Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , » Setitik Terang Intrik Daging Impor

Setitik Terang Intrik Daging Impor

Written By Amir Sodikin on Sabtu, 24 Agustus 2013 | 20.36

Photo: Kilasfoto.com
Nama Elda Devianne Adiningrat, Komisaris PT Radina, ini begitu menggema dan setengah misterius di tengah pusaran kasus dugaan suap pengajuan kuota impor daging. Disatukan dengan Ahmad Fathanah, seolah menjelma menjadi senyawa mengerikan sebagai makelar kakap yang lobi-lobinya yang digambarkan mampu menembus level menteri.

Ketua Majelis Hakim Nawawi Pomolango, yang menyidangkan terdakwa Ahmad Fathanah, tak bisa menutupi persepsinya terhadap sosok Elda. Di bayangan Nawawi, Elda adalah sosok kuat, powerfull, cerdas, lincah, dan lihai.

Namun, Kamis (22/8) kemarin, Elda datang menghampiri kursi saksi dengan begitu lemahnya. Elda harus dipapah beberapa orang petugas untuk bisa duduk sempurna di kursi saksi. Cara bicara Elda pun terbata-bata, kurang jelas, gugup, dan tampak ringkih.

"Apa Saudara sakit?" tanya Nawawi kepada Elda. Elda mengiyakan namun memberi komitmen bahwa ia bisa kuat untuk menjawab pertanyaan. "Harus kuat, perempuan dewasa tak akan menangis, itu yang saya dengar juga dari seorang saksi di sidang ini," kata Nawawi.

Sekitar satu jam pertama sidang berlangsung, tak ada sesuatu yang berharga keluar dari mulut Elda. Semua pertanyaan dijawab sekenanya dan tampak gugup. "Kalau Saudara menjawab apa adanya, Anda akan lancar bercerita," kata Nawawi.

Hakim I Made Hendra Kusuma yang dikenal dengan pertanyaan-pertanyaan menohoknya, mulai mendapat giliran bertanya. Ia mencoba memperjelas desas-desus yang selama ini berkembang, mulai dari pertemuan Lembang hingga pertemuan Kuala Lumpur.

Elda semakin terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pertemuan Kuala Lumpur yang melibatkan putra Ketua Dewan Syuro PKS Hilmi Aminuddin, Ridwan Hakim, Elda, dan Ahmad Fathanah. Hampir 15 menit Elda menjawab tanpa fokus dan kemudian mengakibatkan asma Elda memburuk.

"Saudara saksi masih sehat atau tidak? Kok tiba-tiba sakit. Memang saudara sakit apa?" tanya Made Hendra. "Saya asma. Boleh saya ambil inhaler (obat pelega pernafasan) dulu?" jawab Elda.

Hakim mempersilakan Elda untuk istirahat minum dan mengatasi asmanya. Made Hendra kembali menanyakan apakah Elda bisa melanjutkan sidang. "Enggak apa-apa yang mulia. Saya masih sanggup," kata Elda.

Nawawi mencoba menguatkan Elda, layaknya seorang motivator. Nawawi mengatakan, jika kita berprasangka buruk, maka kondisinya atau hasilnya akan makin memburuk, jika kita menganggap kita sakit, maka kita akan benar-benar sakit. "Jangan selalu merasa sakit, nanti benar-benar sakit lho," kata Nawawi yang disambut senyum pengunjung sidang.

Sudah banyak kata-kata yang dilontarkan Nawawi untuk merayu Elda agar berkata yang sebenarnya. Mulai yang bernada ancaman pidana penjara jika melakukan sumpah palsu, hingga kata-kata yang bersifat menenangkan. "Saya lihat sorot mata Saudara, tak seperti kondisi sakit Saudara," kata Nawawi.

"Saya lihat Saudara cerdas. Tadi ketika Saudara menjawab pertanyaan yang nyaman, Sudara bisa menjawabnya dengan lancar. Jawablah dengan benar agar tak menambah beban sakit," begitu Nawawi mencoba mengangkat kepercayaan Elda.

Elda akhirnya mau memberikan kesaksian yang sebelumnya belum pernah ia sampaikan. Ia menjelaskan, menurut terdakwa Ahmad Fathanah, memang ada pertemuan di Lembang yang dihadiri Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq, Ketua Dewan Syuro PKS Hilim Aminuddin, dan Menteri Pertanian Suswono.



Dua hasil dalam pertemuan itu yaitu PT Indoguna akan dibantu dalam pengurusan kuota impor daging dan Elizabeth akan memberikan komitmen untuk membantu dana PKS. "Apa komitmen itu sudah diwujudkan?" tanya Made Hendra. "Sudah, ya itu Rp 300 juta," kata Elda.

Pertemuan di Lembang itu memberikan harapan bahwa lobi-lobi terhadap Kementerian Pertanian bakal berhasil karena adanya komitmen para tokoh PKS. Namun, kata Elda, "Kita pulang dari pertemuan Medan semua orang kecewa, yang diharapkan Pak Suswono akan bantu tapi ternyata tidak," kata Elda.

Made Hendra juga mengejar Elda dengan pertanyaan terkait pertemuan di Kuala Lumpur yang melibatkan putra Ustadz Hilmi, Ridwan Hakim dengan dirinya dan Ahmad Fathanah. Elda mengakui salah satu pembicaraan adalah mengenai tunggakan uang komisi Rp 17 miliar dari Direktur Utama PT Indoguna Maria Elizabeth Liman.

Tidak dijelaskan dengan gamblang apakah tunggakan itu untuk Hilmi atau Ridwan karena Elda tak mengerti detail perkara tersebut. Menurut Elda, ada komisi pengurusan kuota impor daging sapi pada masa terdahulu yang belum terselesaikan oleh Elizabeth.

"Ada janji yang yak terpenuhi dari Elizabeth kepada Ridwan terkait kuota impor daging pada masa dahulu, saya tak tahu (detailnya), Pak. Fathanah bilang, 'Bunda, Ibu Elizabeth ini ada massalah dengan Ustadz Hilmi. (Kemudian saya tanya) Ibu Elizabeth dia bilang, 'No No No tidak tidak," Elda menjelaskan.

Elda juga sempat dijelaskan tentang justice collaborator, yaitu saksi pelaku yang mau bekerjasama dengan penegak hukum untuk mengungkap terangnya sebuah kasus. "Ini kesempatan Saudara," kata Nawawi.

Usai menyampaikan soal justice collaborator, Nawawi membidik Elda dengan pertanyaan mengapa Elda dan Fathanah menghadirkan sosok Luthfi Hasan Ishaaq dalam pengurusan kuota impor. Elda pun mengakui jika usaha itu dilakukan karena ada harapan Luthfi sebagai Presiden PKS bisa mempengaruhi Menteri Pertanian Suswono yang sama-sama dari PKS.

Para hakim masih bertanya-tanya, soal kaitan pertemuan di Kuala Lumpur itu dengan pengurusan kuota yang baru, yang sedang diupayakan Fathanah dan Elda. Mendekati akhir sidang, Elda memberi pengakuan penting.

Adalah Ketua Majelis Hakim Nawawi Pomolango yang pada waktu genting mendekati sidang berakhir melontarkan pertanyaan terakhirnya. "Ada kaitannya enggak dengan pengurusan kuota ini harus menyelesaikan kasus Ridwan (tunggakan Rp 17 miliar yang dibahas di Kuala Lumpur)," tanya Nawawi.

"Tidak eksplisit, cuman dikatakan ini berkaitan," jawab Elda. "Lalu implisitnya bagaimana?" tanya Nawawi.

Sempat lama berfikir, akhirnya dengan lirih Elda menjawab, "Usaha Ahmad Fathanah (untuk mengurus kuota PT Indoguna yang baru) ini tak disukai oleh Ridwan," kata Elda.

Terjawab sudah teka-teki pertemuan hingga di Kuala Lumpur tersebut dan para hakim tampak mengerti. "Jangan-jangan sulit mengurus kuota yang baru ini jika tak direstui Ridwan?" tanya Nawawi. "Iya," jawab Elda.

Kesaksian Elda ini memperkuat anggapan bahwa Fathanah adalah pemain baru di bidang daging yang sepak terjangnya tak disukai oleh pihak lain yaitu Ridwan. Dalam rekaman percakapan, Elda memang sempat memberi label seseorang sebagai "pemain nomor 1 di PKS". Namun, tak dijelaskan apa maksud pemain nomor 1 tersebut.

Ridwan seharusnya hadir juga sebaga saksi, namun sudah dua kali tak memenuhi panggilan. Jaksa KPK Muhibbudin sempat mengeluhkan mangkirnya Ridwan dan Ketua Majelis Hakim Nawawi memerintahkan jaksa untuk melakukan panggilan paksa jika tak mau datang.

"Ada mekanisme rujukan upaya pemanggilan paksa supaya digunakan. Kalau enggak digunakan akan menjadi percuma. Kan sudah ada ketentuannya dalam Pasal 24 UU nomor 31 nomor 1999 sebagaimana telah diubah dengan pasal 20 tahun 2001. Lagipula juga ada ancaman pidananya," kata Nawawi sebelum menutup persidangan. (Amir Sodikin)

Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved