Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , » Mencari Capres yang Bisa Di-Googling

Mencari Capres yang Bisa Di-Googling

Written By Amir Sodikin on Kamis, 26 September 2013 | 13.13

Di negeri maya, jangan coba-coba bermimpi ingin menjadi presiden
memimpin mereka jika pengikut Anda di Twitter cuman ratusan orang.
Atau jika jumlah view atau tayang video anda di Youtube hanya beberapa
ratus saja.

Sadis....logika anak-anak muda warga internet atau netizen ini. Mereka
tak segan-segan mem-bully siapapun yang dianggapnya jauh dari
idealisme khas netizen. Bahkan seorang yang punya kuasa penuh di dunia
nyata, atau seorang jenderal sekalipun, siap-siap saja di-bully
anak-anak muda.

Fenomena seperti itu sudah mulai terlihat menimpa para peserta
konvensi bakal calon presiden Partai Demokrat. Perang di media sosial
tak terelakkan. Media sosial seperti Twitter, Youtube, Facebook, dan
berbagai forum, menjadi senjata termurah untuk mendongkrak
popularitas. Twitter menjadi media terlaris.

Jika peserta konvensi disaring dengan cara anak muda sekarang, misal
peserta dengan jumlah pengikut Twitternya di atas 100.000, maka hanya
tersisa empat peserta. Mereka adalah Dahlan Iskan (628.594 pengikut),
Anies Baswedan (292.970 pengikut), Dino Patti Djalal (175.053
pengikut), dan Marzuki Alie (127.162). Gita Wirjawan walaupun
pengikutnya di bawah 100.000, yaitu 44.855 pengikut, namun di dunia
media sosial gencar dibicarakan.

Direktur Politicawave Yose Rizal yang sering memantau pergerakan
capres di sosial media, mengatakan, pihaknya juga memantau para
kandidat dari Konvensi Partai Demokrat. Dari data Politicawave, tiga
besar calon yang paling banyak dibicarakan netizen adalah Dahlan Iskan
(8,4 persen), Gita Wirjawan (5 persen), dan Anies Baswedan (4,6
persen).

"Jumlah pembicaraan lumayan besar. Namun ketika kita masukkan calon
lain yaitu Jokowi, datanya langsung jomplang, 50 persen lebih
percakapan lebih tentang Jokowi," kata Yose.

Diantara beberapa peserta konvensi Partai Demokrat yang tampak sengaja
berkampanye di sosial media adalah Anies Baswedan dan Marzuki Alie.
Keduanya menggunakan video pidato mereka di Konvensi Demokrat.

Tim relewan Anies tampaknya sadar betul untuk berkampanye di Youtube
dengan menyiapkan dengan baik berbagai video yang dibutuhkan. Mulai
sekilas profil Anies, hingga pidato di dalam konvensi Demokrat.

Dino Patti Djalal dan Gita Wirjawan walaupun tak tampak sengaja
berkampanye, namun banyak video yang diunggah di Youtube yang
menampilkan sosok mereka di berbagai liputan televisi atau berpidato
di berbagai forum internasional.

Berbagai sambuatan positif maupun negatif didapatkan dari berbagai
kampanye itu. Di Youtube, misalnya, pengguna akun Adi Prasetya memberi
komentar pidato Anies, "Subhanallah. Begitu cerdas dan tenang dalam
penyampaiannya. Semoga kelak mampu membawa amanah bangsa ini."
"World Class Speech," kata Edi Supriyanto.

"Ini pidato keren sekali. Lugas, mudah dicerna, lucu," kata Andrianto
Soekarnen memberi komentar positif pidato Dahlan Iskan. " Lugas,
tegas, visioner dan apa adanya. Maju terus Bapak DI," sambar Mohammad
Drajad Wahyudi.

"Yang berkelas jelas: Anies, Gita, Dino, dan Dahlan. Mantap ini, kalau
gagal masukin jadi kabinet aja," kata Dany Fauzi.

Tak semua kampanye mendapatkan respons seperti yang diinginkan. Di
Youtube, pidato Marzuki Alie "dikerjain" pengunjung. "Monoton khas
pejabat yang tidak merakyat," kata Rahiyat Geno.

Kritik terhadap calon lain, terutama yang diidentifikasi netizen
merupakan generasi tua, lebih buruk lagi. Pramono Edhie Wibowo harus
menerima kritik seperti itu. "Kalau di kartun-kartun, narasi kaya gini
adalah nada pidato raja penjahat untuk menguasai dunia," kata pemilik
akun Bob Singadikrama.

Pengkritik lainnya tampaknya datang ke Youtube sekadar meninggalkan
jejak sentimen negatif bagi Demokrat. "Enggak minat aku capres dari
Demokrat, aku mendukung Jokowi," kata Rudi Anto. "Semuanya jadi
politisi kelas kambing dibanding Jokowi- Ahok," hardik akun Andi
Ilyas.

Kampanye di media sosial memang memiliki dua sisi mata uang, bisa
dimanfaatkan untuk memupuk citra positif, namun bisa pula digunakan
untuk kampanye memukul balik. Anies Baswedan tampak sudah menuai dua
sisi itu.

Seseorang yang menggunakan akun Cak Nur Lover, membuat tulisan di
Kompasiana dengan judul yang menohok, "Menguak Kedok Kelam Anieas
Baswedan". Tulisan itu segera diredam akun bernama Suratno dengan
tulisan "Anies Baswedan dan Paramadina".

Di era banjir informasi, perang seperti itu tak terhindarkan lagi.
Beruntung dalam kasus itu Anies memiliki "pengikut" yang dengan
sukarela mengcounter isu-isu negatif. Marzuki Alie, tampak belum
menurunkan timnya untuk mengatasi berbagai pemberitaan negatif yang
dengan mudah nongol ketika kita Googling nama dia.

Pandji Pragiwaksono, dalam tulisan di situs pribadinya www.pandji.com,
dengan gamblang juga menyatakan dukungannya ke salah satu peserta
konvensi. Ia punya pertimbangan khusus ketika mendukung sosok yang
dipilih.

"Saya mau punya presiden yang kalau ditanya orang 'Siapa sih Anies
Baswedan?' saya bisa jawab 'Googling aja namanya atau liat di
Youtube,' karena saya begitu yakin calon saya punya track record yang
jelas dan bersih," kata Pandji. (Amir Sodikin)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved