Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , » Data Bermasalah Menyebar Rata di Indonesia

Data Bermasalah Menyebar Rata di Indonesia

Written By Amir Sodikin on Kamis, 26 September 2013 | 13.17

Data pemilih bermasalah yang mencapai 65 juta, ternyata menyebar di
seluruh Indonesia, tidak dominan di provinsi tertentu. Saat ini Komisi
Pemilihan Umum sedang berupaya memperbaiki data menggunakan aplikasi
yang ada. Jika gagal, data itu akan dikembalikan ke kabupaten/kota
untuk diperbaiki.

Ketua KPU Husni Kamil Manik di kantor KPU Jakarta, Senin (23/9),
membantah bahwa jutaan pemilih bermasalah itu hanya terpusat di daerah
terpencil. "Sebarannya di seluruh provinsi merata, tak terpusat di
daerah tertentu karena faktor utama penyebabnya adalah sumber daya
manusia," kata Husni.


Seperti diberitakan, sebanyak 65 juta pemilih masih bermasalah akibat
Nomor Induk Kependudukan (NIK) kurang atau lebih dari 16 digit.
Standard NIK pemerintah adalah 16 digit. Persoalan ini berasal dari
penginputan data oleh petugas KPU daerah yang mengandalkan Microsoft
Excel. Mereka tak menyadari, Excel hanya mampu menampung angka numerik
maksimal 15 digit.


Menurut Husni, setidaknya ada dua faktor utama yang mempengaruhinya.
Pertama, akibat koneksi internet tidak ada atau lambat sehingga
pengetikan data disimpan dulu di Excel. Input yang dianjurkan
sebenarnya menggunakan sistem berbasis web yaitu Sidalih (Sistem
Informasi Data Pemilih).

"Mereka bermasalah dengan lebar pita internet yang terbatas sehingga
kesulitan mengirim data secara online. Kalau bisa online, mereka akan
pakai Sidalih," kata Husni. Di Papua, misalnya, pengiriman data online
hanya bisa dilakukan di provinsi.

Faktor kedua, akibat sumber daya manusia yang tak paham menggunakan
Excel. Sebenarnya ada trik tertentu untuk mengatasai persoalan digit
numerik ini. "Hanya saja, mereka tak memami Excel. Kelemahan SDM ini
tak hanya dijumpai di daerah terpencil tapi juga di daerah maju," kata
Husni.

Menurut Husni, faktor SDM ebih dominan dibanding aksesibilitas
internet. Karena itu tidak bisa dikatakan jika kesalahan itu hanya
terjadi di daerah terpencil.



Tak perlu panik

Walaupun ada 65 juta NIK invalid, namun data itu sudah masuk Sidalih
yang memuat 181 juta pemilih dan bisa diakses online. "Jadi, 65 juta
itu sudah masuk," kata Husni.

Karena itu, Husni menekankan agar masyarakat tidak panik karena data
65 juta yang bermasalah itu tak mengurangi hak warga negara untuk
memilih. KPU merilis data ini karena berharap semua data yang masuk
Sidalih nantinya sempurna dan valid.


Jika semuanya bisa diselesaikan KPU, maka semua data pemilih KPU bisa
diandalkan untuk peningkatan Pemilu berikutnya. "Total keseluruhan
yang datanya sudah valid mencapai 63 persen, 37 persen atau sekitar 65
juta sedang diupayakan dilakukan perbaikan," kata Husni.

"Kita coba perbaiki dulu secara sistem bisa enggak dibaca. Kalau bisa,
maka perbaikan jutaan data bisa dilakukan cepat. Kalau enggak bisa
diperbaiki dengan sistem, data akan dikembalikan ke kabupaten/kota
untuk diperbaiki," kata Husni.

KPU, kata Husni, masih punya waktu cukup untuk penyempurnaan data.
"Tak seseram komentar di media. Tahun ini semua data akan selesai.
Apalagi dengan pemberitaan ini, semua pemangku kepentingan
terbangunkan untuk mengawasi proses pemutakhiran data ini," kata
Husni. (AMR)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved