Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , , , , » Operasi Intelijen PRISM dan Rentannya Keamanan Internet

Operasi Intelijen PRISM dan Rentannya Keamanan Internet

Written By Amir Sodikin on Senin, 17 Juni 2013 | 11.08

Ketika kita sedang menikmati teknologi internet yang mulai matang,
tiba-tiba kita dikejutkan dengan proyek intelijen bernama PRISM. Tanpa
kita ketahui, data yang pernah kita unggah di berbagai situs kenamaan
yang berbasis di Amerika Serikat diduga telah diintai oleh Badan
Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat.

Pengintaian informasi besar-besaran terhadap lalu lintas percakapan
warga AS tak sebatas pada jaringan telepon. Momok yang sangat
dikhawatirkan kalangan praktisi keamanan internet akhirnya terbukti di
AS.

Melalui sistem rahasia, dengan izin pengadilan rahasia, dan dilakukan
agen rahasia, sembilan perusahaan papan atas yang merupakan penguasa
internet dunia diduga bisa diintai atau disadap NSA dan FBI. Jika ini
benar, maka inilah megaskandal dalam teknologi informasi terbesar
sepanjang sejarah yang tak bisa dimaafkan.

The Guardian dan Washington Post mengungkapkan, operasi intelijen
PRISM memberi hak kepada NSA dan FBI untuk mengakses langsung ke
server-server yang dimiliki raksasa perusahaan internet di Silicon
Valley. Kesembilan perusahaan itu adalah Microsoft, Yahoo, Google,
Facebook, PalTalk, AOL, Skype, YouTube, dan Apple.

Dua media tersebut mendapatkan dokumen materi presentasi yang dibuat
dengan PowerPoint terkait aktivitas PRISM. Washington Post mengunggah
empat contoh halaman presentasi yang berisi informasi detail siapa
saja yang terlibat dalam proyek PRISM dan data apa yang dikoleksi NSA
dan FBI.

Dokumen itu biasanya digunakan untuk mentraining para operator
intelijen. Dalam dokumen itu diklam ada pengumpulan langsung dari
server provider (internet) utama AS.

Dalam program PRISM, membolehkan para pejabat untuk mengoleksi
material berupa data personel untuk jejak pencarian, isi percakapan
email, file yang ditransfer, percakapan livechat baik teks maupun
video, foto-foto, dan dokumen yang diunggah.

Kebanyakan, perusahaan yang masuk PRISM merupakan perusahaan top yang
menggunakan teknologi cloud atau komputasi awan dan sudah digunakan
secara massal oleh para pengguna karena diawali dengan pemberian ruang
simpan gratis. Sebut saja Google Drive, iCloud untuk pengguna Apple,
dan SkyDrive untuk pengguna Microsoft, Flickr untuk Yahoo.

Kita telah terbiasa dengan mereka, bahkan telah menjadikannya teman
hidup, istri kedua atau suami kedua, bahkan suami istri boleh cerai
tapi umumnya mereka tak bisa bercerai dengan layanan "cloud" ini.
Meminjam istilah para pemikir, kita telah menyimpan sebagian memori,
baik yang rahasia maupun tidak, kepada mereka.

Tak berlebihan jika kita menyebut separuh otak kita telah tertanam di
server-server milik perusahaan Silicon Vallery. Perusahaan teknologi
informasi paling top di dunia itu memperoleh kepercayaan tinggi dari
para pelanggan berkat inovasi teknologi dan digabung dengan janji
menjaga privasi kita.

Namun, semua itu akan menjadi omong kosong karena proyek PRISM ini.
Pemerintah AS, termasuk Presiden Barack Obama, tak mambantah adanya
proyek PRISM tersebut. Obama membela metode kerja kontraterorisme NSA
demi keamanan AS.

Obama menyebut, Amerika harus memilih antara menyeimbangkan
perlindungan privasi dengan perlindungan keamanan. Komentar Obama ini
mendapat serangan dari para pembela hak-hak sipil. "Undang-Undang
Patriot tak seharusnya digunakan untuk melanggar hak-hak warga negara
yang patuh hukum," tulis The Guardian.

Direktur Badan Intelijen Nasional AS, James Clapper, mengakui adanya
program mata-mata dan mengatakan pengintaian seperti itu telah
disetujui pengadilan dan diketahui perusahaan penyedia layanan
internet. Program telah mendapat persetujuan Undang-Undang Patriot AS
dan dioperasikan sejak 2008 pada masa George W Bush.

"Telah terbukti secara vital menjaga negara kita dan aliansi kita agar
aman. Program ini diteruskan untuk menjadi salah satu cara penting
menjaga keamanan bangsa," kata Clapper seperti dikutip Associated
Press. Pengakuan Clapper menjadi pukulan telak bagi industri internet
AS karena privasi di bisnis internet adalah nomor satu. Namun, tetap
saja semua pihak dari penyedia layanan internet tak mengakui program
tersebut.

Co-founder Google, Larry Page, jelas membantah terlibat dalam
menyediakan akses server ke pemerintah. "Kami tak pernah ikut dalam
program pemerintah AS, atau program sejenis lainnya. Pemerintah AS tak
memiliki akses atau memiliki pintu belakang untuk menjangkau data yang
disimpan di pusat data kami. Kami tak pernah mendengar program PRISM
sebelumnya," kata Larry.

Pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg, juga membantah terlibat
atau mengetahui proyek PRISM. Menurut Zuckerberg, pemberitaan media
telah keterlaluan.

"Facebook bukan dan tidak pernah menjadi bagian dalam program manapun
dari pemerintah AS untuk memberikan akses langsung ke server kami,"
kata Zuckerberg. Kami tak pernah mendapat perintah pengadilan atas
permintaan pemerintah untuk mendapatkan data dalam jumlah besar,
seperti yang pernah diperoleh Verizon. Jika kami memperolehnya, kami
akan berjuang secara agresif," katanya.

Kini, ketika dunia telah bangga bertransformasi dalam perkembangan
pesat teknologi internet bersama AS, Google, atau Yahoo, atau
Facebook, atau Apple, dan provider lainnya, namun saat yang sama,
dunia telah diinjak-injak oleh mereka juga. AS harus menjawab secara
terbuka atas semua yang mereka lakukan kepada kita semua.

Ternyata, selama ini kita tak kemana-mana. Teknologi internet yang
kita banggakan ternyata sama saja dengan era handy talky (HT), ketika
percakapan dengan mudah disadap pihak lain. Selamat datang kembali era
HT. Brik...brik...kontek...kontek...di sini Google memanggil, silakan
Yahoo menjawab ganti.....(Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved