Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , » Djoko Belanja Puluhan Miliar Untuk SPBU

Djoko Belanja Puluhan Miliar Untuk SPBU

Written By Amir Sodikin on Sabtu, 13 Juli 2013 | 21.12

Irjen Djoko Susilo menghabiskan uang sekitar Rp 23,2 miliar untuk membeli tiga SPBU di Kendal, Jawa Tengah Rp 1,7 miliar; Ciawi, Bogor, Jawa Barat Rp 10 miliar; dan di Kapuk, Jakarta Utara Rp 11,5 miliar. Semua SPBU diatasnamakan orang lain yang masih ada kaitan saudara dengan Djoko.

Hal itu terungkap dalam sidang perkara dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara Korps Lalu Lintas Polri dengan terdakwa Irjen Djoko Susilo, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (12/7). Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Suhartoyo.

Saksi Erick Maliangkay, notaris yang sering digunakan Djoko untuk berbagai transaksi, mengatakan dalam setiap transaksi SPBU dirinya diminta untuk mengecek keabsahan berbagai dokumen. Erick juga sering berperan sebagai orang yang membayarkan pembelian SPBU.

Untuk dua SPBU yaitu di Kendal dan di Kapuk, Erick juga ditugasi menarik uang pembagian keuntungan dari SPBU dengan pihak manajemen.

Untuk SPBU di Kendal, kata Erick, awalnya yang dibeli berupa tanah 3.000 meter persegi. Infrastruktur SPBU memang sudah dimulai namun baru 10 persen. "Tanah itu tadinya kosong. Lalu dibangun SPBU oleh Harry Ikhlas (pengelola SPBU)," kata Erick.

Harga tanah di Kendal pada 2004 itu adalah Rp 1,7 miliar. Dalam akta jual beli, pemilik SPBU di Kaliwungu adalah Eva Susilo Handayani.

"Siapa Eva Susilo Handayani itu?" tanya jaksa KPK, Pulung Rinandoro. "Eva Handayani itu anak kakak Pak Djoko Susilo, saya kenal sama kakaknya Pak Djoko, namanya Pak Sukarno," kata Harry Ikhlas.

Pengelolaan SPBU
Harry mengakui, dirinya lah yang mengelola SPBU-SPBU Djoko dengan sistem bagi hasil atau setoran tetap. Untuk SPBU di Kendal, dirinyalah yang bertugas membangun infrastruktur SPBU hingga selesai.

Djoko juga membeli sebidang tanah yang sudah ada SPBU-nya di Ciawi, Bogor, pada 2007, senilai Rp 10 miliar. Kali ini, SPBU tersebut diatasnamakan Agus Margo Santoso.

Untuk SPBU di Kapuk, Jakarta Utara, dibeli dengan harga Rp 11,5 miliar yang diatasnamakan Djoko Waskito, ayah Dipta Anindita pada Oktober 2010. Kepada Harry, Djoko Susilo mengenalkan Djoko Waskito sebagai pengusaha batik dari Solo, Jawa Tengah.

Versi Erick agak berbeda soal Djoko Waskito ini. "Yang SPBU di Kapuk, di akta jual beli pembelinya Djoko Waskito, katanya saudaranya Pak Djoko. Mereka ada kesepakatan tiap bulan setor uang Rp 145 juta. Keuntungan masuk ke rekening Djoko Waskito," kata Erick.

Perusahaan berbeda
SPBU tersebut dikelola kerabat Djoko dengan perusahaan yang berbeda-beda. Misalnya, di Kendal dikelola atas nama PT Selota Mandala yang beroperasi sejak 2007. Sistem bagi hasilnya adalah 80:20, 80 persen untuk pemilik dan 20 persen untuk pengelola.

Untuk SPBU di Ciawi, perusahaan yang digunakan adalah PT Aster Usaha Jaya. "Sistem bagi hasilnya bersifat tetap atau flat, yaitu Rp 100 juta per bulan untuk pemilik," kata saksi Harry Ikhlas.

Sedangkan SPBU di Kapuk, Jakarta Utara, juga dikelola Harry dengan sistem bagi hasil tetap yaitu Rp 145 juta per bulan untuk bagian pemilik.

Para saksi mengakui uang untuk membeli SPBU-SPBU itu berasal dari uang Djoko. Oleh jaksa penuntut umum KPK, uang itu patut diduga berasal dari hasil tindak pidana korupsi. Versi jaksa, pembelian SPBU itu hanyalah salah satu upaya untuk mencuci kekayaan Djoko.

Penasehat hukum terdakwa, Teuku Nasrullah, menanyakan kepada Erick berapa penghasilan per bulan Djoko dari SPBU tersebut. "Dari dua pom bensin rata-rata 170-180 juta per bulan untuk SPBU di Ciawi dan Kendal," kata Erick.

Untuk SPBU Kapuk, uang bagi hasil tidak melalui Erick. Namun, menurut keterangan Harry Ikhlas, ia menyetor Rp 145 juta per bulan untuk SPBU di Kapuk. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved