Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , » Suap Sang Master Baja Itu pun Terbongkar

Suap Sang Master Baja Itu pun Terbongkar

Written By Amir Sodikin on Kamis, 01 Agustus 2013 | 20.51

The Master Steel, perusahaan baja yang kokoh berdiri sejak tahun 1972 ini akhirnya goyak terkena masalah karena diduga menyuap penyidik pegawai pajak. Strategi dan rencana rapi dan njelimet untuk memuluskan suap akhirnya terbongkar juga.

Kali ini, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi membuktikan kelasnya sebagai investigator ulung yang mampu memecahkan skenario rumit para pelaku suap. Pekan ini, perkara ini sudah masuk Pengadilan Tindak Pidana Korupsi untuk pembacaan dakwaan.

Seorang bos PT The Master Steel, yang juga Direktur Keangan PT The Master Steel Diah Seomedi mulai diadili bersama dua stafnya yaitu Effendy Komala dan Teddy Muliawan. Dua pegawai pajak yang menjadi penyidik sekaligus pihak yang disuap belum masuk ke Pengadilan Tipikor Jakarta.

Dua orang penyidik pegawai Negeri Sipil Pajak itu adalah Eko Darmayanto dan Muhammad Dian Irwan Nuqisra, yang menerima suap 600.000 dollar Singapura. Suap itu bertujuan menghentian penyidikan perkara pajak PT The Master Steel.

Sedikit berbeda dengan pemberitaan sebelumnya, dalam surat dakwaan, Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi, Ahmad Burhanuddin, lebih memerinci detail perkara ini. Surat dakwaan juga menekankan bahwa suap terkait usaha menghentikan penyidikan, bukan untuk menutupi penunggakan pajak.

Perkara ini menarik dicermati karena setingi apapun teknik dan tekonologi yang digunakan para pelaku kejahatan, para penyelidik KPK tetap punya jangkauan untuk mengendus. Walau demikian, sntah siapa yang memberi informasi soal indikasi suap tersebut, namun tanpa informasi awal mustahil KPK bisa membongkar suap rapi ini.

Dari dua kali transaksi suap, penyelidik KPK yang menguntit perkara ini sejak awal sempat terkecoh pada transaksi pertama yang berlangsung di terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Baru pada transaksi kedua yang berlangsung di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, penyelidik KPK baru menyadarinya.

Transaksi pertama pada 7 Mei 2013, Effendi meminjam kunci mobil Eko. Selanjutnya Effendi meletakkan uang di mobil sehingga pada saat penyerahan uang antara Effendi dengan Eko tidak bertemu secara langsung.

Sorenya, Effendi membawa uang ke Terminal 2 menuju tempat parkir mobil Honda City dan meletakkan uang 300.000 dollar Singapura di bawah kolong jok sopir. Effendi kemudian menyerahkan kunci mobil ke Eko yang menunggu di sekitar parkiran.

Eko kemudian menemui Dian untuk serahkan kunci mobil, baru kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil Honda City. Dian langsung ambil uang di bawah jok sopir yang kemudian dihitung oleh Eko berjumlah 300.000 dollar Singapura.

Skenario itu rapi dan mampu mengecoh para investigator KPK yang sudah menunggui para pelaku di Bandara Soekarno Hattta. Para penyelidik KPK menganggap hari itu tak terjadi apa-apa karena tak ada transaksi penyuapan yang biasanya melibatkan pertemuan antara pemberi dan penerima.

KPK kemudian mendapat informasi bahwa akan ada penyerahan uang kedua pada 15 Mei 2013. Maka, segala sumber daya dan teknologi dikerahkan KPK untuk mengetahui lebih detail pola transaksinya.

Pelaku membuat skenario yang berbeda. Eko dan Dian meminta Effendi meletakkan uang di mobol Avanza, tak lagi Honda City, yang diparkir di area parkir Terminal 3, bukan lagi di terminal 2.

Kunci mobil dan STNK diberikan kepada Effendi sambil menunjukkan posisi parkir mobil. Kemudian, Effendi memberikan kunci Avanza beserta amplop berisi 300.000 dollar Singapura kepada staf The Master Steel, Teddy, dengan perintah agar diserahkan kepada Eko dan Dian.

Cara meletakkannya pun diubah, bukan di bawah jok sopir, namun di bawah karpet di bagian kaki kuris sopir. "Jam 09.00, Teddy mengendarai motor menuju Bandara Soekarno Hatta dan langsung menuju parkiran mobil Avanza, lalu meletakkan uang sesuai dengan petunjuk Effendi," papar jaksa Burhanuddin.

Kemudian Teddy menemui Eko dan menyerahkan kunci Avanza di toilet Terminal 3 Bandara Soeta. Tak ada penyerahan uang pada saat pertemuan tersebut sehingga hampir mengecoh penyelidik KPK yang menguntit pertemuan itu.

Namun, KPK baru menyadari bahwa Teddy sempat ke mobil dan jangan-jangan ia telah meletakkan sesuatu di sana. Maka, KPK pun memutuskan menyergap Eko dan Dian, juga Tedddy.

Awal mula kasus
Kasus ini bermula dari usaha Master Steel untuk menutupi transaksi senilai Rp 1,003 trilian yang diakui sebagai pinjaman dari Angel Sitoh, warga negara Singapura. Sebenarnya transaksi itu merupakan penjualan kepada pihak ketiga dan seharusnya dicatat sebagai penerimaan.

Diah menyadari kesalahan itu dan Juli 2001 pihaknya membayar pajak terhutang ditambah denda 150 persen sebesar Rp 165 miliar. Namun, kasus transaksi Rp 1,003 triliun tersebut tetap akan diusut.

Ketika akan diklarifikasi, perusahaan itu tak bersedia memberikan data sehingga Kanwil Pajak Jakarta Timur menerbitkan Surat Perintah Penyidikan pada 2 April 2013. Pada 25 April 2013, Diah berusaha melobi DIan dan Eko agar menghentikan penyidikan tersebut.

Diah menjanjikan akan memberikan imbalan sebesar Rp 40 miliar dan Diah meminta Effendy mengatur cara penyerahan uang itu. Akhir 2013, Diah mengatakan pada 7 Mei 2013 akan memberikan uang Rp 10 miliar kepada Eko, sebagai bagian dari komitmen Rp 40 miliar.

Setelah menerima "uang muka" tersebut, Eko sengaja mengirim berkas perkara pajak tersangka Diah Soemedi tanggal 7 Mei 2013 ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta namun dibuat tidak lengkap. "Tujuannya supaya berkas perkara dikembalikan jaksa sehingga nantinya perkara dapat diterbitkan surat pemberitahuan penghentian penyidikan," papar jaksa Burhanuddin. (Amir Sodikin)

Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved