Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , » Mertua Djoko Susilo Akui Namanya Dipinjam

Mertua Djoko Susilo Akui Namanya Dipinjam

Written By Amir Sodikin on Rabu, 17 Juli 2013 | 21.10


Pengungkapan dugaan tindak pidana pencucian uang oleh terdakwa Djoko Susilo memasuki babak baru. Di luar dugaan, Djoko Waskito, mertua Djoko Susilo yang juga ayah dari Dipta Anindita (istri ketiga Djoko Susilo), memberi pengakuan bahwa namanya hanya dipinjam untuk beberapa transaksi pembelian SPBU dan rumah.

Dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (16/7), Djoko Waskito mengaku namanya digunakan untuk transaksi pembelian SPBU di Kapuk, Jakarta Utara. Namanya juga digunakan untuk transaksi rumah di Jebres, Surakarta.

"Bagaimana ceritanya kok digunakan untuk transaksi?" tanya Ketua Majelis Hakim Suhartoyo. "Saya diminta anak saya untuk pembelian pom bensin, yang minta Dipta Anindita. 'Pa, saya mau beli pom bensin, tolong Papa datang dan lihat'," kata Djoko Waskito.

Waktu itu tahun 2010, Djoko Waskito ke Jakarta untuk melihat-lihat lokasi pom bensin di Kapuk. Ia kembali diminta datang ke Jakarta untuk kedua kalinya, tepatnya di rumah Dipta di Jalan Prapanca Jakarta Selatan. Ia pun langsung diminta tanda tangan setumpuk dokumen di depan notaris kepercayaan terdakwa Djoko Susilo, Erick Maliangkay.

Dokumen apa saja saya tak tahu, saya tidak membaca, tapi saya tahu itu ada kaitannya dengan pom bensin," kata Djoko Waskito. Djoko Waskito mau menandatangani dengan alasan demi kepentingan putrinya. Namun ia tak bertanya kepada putrinya dari mana asal uang tersebut. Ia juga tak tahu pekerjaan atau bisnis Dipta.

SPBU di Kapuk dikelola oleh pihak ketiga yaitu pengusaha Harry Ikhlas dengan pembagian keuntungan Rp 145 juta per bulan. Uang itu kemudian ditransfer ke rekening Djoko Waskito yang buku dan ATM-nya dipegang Dipta. Selama beberapa tahun, baru dua kali Dipta bersama ayahnya menarik dana sebesar masing-masing Rp 1 miliar.

"Uang itu diambil anak saya. Tak sepeser pun saya mengambil uang itu, tak ada gunanya buat saya, saya sudah merasa cukup," kata Djoko Waskito ketus. Sikap ketus Djoko Waskito tampak beberapa kali ia tunjukkan untuk menandakan ketidaksukaannya terhadap Djoko Susilo.

Ia mengaku tak pernah berhubungan atau berkomunikasi dengan menantunya itu. Hanya sekali waktu menikah di rumah Jl Samratulangi Surakarta.

Djoko Waskito sempat tercekat bicaranya dan tak tahan menahan airmatai ketika jaksa Pulung Rinandoro mendesaknya untuk bicara jujur soal asal-usul rumah tersebut. Djoko Waskito sempat melawan dengan mengatakan ia tak tahu menahu.

Namun, begitu mau mencoba bicara apa yang sebenarnya terjadi, isak tangis pun pecah sehingga urung bercerita, memicu keberatan dari penasehat hukum terdakwa. "Majelis Hakim, pertanyaan itu terlalu pribadi, sudahlah," sergah Juniver Girsang.

Keterangan Djoko Waskito ini makin menjelaskan dakwaan jaksa bahwa terdakwa Djoko berusaha menyembunyikan harta kekayaannya dengan melakukan transaksi atas nama anggota keluarga dan kerabatnya.

Keris miliaran
Sidang juga menghadirkan penjual pusaka keris, Indra, yang mengaku sering bertransaksi dengan terdakwa Djoko Susilo. Indra pernah menjual 16 keris milik keluarganya seharga Rp 1,7 miliar. Keris itu diganti dengan rumah di Pesona Kayangan, Depok, Jawa Barat, seharga Rp 1,6 miliar plus uang tambahan Rp 150 juta.

"Uang itu maskawinnya (pembelian 16 keris), setelah dibayar Andreas," kata Indra. Andreas, menurut Indra adalah warga Jerman yang membeli tiga buah keris dari Djoko Susilo dengan harga 680.000 euro. "Nilainya memang banyak, komisi untuk saya saja juga banyak sampai saya belikan mobil," kata Indra.

Majelis Hakim sempat menguji pengetahuan saksi Indra soal seluk-beluk keris, mulai dari pamor keris hingga luk keris dan ritual-ritualnya. Indra berusaha menjawab dengan penuh keyakinan dan bahkan pembicaraannya soal luk-luk keris sulit dihentikan Ketua Hakim Suhartoyo.

"Sudah-sudah, jangan cerita luk-luk lagi. Hakim perlu tahu apa ini asal cerita atau tahu bener," kata Suhartoyo. "Luk 3 namanya jangkung, luk 9 namanya sempono..." kata Indra, yang langsung disergah Suhartoyo, "Sudah...tambah bingung pengunjung sidang." "O.... siap!" jawab Indra.

Indra sempat dicecar soal perbedaan hitungan keris yang dimiliki Djoko Susilo. Di Berita Acara Pemeriksaan, Indra hanya mengakui 100an keris, namun di sidang ia bilang 200 lebih. "Mboten (tidak), saya matur (bilang) 200an lebih. Keris itu dititipkan ke saya untuk dicuci. Setelah itu baru Pak Djoko kena kasus dan katanya keris akan disita," kata Indra.

"Penyidik mau menyita?" tanya Suhartoyo. "Iya, saya matur (bilang) kalau disita silakan tapi enggak ada yang menyita," kata Indra. "Belum disita Pak Jaksa ya? O.. belum. Memang kalau sudah berurusan dengan pusaka keris itu susah ya," celetuk Suhartoyo.

Pembatalan transaksi
Sidang juga menghadirkan saksi Hirawan, orang yang sudah bersepakat membeli rumah atas nama Mahdiana namun akhirnya dibatalkan sepihak oleh Mahdiana, istri kedua Djoko Susilo. Akibatnya, uang muka Rp 2 miliar yang sudah dibayarkan kepada Mahdiana melalui Djoko Susilo hingga kini belum dikembalikan ke Hirawan.

Pembelian dilakukan pada akhir 2012. Namun, ia tak langsung berhubungan dengan pemilik rumah Mahdiana tapi melalui Djoko Susilo. "Jual belinya dengan yang punya rumah. Kwitansinya atas nama Mahdiana. Saya maunya Mahdiana," kata Hirawan.

"Bapak enggak percaya sama Pak Djoko? Jenderal lho kok gak dipercaya, sementara dengan Mahdiana kan Bapak belum pernah ketemu," kata Suhartoyo. "Enggak, yang punya kan atas nama Mahdiana," jawab Hirawan.

Namun, akhirnya Mahdiana membatalkan transaksi itu tanpa alasan jelas. "Dia bilang dia istrinya Pak Djoko, mau batalkan transaksi. Uang katanya mau dikembalikan tapi sampai sekarang belum," kata Hirawan. Ia berusaha menghubungi Mahdiana maupun Djoko Susilo namun selalu tak berhasil. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved