EKONOMI LONTAR, PESONA PULAU ROTE YANG GERSANG
(5 votes)
Written by Amir Sodikin   

@2005 Amir Sodikin
@2005 Amir Sodikin
Sore menjelang maghrib, Marselina (36), warga Ti'i di Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, itu sudah berhasil mengentalkan cairan nira berwarna kecoklatan. Baunya harum. Iban (12), anak Marselina, menyiapkan cetakan cincin-cincin kecil dari daun lontar (Borassus sundaicus).

Dengan sendok makan Marselina menuangkan cairan gula mendidih ke
dalam cincin cetakan. Tim Lintas Timur-Barat yang menunggui proses
itu terbengong-bengong karena tak kurang dari satu menit lempengan-
lempengan gula itu sudah kering. Ajaib.

@2005 Amir Sodikin
@2005 Amir Sodikin
Ini sudah bisa dijual karena sudah kering, tidak usah dijemur
lagi. Tiap hari saya bisa membuat 100 lempeng, nanti dibeli tengkulak
Rp 1.000 per 8 lempeng," kata Marselina.
Tiap pagi dan sore hari di bulan Agustus hingga Oktober Imanuel
(40), suami Marselina, dan warga Rote lainnya memanjat pohon lontar
untuk meniris nira. Selain dijadikan gula lempeng, air nira bisa
dimasak menjadi gula air, gula semut, dan minuman tradisional
beralkohol atau sopie.

@2005 Amir Sodikin
@2005 Amir Sodikin
Di daerah tandus, pulau paling selatan Indonesia itu, lontar
menjadi nadi Pulau Rote. Makanan, minuman, alat musik, cara kerja,
budaya, dan adat istiadat semua berdenyut dengan lontar karena memang
di pulau gersang nan tandus itu lontar lah yang berjaya.(Amir Sodikin)
@2005 Amir Sodikin
@2005 Amir Sodikin

Foto-foto:
Kompas/Amir Sadikin

Proses terakhir adalah mencetak gula lempeng menggunakan cincin-
cincin yang terbuat dari daun lontar juga.

Memasak nira untuk dijadikan gula lempeng.

Membawa haik yang penuh berisi air nira siap dibawa ke dapur
pemrosesan.

Di puncak inilah air nira ditiris dan dituangkan ke dalam wadah
terbuat dari daun lontar atau haik.

 
< Prev   Next >