Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » Senyum Djoko di Ambang Pengakuan

Senyum Djoko di Ambang Pengakuan

Written By Amir Sodikin on Rabu, 10 Juli 2013 | 21.15



Di luar dugaan, keterangan para saksi dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (5/7), tak mendapat aneka bantahan dari terdakwa Irjen Djoko Susilo. Bahkan, Djoko sempat tersenyum ketika disindir saksi yang pernah menjual rumah kepada Djoko. Sesuatu yang langka.

Dalam sidang perkara dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara Korlantas Polri, jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi sempat menampilkan gambar rumah di Yogyakarta. "Apa betul ini rumah yang Ibu jual," tanya jaksa Pulung kepada saksi.

"Iya, betul tapi kok sudah jelek ya," celetuk saksi Saroyini Wuran Rahayu, pemilik lama sebidang tanah dan rumah di Jalan Langenastran Kidul, Keraton Panembahan, Yogyakarta. Mendengar komentar Saroyini, Djoko sempat tersenyum, sambil memperhatikan foto rumah yang telah ia beli.

"Waktu saya renovasi 8 tahun lalu, cantiik sekali rumahnya," kenang Saroyini. Sebagai orang yang tinggal di lingkungan keraton, dalam menjual rumah Saroyini sebenarnya tak sekadar mengejar asal terjual. Ia telah melakukan penyaringan internal untuk siapa yang layak mendapatkan rumahnya.

Ia merasa sreg ketika pertama melihat Pak Djoko dan Bu Djoko, begitu Saroyini memanggil pasangan suami istri calon pembeli rumahnya. Ia tak tahu Bu Djoko yang mana apakah istri pertama, kedua, atau ketiga. Bu Djoko menurut surat dakwaan jaksa adalah istri pertama Djoko, Suratmi.

Saroyini sudah menebak "prejengan" atau penampilan suami-istri itu, yang dikatakan Saroyini, pakaian Pak Djoko dan Bu Djoko begitu modis dan perlente. "Wah, pasti nanti akan tambah bagus rumah saya," kata Saroyini.

Sarat lain untuk kriteria pembeli rumahnya, yang harusnya tak terucap di persidangan, "Saya harus kenal dulu yang beli karena ini dalam beteng, kalau yang beli orang luar jawa gimana," begitu curahan hati Saroyini.

Menjelang akhir sidang, Ketua Majelis Hakim Suhartoyo mencoba mengklarifikasi soal "curhat" yang bisa dimaknai lain oleh pihak lain. "Maksud Ibu tadi soal orang luar Jawa tadi gimana?" tanya Suhartoyo.

"Iya, saya kok berpikiran jelak ya, berprasangka buruk," kata Saroyini. "Nanti dimarahi sama rakyat Indonesia lho," timpal Suhartoyo. "Betul-betul, saya mohon maaf," jawab Saroyini tangkas. "Jangan marah, ya, yang luar Jawa," kata Suhartoyo.

Saroyini sempat penasaran, siapa gerangan priyayi modis yang telah membeli rumahnya di atas lahan 600 hektar dengan harga Rp 2 miliar itu. Ia bertanya, apa sebenarnya kegiatan Pak Djoko ini.


"Waktu mau pulang saya tanya, Pak, kegiatannya apa? 'Oo saya distributor apa gitu, distributor telekomunikasi, kalau enggak salah Telkomsel apa Indosat gitu," kata Saroyini.

Semua resep ia coba terapkan untuk mendapatkan pembeli yang layak dan sreg di hati, dan orang itu adalah Djoko Susilo yang membeli rumah atas nama anaknya, Poppy Femialya. Namun, betapa kecewa hati Saroyini ketika diberitahu jika rumahnya muncul di televisi.

"Ada yang memberi tahu, 'Lho kok rumahmu masuk (liputan) televisi?' Aduh kena aku deh, nasib," kata Saroyini. Dari tayangan televisi, ternyata pembelinya adalah seorang polisi berpangkat Irjen.

Dari semua keterangan Saroyini, tak ada bantahan satupun dari Djoko. Termasuk soal harga rumah yang hanya diakui Rp 500 juta di akta jual beli. Kondisi ini berbeda dengan kebiasaan Djoko sebelumnya beberapa kali berkelit.

Akhir-akhir ini, penolakan Djoko terhadap berbagai dakwaan, terutama terkait tindak pidana pencucian uang yang terkait para istri dan anak-anaknya, tak sekencang awal-awal persidangan.

Saat yang sama, sebelum jaksa resmi mengundang para saksi dari istri dan keluarga Djoko, tim penasehat hukum sudah melayangkan permohonannya agar mereka tak dihadirkan sebagai saksi. Jumat lalu sebenarnya mengagendakan saksi dari istri-istri Djoko, yaitu Mahdiana dan Dipta Anindita, juga Joko Waskito (ayah Dipta), namun sudah bisa ditebak, mereka tak memenuhi panggilan sebagai saksi.

Bisa jadi, senyum dan keterbukaan Djoko yang merupakan peristiwa langka hari itu merupakan kompensasi agar permohonannya untuk tidak menghadirkan para istri dan keluarganya di persidangan bisa dikabulkan. "Kenapa Bapak takut jika istri dan anak dihadirkan dalam sidang?" begitu pertanyaan yang pernah meluncur dari Hakim Ketua Suhartoyo, mewakili pertanyaan kita semua. (Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved