 @2005 Amir Sodikin Sasando. Tidak salah lagi, Pulau Rote-lah yang memiliki alat musik petik yang ruang resonansinya terbuat dari haik, bentuk setengah lingkaran yang dibuat dari daun lontar. Tim Lintas Timur-Barat seharian menyisir pulau mencari pembuat dan pemain sasando. Hasilnya tidak begitu menggembirakan. Pemain dan pembuat sasando ternyata mulai langka.
Menyusuri Nusa Tenggara Timur serasa belum lengkap jika tidak menyambangi Pulau Rote Kabupaten Rote Ndao. Rote layak dikunjungi bukan semata karena pulau terluar Indonesia paling selatan, namun juga karena budayanya yang unik. Di pulau ini sasando adalah puncak pencapaian seni musik yang ditemukan sejak abad ke-15. Hanokh Panie, warga Rote yang menjadi pemandu sukarela tanpa mau dibayar membawa tim kepada Yusuf Nggebu, pemain dan pembuat sasando ternama di pulau itu. Hampir semua orang Rote mengenal Yusuf Nggebu (82). Namun, kini pemilik nama besar itu tidak lagi aktif bermain karena usianya yang sudah lanjut.  @2005 Amir Sodikin Ketika dikunjungi, Nggebu masih bersemangat membahas nasib sasando yang saat ini hampir kolaps. Di mata Nggebu, sasando bukan sekadar alat musik tradisional, namun lebih dari itu, sasando telah menjadi identitas Rote. Nggebu menceritakan hikayat asal-usul sasando yang penuh dengan "warna". Sasando berasal dari kata sari (petik) dan sando (bergetar) yang diyakini diciptakan Sanggu Ana pada abad ke-15 di pulau kecil dekat Pulau Rote, yaitu Pulau Dana, yang waktu itu dikuasai Raja Taka La'a. Sanggu adalah warga Nusa Ti'i di Pulau Rote Barat Daya. Dia ditahan Raja Dana saat terdampar di pulau itu ketika mencari ikan bersama kawannya, Mankoa. Selain seorang nelayan, Sanggu juga seorang seniman. Saat itu Raja Dana memiliki putri. "Tidak disebutkan siapa nama putri ini," kata Nggebu. Putri jatuh cinta kepada Sanggu. Kepada Sanggu, putri menyampaikan permintaannya untuk memiliki alat musik baru yang diciptakan Sanggu dan bisa menghibur rakyat. Putri memang suka membuat hiburan rakyat saat purnama tiba. Sanggu kemudian menciptakan sari sando yang artinya bergetar saat dipetik. Saat itu dengan tujuh tali yang terbuat dari serat kulit kayu atau akar-akaran. Hubungan putri dengan Sanggu itu ketahuan Raja Dana. Sang Raja Taka La'a marah besardan menghukum mati Sanggu. Kawan Sanggu yang sempat melarikan diri, Mankoa, melaporkan kejadian itu ke Nusa Ti'i. Anak Sanggu di Ti'i, Nale Sanggu, marah mendengar ayahnya tewas. Nale balas dendam bersama 25 kesatria Ti'i. Seisi Pulau Dana dimusnahkan, hanya anak-anak dan alat musik sasando warisan ayahnya yang diselamatkan ke Ti'i. Di Ti'i sasando dimodifikasi, talinya menjadi sembilan. "Musiknya sudah bisa lima not terdiri dari mi, sol, la, do, re. Si dan fa tidak ada," jelas Nggebu. Pada zaman Belanda, abad ke-18, jumlah tali ditambah menjadi 10 tali. Sesudah merdeka kembali mengalami perubahan dengan menambahkan tali menjadi 11 tali. Pada abad ke-19, sasando sasando haik itu dimodifikasi menjadi sasando biola oleh putra Ti'i bernama Kornelis Frans. Disebut sasando biola karena saat membuat nadanya disesuaikan nada biola. Jumlah tali menjadi 39 buah dan nada pokok menjadi tujuh not. Kepada Tim Lintas Timur-Barat, Nggebu menunjukkan sasando biola miliknya yang sudah dimodifikasi. Ruang resonansinya tak lagi menggunakan haik, namun diganti kotak kayu dan dihubungkan amplifier agar suaranya nyaring.
Menjelang punah Nasib sasando biola semakin mengkhawatirkan karena lebih sulit memainkannya. Hanya Nggebu yang bisa memainkan baik sasando haik maupun sasando biola secara sempurna. Lebih sulit jika mencari pembuat sasando biola, kini tidakada lagi yang bisa membuat sasando biola. "Pak Nggebu ini yang bisa membuat baik sasando haik maupun sasando biola dengan baik," kata Hanokh Panie, guru SMP 3 Rote Tengah yang pernah mengajar pembuatan sasando. Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Rote Ndao, Musa Balokh, mengatakan, saat ini sebenarnya masih ada beberapa pengrajin sasando haik. Situasi kritis yang menimpa nasib sasando biola ini juga dituturkan Maria (56), istri kedua Nggebu. Kata Maria, tidak ada yang bisa mewarisi pembuatan maupun memainkan sasando biola. Dari 10 anak Nggebu hasil perkawinan istri pertama mendiang Mariana Henu, hanya tiga orang yang mewarisi sebagian kemampuan ayahnya. Paulus Nggebu, anak keempat, bisa memainkan sasando haik, namun kemampuannya tak terasah lagi karena tinggal di Jakarta. Yandri Nggebu, anak kesepuluh, juga bisa memainkan sasando haik, namun lagi-lagi tidak maksimal karena berada di Jakarta. Hal yang sedikit menggembirakan, salah satu anak perempuan nomor dua, yaitu Yakoba yang masih tinggal di Rote, bisa memainkan baik sasando haik maupun sasando biola. Nggebu berharap pemerintah mengambil alih usaha pelestarian kesenian sasando. Selama ini pemerintah dinilai tidak aktif mengembangkan sasando. "Pemerintah bisa mempertahankannya dengan memasukkannya sebagai mata pelajaran sekolah," usul Nggebu. Sebenarnya regenerasi pemain maupun pembuat sasando pernah dilakukan, namun tidak membuahkan hasil. Hanokh Panie pernah diundang pemerintah mengajar pelatihan pembuatan sasando. Namun, tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi perajin. Padahal, biaya pelatihan cukup besar. (Kompas/Amir Sadikin)
Foto: Yusuf Nggebu bisa disebut generasi terakhir Sasando Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. |