin 1 diserahkan ke Tri Mulyono, ditambah

pada 25 November 2010 Rp 10 juta untuk biaya meeting. Tanggal 3

Desember 2010 diserhakan Rp 15 juta oleh Melia Rike dan M Irwansyah ke

Tri Mulyono dan terakhir pada 15 Desember 2010 diserahkan lagi Rp 50

juta. (Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved