PULAU ROTE & TRADISI LONTAR
(8 votes)
Written by Amir Sodikin   

@2005 Amir Sodikin
@2005 Amir Sodikin
Dengan lincah kaki Fredik Fangge (28) memanjat pohon lontar yang tingginya sekitar 30 meter. Di belakangya haik koneuk, yaitu wadah setengah lingkaran dari daun lontar yang digunakan sebagai tempat menaruh air nira, tampak kokoh di gantungan yang terbuat dari tanduk kerbau.

Sore itu warga Desa Oloamea, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote
Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), sedang menyadap nira. Beberapasaat
Fredik sudah berada di puncak.

Di atas pucuk pohon lontar (Borassus sundaicus) Fredik mengganti
haik koneuk yang telah dipenuhi nira dengan haik kosong. Haik yang
telah penuh itu dipasang pada pagi sehari sebelumnya dan haik kosong
yang dipasang sore itu akan diambil pada pagi keesokan harinya.
Nira yang didapat kemudian dibawa turun. Disodorkannya haik
tempat minuman yang diisi penuh air nira tersebut kepada Kompas, yang
menyambangi kampung tersebut didampingi pemerhati budaya Rote, Hanokh
Panie.

@2005 Amir Sodikin
@2005 Amir Sodikin
Kesegaran air nira yang didapat langsung dari haik memang tiada
duanya, sepertimendapatkan oase di tengah Pulau Rote yang panas dan
tandus. Rasa manis dan asam jadi satu.

Welcome drink" itu selalu diberikan warga Rote setiap kali
melihat orang asing menyaksikan mereka menderes nira. Ramah sekali.
Nira menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya, perekonomian,
dan perilaku orang-orang Rote. Nira hampir menjadi makanan pokok
sebagian warga. Mereka pada pagi hari minum nira, siang makan nasi,
dan sore minum nira lagi.

Nira juga bisa menyembuhkan sakit maag. Coba perhatikan, orang-
orang Rote pasti tak mengenal maag," kata Lukas Fangge (25), adik
Fredik.

Air nira kemudian dibawa menuju dapur untuk diproses menjadi gula
air atau tuak nasu. Bentuk gula air masih cair dengan warna kuning
kecoklatan, baunya khas seperti madu. Cairan ini bisa langsung
digunakan sebagai pemanis.S

Selain dijadikan gula air, beberapa desa mengembangkan nira
menjadi gula lempeng dan gula semut. Setiap pembuatan produk menuntut
perlakuan berbeda pula.

Saya khusus membuat gula lempeng," kata Marselina Pandi Haning
(36), istri Imanuel (40), warga Oehandi, Kecamatan Rote Barat Dayan,
yang dikenal sebagai daerah bekas kerajaan Ti'i. Hari itu Marselina
merebus nira enam periuk dari hasil ladi tuak 10 pohon lontar.
Dalam sehari penghasilan pembuat gula air maupun gula lempeng
berkisar Rp 25.000 hingga Rp 50.000 tergantung dari banyaknya pohon
lontar. Rata-rata warga memiliki 15 pohon lontar yang ditiris pada
pagi dan sore hari.

Daerah Ti'i dikenal penghasil gula lempeng terbesar di NTT.
Pedagang pengumpul, Yusak Nawa (49), mengatakan, tiap pekan bisa
mengumpulkan 15.000 gula lempeng.
Gula tersebut langsung dibawa ke Kupang. "Saya beli dari warga
Rp 1.000 per 8 lempeng, selanjutnya saya jual ke Kupang Rp 4.000 per
kilogram," kata Yusak.

i wilayah tersebut ada empat desa penghasil gula lempeng, yaitu
Meowain, Oehandi, Oetifu, dan Lalukoen. "Jutaan lempeng tiap bulan
berhasil kami kumpulkan jika sudah musimnya," kata Yusak.

@2005 Amir Sodikin
@2005 Amir Sodikin
Meniris nira
Sepanjang Agustus hingga Oktober hidup petani Rote sebagian
dihabiskan di atas pohon lontar untuk meniris nira. Di luar bulan itu
petani kembali ke sawah atau berkebun.

Wajah Ti'i seperti daerah lainnya di Rote sekilas seperti tak
bermasa depan. Orang luar begitu memasuki Rote pasti berkerut dahi
membayangkan bagaimana hidup di pulau tandus itu.

Tak disangka, lontar telah menopang hidup warga Rote. Rote
menjadi penghasil gula lempeng dan gula semut terbaik dan terbesar di
NTT. Topi khas Rote, yaitu Ti'i Langga yang terbuat dari anyaman
daun lontar, juga mengharumkan nama NTT.

"Hidup orang Rote benar-benar ditopang pohon lontar, rumah dari
daun dan pelepah lontar, makan-minum dari nira,wadah air dari daun
lontar, musiknya, yaitu sasando, juga dari daun lontar," kata Hanokh
yang merasa "diantarkan" oleh hasil lontar menjadi guru SMP 3 Rote
Tengah.

Gula air bisa difermentasi dan disuling menjadi sopie, yaitu
minuman tradisional beralkohol. Sopie ini bisa disuling lagi menjadi
alkohol yang bisa digunakan untuk kepentingan medis. Orang Rote
memang hebat.

Dengan luas wilayah 1.280,10 kilometer persegi dan jumlah
penduduk 106.298 jiwa, seharusnya Kabupaten Rote Ndao bisa bangkit
dari ketertinggalan. Sejak lepas menjadi kabupaten tahun 2002,
pertumbuhan ekonomi Rote Ndao tahun pada tahun 2003 sebenarnya tak
terlalu buruk, yaitu 4,56 persen.

Masalah utama kabupaten ini adalah indeks kemiskinan manusia yang
tinggi mencapai 27,50 persen. Selain itu, 30,80 persen penduduk Rote
juga menghadapi akses sarana kesehatan tak memadai dan balita kurang
gizi mencapai 41,80 persen.

Rote sebenarnya memiliki modal, tidak hanya lontar, tetapi juga
memiliki potensi wisata menarik. Ada pantai indah yang sulit dicari
tandingannya, yaitu Pantai Nembrala tempat terbaik berselancar.
Sayangnya, tidak ada promosi memadai.

Dengan promosi yang baik, diharapkan orang tak hanya mengenal
Rote sekadar pulau paling selatan Indonesia yang nelayannya sering
ditangkap Australia. Rote sudah layak menjadi mahkota baru dari Timor
karena sesuai dengan "istilah" yang populer di sana, TIMOR adalah
Tanah Ini Milik Orang Rote. (Kompas/Amir Sodikin)

Foto: Warga Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, ini
setiap hari selalu memanjat pohon lontar untuk meniris nira. Air nira
bisa digunakan untuk membuat gula air, gula lempeng, gula semut, atau
minuman tradisional beralkohol yang disebut sopie, dan juga alkohol
untuk kepentingan medis.

 
< Prev