Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , » Minat Politik Anak Muda Masih Terbelah

Minat Politik Anak Muda Masih Terbelah

Written By Amir Sodikin on Senin, 05 Agustus 2013 | 20.47


Minat dan partisipasi anak-anak muda ternyata makin meningkat seiring dengan pemanfaatan teknologi internet, terutama yang melanda pada dunia media sosial. Namun, perlu digarisbawahi, minat politik dan partisipasi kalangan netizen atau pengguna internet itu terbelah menjadi dua.

Aktivis dan praktisi media sosial, yang juga co-founder Change,org, Usman Hamid, di Jakarta, Minggu (4/8), mengatakan mereka yang aktif dalam berbagai partisipasi politik di media sosial umumnya berbeda jika dihadapkan pada politik riil. Hal itu terjadi karena ada "tembok" berupa persepsi buruk terhadap dunia politik yang dianggap kotor dan korup.

"Di sisi lain, mereka ingin memfungsikan sistem, yakni dengan mendorong agar pejabat A, atau instansi B, atau perusahaan C untuk memenuhi tuntutan anak-anak muda melalui, misalnya petisi online," kata Usman. Kesimpulan Usman didasari pengalamannya sebagai co-founder Change.org, sebuah situs petisi online yang kini menjadi salah satu tambatan partisipasi politik anak-anak muda.

"Prediksi saya rata-rata mereka yang aktif secara politik di sosial media akan ikut Pemilu. Yang belum bisa dipastikan ikut pemilu adalah mereka yang aktif di sosial media, tapi juga aktif bergerak di luar sistem dengan ikut inisiatif lain," kata Usman.

Namun, Usman membantah bahwa kekuatan anak muda di media sosial tak bisa ditransformasikan ke politik dunia nyata. "Kita telah punya pengalaman bagus. Pengalaman ketika mendukung KPK di media sosial akhirnya bisa jadi kekuatan riil waktu itu," kata Usman.

Usman menegaskan, tujuan gerakan politik di media sosial bukan untuk memobilisasi publik, dalam hal ini kaum muda, untuk bisa digerakkan ke politik dunia riil. "Tujuan utama adalah mengubah keadaan secara riil. Jadi kalau memang lewat dunia maya, perubahan bisa terjadi, itulah kekuatannya. The goal is to change, not to mibilize, itu kata pendiri Change.org Ben Rattray," papar Usman.

Selama terlibat dalam praktik gerakan sosial dan politik di media sosial, Usman mengakui ada problem serius antara politik dunia riil dengan media sosial. Anak-anak muda sebenarnya teraleniasi atau tersingkirkan dari panggung politik. Sementara, citra politik riil masih dinilai busuk dan didominasi oligarki pemodal.

Ke depannya, kata Usman, gerakan netizen harus bisa mengerahkan potensi kaum muda sebagai kekuatan politik riil. "Menjadi shadow parliament (parlemen bayangan). Bukan sebatas menjadi voters (pemilih) dari politisi-politisi konvensional yang semakin hari semakin memperlihatkan kebusukan politik," kata Usman.

"Gagasan besarnya adalah ingin melampaui politik elektoral. Agar terlepas dari oligarki pemodal dan partai. Tapi memang sulit kita berlari dari sistem pemilihan umum yang bau oligarki," lanjut Usman.

Usman menyoroti dua persoalan saat ini. Pertama, krisis pada demokrasi elektoral berbasis elite dan partai-partai oligarkis. Kedua, pencarian peran dan pengaruh politik kaum netizen muda yang sedang masuk ke ranah publik politik. Krusial untuk segera dilakukan adalah bagaimana memperbanyak dialog dua ranah berbeda tersebut.

Direktur PoliticaWave, Yose Rizal, yang sering memantau aktivitas sosial media untuk peristiwa-peristiwa politik, meyakini bahwa potensi anak-anak muda dalam partisipasi politik. "Media sosial telah mengantarkan anak-anak muda melek politik, di sisi lain juga mengantarkan generasi tua untuk mengenal teknologi," katanya.

Dalam setiap peristiwa politik, misal pada Pemilihan Kepala Daerah, di berbagai kota di Indonesia makin gencar mendiskusikan calon-calon yang akan bermain di Pilkada. Menurut Yose, partisipasi dan persepsi anak-anak muda terhadap apa yang terjadi di dunia politik riil tak bisa diabaikan begitu saja. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved