Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , » Soetrisno Bachir Bantah Tahu Aliran Dana

Soetrisno Bachir Bantah Tahu Aliran Dana

Written By Amir Sodikin on Jumat, 21 Juni 2013 | 10.05

Ilustrasi Flu Burung. Foto: Solopos
Pengusaha dan juga mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Soetrisno
Bachir, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi
alat kesehatan untuk penanganan krisis flu burung dengan terdakwa Ratna Dewi Umar.
Dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (20/6), Soetrisno
ditanya soal aliran dana sebesar total Rp 1,4 miliar ke rekening
dirinya dan rekening perusahaan Soetrisno, PT Selaras Inti
Internasional.

Ratna Dewi Umar adalah Direktur Bina Pelayanan Medik Departemen
Kesehatan, sekarang Kementerian Kesehatan. Ia didakwa melakukan
korupsi pengadaan alkes pada tahun 2006 dan 2007 yang merugikan
keuangan negara Rp 50,4 miliar. Di persidangan, Soetrisno banyak
mengaku tidak tahu atau lupa terhadap detail transfer uang tersebut.
Ia membantah tahu bahwa uang itu berasal dari aliran keuntungan proyek
alkes.

Sebagai Komisaris PT Selaras Inti Internasional, Sutrisno Bachir
tidak mengetahui detail uang Rp 1,2 miliar yang ternyata berasal dari
proyek alat kesehatan. Uang yang merupakan pengembalian utang dari
adik iparnya, Nuki Syahrun, itu ditransfer oleh Nuki Syahrun sendiri.

"Uang itu untuk pengembalian utang, soal uang itu apakah dari hasil
bisnis alkes saya nggak tahu," kata Soetrisno. Nuki juga bekerja di
yayasannya, yaitu Soetrisno Bachir Foundation. Menurut Soetrisno, Nuki
memiliki utang Rp 3 miliar yang diajukan sebagai pinjaman ke
perusahaan PT Selaras Inti Internasional. Pengajuan utang pun
disampaikan ke jajaran direksi.

Tercatat bahwa utang tersebut dikembalikan Nuki dalam dua tahap,
yaitu pertama Rp 225 juta ke rekening pribadi Sutrisno dan Rp 1,2
miliar ke rekening perusahaan PT Selaras. Soetrisno kembali menegaskan
ia tak tahu detail pengembalian dana itu karena diurusi oleh direksi.
"Yang mengelola board of director, makanya saya betul lupa detailnya,"
kata Soetrisno.

Dalam sidang sebelumnya, Nuki yang juga staf pemasaran Heltindo
mengatakan uang yang dikirim tersebut merupakan komisi dari pengurusan
pengadaan alat kesehatan. Komisi sebesar Rp 1,7 miliar didapat setelah
memasok rontgen dari PT Airindo Sentra.

Hakim sempat menguji kejujuran Soetrisno karena dalam Berita Acara
Pemeriksaan (BAP), disebutkan uang itu sebagai investasi. " Di dalam
BAP saudara menerangkan uang itu sebagai investasi. Tapi di
persidangan saudara bilang bayar utang," tanya Hakim Anggota I Made
Hendra.

"Terus terang saya lupa. Tapi seingat saya buat membayar utang," jawab
Soetrisno. Soetrisno juga lupa soal detail konfirmasi pembayaran dari
Nuki karena yang mengetahui detail keuangan adalah jajaran direksi.

Saksi dari pengurus Sutrisno Bachir Foundation, Yurida Adlaini, yang
didatangkan di persidangkan sebelumnya, membenarkan ada aliran dana ke
rekening Soetrisno. "Betul memang ada aliran dana ke Soetrisno
Bachir," kata Yurida.

Jaksa Kiki Ahmad Yani sempat mengungkapkan bukti-bukti transfer
pengiriman di depan majelis hakim yang kemudian diiyakan oleh Yurida.
Yurida juga membenarkan bahwa ia tahu ada transfer uang Rp 222 juta
dari Nuki ke rekening Soetrisno. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved