Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , » Siti Fadilah dan Alkes

Siti Fadilah dan Alkes

Written By Amir Sodikin on Kamis, 11 Juli 2013 | 21.14



Sidang dugaan korupsi korupsi pengadaan alat kesehatan dan perbekalan dalam rangka wabah flu burung 2006-2007 tak hanya menjawab teka-teki lama mengapa Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari saat itu begitu benci dengan peneliti asing. Sidang secara tak sengaja juga menguliti dugaan keterlibatan Siti dalam proyek-proyek penunjukan langsung terkait flu burung.

Menyedihkan sekaligus menggelikan, begitulah kira-kira suasana sidang pada Senin (8/7) lalu. Sidang itu untuk terdakwa Ratna Dewi Umar, mantan Direktur Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan.

Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, dihadirkan sebagai saksi. Apa yang disampaikan Siti di persidangan awalnya datar saja karena yang bersangkutan sering menjawab lupa atau tidak tahu.

Suasana memanas ketika giliran Ratna menyampaikan sanggahan. Seolah tanpa beban, Ratna membuka semua pertemuannya dengan Siti yang semakin menguatkan dugaan bahwa Siti ikut berperan dalam perintah penunjukan langsung proyek flu burung.

Ibarat wasit, Hakim Ketua Nawawi Ponolongo hari itu tampil gemilang untuk menjadi penengah yang adil bagi kedua perempuan paruh baya itu. Predikat perempuan paruh baya ini sendiri diberikan oleh Nawawi ketika melihat perselisihan keduanya meningkat tajam.

Ratna mengaku beberapa kali bertemu Siti. Kata Ratna, Siti mengatakan proyek itu dilakukan dengan metode penunjukan langsung dan siti juga menyebut nama Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo. "Apa itu bukan tender Bu? 'Tidak, itu kan sudah ada SK saya soal KLB'," kata Ratna menirukan dialognya dengan Siti.

Siti berang dan membantah ucapan mantan anak buahnya itu. Hakim Ketua Nawawi untuk kesekian kalinya memperingatkan Siti. "Makanya tadi saya katakan, jawablah dengan berfikir dulu. Gimana tanggapan Saudara?" tanya Nawawi.

"Tidak ada (perintah penunjukan langsung), saya sudah bersumpah. Saya shock mendengar ini," kata Siti. Nawawi pun mencoba menetralkan situasi, "Saya sekarang berhadapan dengan dua perempuan paruh baya. Saya tahu mana raut muka uang shock dan mana tidak."

Namun, Ratna menandaskan yang ia katakan adalah benar. "Saya sampai kapan pun, sampai menghembuskan nafas terakhir akan tetap mengatakan ini benar adanya," kata Ratna.

Ratna juga mengaku pernah dimarahi Siti karena mendengar perusahaan lain akan masuk dalam lelang. "Kamu jangan coba-coba melanggar perintah saya, berikan ke Rudi," kata Ratna menirukan omelan Siti.

"Aneh sekali. Saya shock mendengar ini, saya tak pernah seperti itu. Saya tahu persis Rudi itu rekanan dia sejak di Palembang sebelum saya jadi Menteri," Siti giliran menuding. Ratna tak peduli dengan tudingan itu dan terus membeberkan data pertemuan dirinya dengan Siti.


Pada Oktober 2007, Ratna mengaku dipanggil Siti. "Rat, itu ada anggaran lagi, metodenya sama ya dengan penunjukan langsung, berikan ke Tatat dari Kimia Farma, nanti tak suruh menghadap ke kowe," kata Ratna menceritakan omongan Siti. Sekali lagi, Siti membantah keterangan Ratna itu.


Pada 21 Okt 2009, ketika pisah sambut antara Siti dengan Menkes baru, Endang Rahayu, Ratna yang sudah diperiksa KPK sempat bersalaman dengan Siti. Saat itulah, kata Ratna, "Saksi (Siti) bilang, 'Kowe aman, ya Rat?' Saya bilang, saya tidak tahu aman atau tidak," kata Ratna menirukan ucapan Siti kepadanya.

"Saya tidak ingat apa salaman dengan beliau. Seingat saya ketemu dengan beliau saja tidak," kata Siti membantah.

Ratna juga membeberkan reaksi Siti ketika Ratna melapor ke Siti terkait penyelidikan dari KPK terkait proyek tersebut. "Saya melaporkan harus gimana Bu? Tolong saya. Beliau berdiri dari kursinya, 'Saya kan engga tau apa-apa, saya kan engga dapat duit dari Rudi. Saya hanya bilang barang Rudi bagus'," kata Ratna.

Ketika sidang akan usai, Hakim Ketua Nawawi menawarkan Siti untuk bersalaman dengan Ratna yang baru saja berseteru. Siti sempat tertegun beberapa saat di kursinya. Namun ia akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran salaman dari hakim. (Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved