Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » Sebelum Pintu Hati Yang Mulia Tertutup

Sebelum Pintu Hati Yang Mulia Tertutup

Written By Amir Sodikin on Jumat, 21 Juni 2013 | 10.04

"Untuk tanah-tanah yang dijadikan bukti di persidangan ini, bila
mereka bisa berbicara, pasti akan lantang untuk memohon tidak
dijadikan saksi kepalsuan, karena alam tidak pernah berdusta," kata
Endah Rumbiyanti di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu
(19/6).

Berbagai macam logika, cerita, bahasa, dan perumpamaan dicoba gunakan
oleh Rumbi, nama akrab Endah Rumbiyanti, Manajer Lingkungan Chevron,
untuk mengetuk pintu hati para anggota Majelis Hakim yang diketuai
Sudharmawatiningsih. Kali ini, Endah berusaha berbicara kepada
tanah-tanah tercemar minyak tanah yang dijadikan alat bukti dalam
sidang dugaan korupsi bioremediasi fiktif PT Chevron Pacific
Indonesia.

"Suatu saat nanti, saya akan bertemu dengan tanah-tanah itu,
sebagaimana mereka juga akan bertemu kita semua, dan saat itulah dapat
diketahui apakah mereka merengkuh kita dalam damai, atau akan
menghantui kita dalam kekelaman karena kepalsuan yang dijadikan dasar
semua kezaliman ini," papar Rumbi.

Dalam pledoi atau nota pembelaannya, Rumbi tak tahu dengan cara
apalagi ia bisa mengetuk nurani para hakim. Fakta sebelumnya, berbagai
bukti meringankan dan logika yang diajukan dua terdakwa dari
kontraktor Chevron telah gagal mengetuk nurani para hakim. Mereka
adalah Herlan bin Ompo dan Ricksy Premeturi yang telah divonis
bersalah dengan hukuman enam tahun dan lima tahun penjara.

Mengerikan sekaligus mengharukan ketika mendengarkan pledoi para
terdakwa yang kini sedang diambang pintu untuk menerima nasib Majelis
Hakim Yang Mulia. Selain Rumbi, dua terdakwa dari pegawai Chevron,
yaitu Kukuh Kertasafari dan Widodo, juga sedang mengajukan pledoi ke
hadapan majelis hakim.

Argumentasi hukum untuk ketiga terdakwa itu mirip satu sama lainnya,
tinggal bagaimana cara para terdakwa menyentuh nurani hakim. Kukuh
mengisahkan bagaimana harapan keluarganya yang akan pindah ke Amerika
Serikat untuk menduduki posisi bagus di Chevron akhirnya kandas karena
kasus ini.

Sebagai pengurus masjid di lingkungannya, tuduhan korupsi ini
meluluhlantakkan sendi-sendi kemanusiaan Kukuh. Selain pengurus
masjid, Kukuh adalah Lembaga Amil Zakat Nasional karyawan Chevron,
juga sebagai Rumah Hafalan Quran di Minas. Penetapan statusnya sebagai
tersangka, tak hanya diratapi keluarganya tapi juga oleh masyarakat
sekitarnya yang tahu kiprah Kukuh.

Dalam pembelaan Kukuh dan Rumbi, terungkap ketika pertama kali
diperiksa, para penyidik Kejaksaan Agung juga terkejut mengapa dua
orang tersebut yang jabatannya tak ada kaitannya dengan proyek
bioremediasi bisa menjadi tersangka. Widodo sendiri baru akan
menyampaikan pledoi pada Jumat (21/6).

Logika keras yang terkait perkara, memang sudah terbukti tak ada
pengaruhnya bagi majelis hakim karena mereka telah memutus bersalah
dua terdakwa lainnya. Karena itu, bisa dipahami pledoi Rumbi lebih
fokus pada bagaimana membuka nurani suci anggota majelis, nurani yang
tak mungkin bisa diintervensi pihak lain.

Rumbi memilih mengisahkan nasib lima orang anak yang ia tinggalkan
dengan bahasa yang santun, diksi yang kuat, dan ekspresif. Ia
mengungkapkan, anak-anaknyalah yang sebenarnya lebih terkena dampak
atas kasus ini.

Kepada majelis hakim, Rumbi mengungkapkan masih percaya pengadilan
ini adalah satu-satunya tempat yang harus dipercaya dan ditunjukkan
sebagai tempat menegakkan keadilan dan kebenaran. "Putusan bersalah
Majelis Hakim akan diratapi, bukan hanya oleh anak-anak saya, tetapi
akan ditangisi ribuan karyawan dan keluarganya, ribuan akademisi,
ribuan ibu, karena melihat dan merasakan hukum belum berpihak kepada
kebenaran," kata Rumbi.


Namun, kata Rumbi, putusan babas akan disyukuri dengan sujud syukur
oleh keluarga dan kolega, karena putusan bebas itulah putusan yang
berpihak kepada kebenaran yang dikemukakan selama persidangan ini
serta kenyataan sesungguhnya. "Saya menghormati Majelis Hakim, karena
Hakim adalah Jabatan yang Mulia. Saya percaya ketika nurani kita
gunakan untuk menilai satu perkara, suara nurani akan melahirkan
keberanian untuk menegakkan keadilan," kata Rumbi.

Air mata Rumbi tak terbendung lagi ketika ia memperkenalkan satu per
satu anak-anak Rumbi. Saat bersamaan, mata para pengunjung sidang juga
tampak berkaca-kaca, tak kuasa menahan haru dan derita Rumbi. Rumbi
memperkenalkan anak-anaknya dengan disertai foto mereka.

Rumbi bercerita, ada seorang anak perempuan, berusia 13 tahun. Sang
anak memiliki persepsi, hakim-hakim yang mengadili ibunya adalah
Jahat. Kepada puterinya, sang ibu mengatakan berkali-kali , para hakim
itu adalah orangtua yang bijaksana, mereka representasi Tuhan di
dunia.

"Nak, para hakim, yang mengadili Ibu adalah orangtua juga, sama
seperti Ibu, mereka adalah juga orangtua yang bijaksana, terlebih
karena mereka mengadili nasib manusia. Mereka adalah representasi
Tuhan di dunia. Maka dipilihlah orang-orang yang bijaksana dan
bernurani untuk duduk sebagai hakim," kata Rumbi.

"Yang Mulia, anak perempuan itu, bernama Carissa, dengan ibu bernama
Rumbi. Ini anak saya yang mulia, yang selalu mengirimkan foto penuh
senyuman untuk menyemangati ibundanya setiap akan maju sidang," Rumbi
terisak sambil mengangkat foto anaknya.

"Bapak, Ibu Hakim, mohon bantu saya, untuk meyakinkan Carissa, bahwa
apa yang saya katakan tentang Bapak dan Ibu Hakim adalah orang yang
bijaksana itu benar. Bantu saya Yang Mulia," pinta Rumbi sambil
menyeka air matanya.

Suasana makin hening, Rumbi kembali memperkenalkan anak bungsu. "Ada
seorang anak berusia 2,5 tahun pergi ke penjara untuk bertemu ibunya.
Anak itu sering pergi menemui ibunya, dan mengerti ketika melihat ada
petugas berseragam mendekat, dia serta merta memeluk ibunya," kata
Rumbi.

"Ibu Hakim, tahu kenapa? Karena dia tahu, itulah saat dia harus
berpisah dengan ibunya. Dan inilah anak itu, Gaza Ghifari Kertanegara,
putera bungsu saya," Rumbi mencium foto anaknya itu begitu dalam. Para
pengunjung banyak yang tak kuasa menahan lelehan air mata ketika satu
per satu anak-anak Rumbi diperkenalkan dengan cara yang menyentuh.

Rumbi mengisahkan anaknya yang lain. Suatu kali, ada anak laki-laki
berusia 8 tahun, yang selalu ingin memastikan kondisi ibunya aman
ketika disidang. Dalam benaknya, ibunya duduk sendiri di tengah,
seperti yang pernah dia lihat di TV, dan ibunya dimarahi banyak orang
dari berbagai sisi.

"Nalurinya membuat dia ingin melihat ibunya langsung, memohon datang
ke sidang dan berusaha masuk, namun diusir karena usianya tidak cukup.
Deraan beban yang besar harus ditanggung anak sekecil itu," kata
Rumbi. Akhirnya, anak itu pun kemudian jatuh sakit dan dalam
baringnya, tanpa pendampingan Ayah Ibunya, ia masih sering bertanya
tentang Ibunya kepada yang menjaganya.

"Apakah Ibu saya masih dimarahi di sidang?" begitu Rumbi mengisahkan
anaknya yang bernama Dio. "Ini anak saya yang ketiga Yang Mulia, saat
dia terbaring sakit tanpa orangtuanya di sisinya," kata Rumbi sambil
mengangkat foto anaknya.

Lewat kegetiran anak-anaknya, Rumbi berusaha mengetuk pintu hati hakim
sebelum benar-benar tertutup. Palu Majelis Hakim akan segera diketok.
Bersalah atau tidak nantinya mereka, akan bergantung pada keyakinan
majelis hakim. (Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved