Banner Leaderboard
Headlines News :
Home » , , , » Syair Rayuan Sang Hakim yang Meluluhkan

Syair Rayuan Sang Hakim yang Meluluhkan

Written By Amir Sodikin on Senin, 02 September 2013 | 12.40

Dalam beberapa sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, kita belajar banyak bahwa pertanyaan tergalak dari seorang hakim bukanlah formula terbaik mengungkap fakta. Banyak terdakwa atau saksi "terbius" oleh teknik-teknik kuno berupa pertanyaan-pertanyaan mengandung empati dan bahkan mengandung motivasi, yang bisa menyentuh relung jiwa.

Nawawi Pomolango, yang saat ini menjadi Ketua Majelis Hakim untuk terdakwa Ahmad Fathanah (suap impor daging) dan Ratna Dewi Umar (kasus alat kesehatan), membuktikan kepiawaiannya meluluhkan orang-orang angkuh.

Nawawi membuktikan, hakim punya mantra untuk membuat terdakwa atau saksi membuka diri. Mantra itu berupa kata-kata nan bijak yang membuat saksi atau terdakwa dan bahkan pengunjung senyum-senyum sendirian. Bujuk rayu Nawawi terdengar seperti syair yang melenakan.

Orang terakhir yang "meleleh" karena rayuan Nawawi adalah Ridwan Hakim, saksi untuk terdakwa Ahmad Fathanah. Walau Ridwan sudah mengunci jawabannya dengan bicara tidak tahu atau lupa, Nawawi gigih mengajak Ridwan berubah.

"Saya banyak kenal orang bernama Ridwan. Ridwan penjaga surga dan Ridwan tetangga saya. Ridwan tetangga saya pernah telepon, 'Pak rumah Bapak kemalingan.' Saya pulang ternyata rumah saya kemalingan. Sejak saat itu saya percaya orang bernama Ridwan. Saya berharap Saudara bisa jadi Ridwan ketiga yang bisa saya percaya," bujuk Nawawi.

Bisa jadi, syaraf Ridwan mendengar bujukan itu mengendor sehingga keluar beberapa pernyataan penting. Jika Ridwan tegang kembali, Nawawi kembali berusaha mengingatkan, baik dengan cara keras maupun lunak.

Cara keras dengan membacakan ancaman hukuman jika Ridwan bohong. "Sekali lagi saya berharap Anda menjadi Ridwan ketiga saya. Setiap orang yang memberikan keterangan tidak benar ancamannya minimal tiga tahun dan maksimal 12 tahun. Anda paham?" tanya Nawawi dan Ridwan pun menjawab paham.

Nawawi mengerti apa yang dilakukan Ridwan untuk melindung orangtuanya, yaitu Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Hilmi Aminudin. Karena itu, ia sempat menyindir dengan kata-kata halus. Ridwan adalah pengusaha.

"Dulu saya pernah berfikir jadi pengusaha. Teman bilang jika ingin jadi pengusaha besar ada saratnya: lupakan siapa orangtuamu. Saya tak sanggup. Kalau Saudara sudah jadi pengusaha masih ingat orangtua Anda?" tanya Nawawi yang dijawab, 'Masih,' oleh Ridwan.

Orang lain yang mendapat "sentuhan" Nawawi adalah Elda Devianne Adiningrat, makelar pengurusan kuota impor daging. Elda sempat berbelit-belit di persidangan. Elda juga tampak lemah dan mengaku sakit asma.

"Apa Saudara sakit? Harus kuat, perempuan dewasa tak pernah menangis," kata Nawawi. Nawawi mencoba menguatkan Elda, layaknya seorang motivator.

Nawawi menekankan, jika kita berprasangka buruk, maka kondisinya akan memburuk, jika kita menganggap kita sakit, maka kita akan benar-benar sakit. "Jangan selalu merasa sakit, nanti benar-benar sakit," kata Nawawi.

Tak hanya Elda yang "meleleh" luluh, para pengunjung pun ikut "meleleh" dan tersenyum simpul. Beberapa kali kalimat Nawawi membuat saksi santai dan diharapkan percaya pada hakim. "Saya lihat sorot mata Saudara, tak seperti kondisi sakit," kata Nawawi.

"Saya lihat Saudara cerdas. Tadi ketika Saudara menjawab pertanyaan yang nyaman, Sudara bisa menjawabnya lancar. Jawablah dengan benar agar tak menambah beban sakit," kata-kata Nawawi ini seolah menjadi terapi atau "healing" bagi Elda.

Maka, Elda akhirnya mengakui beberapa fakta penting seperti adanya pertemuan di Lembang, di Kuala Lumpur, dan adanya ketidaksukaan kubu Ridwan terhadap upaya Fathanah mengurus kuota impor daging. Elda juga mengatakan, ada persoalan tunggakan uang komisi yang belum dibayarkan PT Indoguna ke Hilmi.

Beberapa pernyataan penting Elda sering didahului dengan kata-kata bujuk Nawawi. "Coba lihat ke belakang, itu ada Elizabeth di sana, tatap wajahnya agar ingat apa yang disampaikan saat itu. Ketika Anda ngomong seperti itu, dia cengengesan seperti menyiratkan Anda tidak benar ngomongnya," kata Nawawi.

Elda sempat terdiam, kemudian meneruskan penjelasannya. "Tak dibicarakan angka, (Maria Elizabeth, Direktur PT Indoguna) hanya bilang, 'Saya akan bantu partai Anda," kata Elda.

Usai sidang, Nawawi mendamaikan Elda dan Nawawi dengan memberi waktu bersalaman. Fathanah juga diperkenankan menyalami kedua perempuan yang pernah menjadi koleganya itu.

Saksi lain yang sempat dibuat kelimpungan adalah mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari. Sekuat apapun pernyataan Siti untuk bilang tidak tahu atau lupa, tak membuat Nawawi menyerah.

Siti dihadirkan sebagai saksi untuk Ratna Dewi Umar, mantan Direktur Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan, terdakwa perkara dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan. Suasana memanas ketika Ratna menyampaikan sanggahan dan konsisten menuduh Siti terlibat dalam kasusnya.

Nawawi tak gentar menjadi penengah bagi kedua perempuan paruh baya itu.
Siti berang dan membantah ucapan mantan anak buahnya itu. "Tidak ada (perintah penunjukan langsung), saya sudah bersumpah. Saya shock mendengar ini," kata Siti.

Nawawi pun mencoba menetralkan situasi, "Saya sekarang berhadapan dengan dua perempuan paruh baya. Saya tahu mana raut muka uang shock dan mana tidak."

Ratna meradang. "Saya sampai kapan pun, sampai menghembuskan nafas terakhir akan tetap mengatakan ini benar adanya," kata Ratna.

Ketika sidang akan usai, Nawawi menawarkan Siti untuk bersalaman dengan Ratna yang baru saja berseteru. Siti sempat tertegun beberapa saat di kursinya. Namun ia akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran salaman dari hakim. Siti pun terlena oleh rayuan Hakim Ketua Nawawi. (Sumber: AmirSodikin.com)
Share this post :

Posting Komentar

 
Sister Website : OWH | Amir Sodikin | Complain
Copyright © 2011. AmirSodikin.COM: Viewtiful My Indonesia - All Rights Reserved