| EKONOMI LONTAR, PESONA PULAU ROTE YANG GERSANG |
| Written by Amir Sodikin | |
![]() @2005 Amir Sodikin Dengan sendok makan Marselina menuangkan cairan gula mendidih ke ![]() @2005 Amir Sodikin lagi. Tiap hari saya bisa membuat 100 lempeng, nanti dibeli tengkulak Rp 1.000 per 8 lempeng," kata Marselina. Tiap pagi dan sore hari di bulan Agustus hingga Oktober Imanuel (40), suami Marselina, dan warga Rote lainnya memanjat pohon lontar untuk meniris nira. Selain dijadikan gula lempeng, air nira bisa dimasak menjadi gula air, gula semut, dan minuman tradisional beralkohol atau sopie. ![]() @2005 Amir Sodikin menjadi nadi Pulau Rote. Makanan, minuman, alat musik, cara kerja, budaya, dan adat istiadat semua berdenyut dengan lontar karena memang di pulau gersang nan tandus itu lontar lah yang berjaya.(Amir Sodikin) ![]() @2005 Amir Sodikin Foto-foto: Kompas/Amir Sadikin Proses terakhir adalah mencetak gula lempeng menggunakan cincin- cincin yang terbuat dari daun lontar juga. Memasak nira untuk dijadikan gula lempeng. Membawa haik yang penuh berisi air nira siap dibawa ke dapur pemrosesan. Di puncak inilah air nira ditiris dan dituangkan ke dalam wadah terbuat dari daun lontar atau haik. |
| < Prev | Next > |
|---|





