E-Book: DARI KOMPUTER HINGGA HP MUNGIL
(6 votes)
Written by Amir Sodikin   

ImageSampai sekarang, masih cukup nyaman untuk berselancar di http://bse.depdiknas.go.id. Di situs itu, kita bisa membaca langsung (secara online) buku-buku pelajaran dengan penuh kesabaran karena ukuran file cukup besar. Untuk ukuran koneksi internet di Jakarta pun masih menjadi persoalan besar.

 

Namun, ada alternatif murah untuk bisa menikmati e-book, yaitu
harus mengunduh terlebih dulu ke komputer atau ke pembaca dokumen pdf
lainnya. Dengan dua cara itu, siswa secara teoretis memiliki
alternatif.

Hadirnya buku sekolah elektronik (BSE) atau lebih dikenal sebagai
e-book dari sisi konsep harus didukung semua pihak. E-book merupakan
solusi murah dan bermartabat bagi generasi yang ingin mengenyam
pengetahuan. Namun, di Indonesia, e-book justru masih mahal.

Selain infrastruktur internet terbatas, kendala kultur juga dominan.
Tak mudah mengubah kultur membaca dari format buku ke format
digital. Karena itu, walaupun Departemen Pendidikan Nasional memberi
terobosan baru soal BSE, minat terhadap buku elektronik masih bisa
dibilang nol.

"Sekolah belum pernah menyosialisasikan e-book, jadi ya kami tetap
harus beli buku biasa tahun ini, kalau buku-buku kelas II dulu
habisnya sekitar Rp 600.000, mungkin untuk kelas III ini bisa lebih,"
kata Alfina Fauziyah, siswi Kelas III SMA Negeri 112 Jakarta.

"Di sekolah kami juga belum diperkenalkan, kami harus beli buku
Kelas I, Kelas II, dan Kelas III karena sekolah kami pakai SKS (sistem
kredit semester)," kata Vera Astuti, Kelas II SMA Negeri 78 Jakarta.

Vera juga belum mendapat informasi pasti dari sekolah apakah
kurikulum di BSE itu sama seperti buku yang direkomendasikan sekolah
atau tidak. "Prinsipnya sih sekolah membolehkan kita mau pake buku
apa, terserah saja asal ujian bisa. Jadi kalau semua buku sudah ada di
BSE, maka biaya buku akan makin murah," kata Vera.

Teknologi murah
Untuk ukuran Jakarta, akses internet yang sudah meluas pun tak
bisa menolong untuk menyosialisasikan buku elektronik. Jadi, tak perlu
bicara kondisi di Papua atau Kalimantan atau Sulawesi hanya untuk
mengatakan e-book ini tak punya popularitas di kalangan siswa.

Namun, harus dicanangkan ke depannya siswa harus lebih akrab
dengan e-book karena selain teknologi ini murah, tradisi ini juga
makin membuat masyarakat makin melek internet.

E-book merupakan tradisi lama di dunia internet untuk menyebarkan
materi pengetahuan secara murah dan cepat. Uniknya, di Indonesia e-
book lebih dikenal oleh kalangan para pemburu dollar lewat internet. E-
book memang sempat menjadi komoditas dagang bagi para netizen.

Bahkan, kata-kata e-book sempat "keramat" dan dianggap "hi-tech"
di kalangan masyarakat yang masih pemula soal internet. Sempat bikin
heboh karena hanya dengan e-book, orang biasa di dunia internet bisa
menjual mimpi cepat kaya melalui internet.

Caranya, dengan membangun jaringan semacam multilevel marketing
untuk menyebarkan janji-janji cepat kaya lewat internet. Janji cepat
kaya itu tak lain adalah jualan e-book yang hanya berisi dasar-dasar
pemasaran dan janji-janji cepat kaya.

Masa depan "e-book"
Depdiknas memulai awal yang baik dengan memperkenalkan e-book yang
didukung server-server lumayan kencang. Jika kita membuka buku online
akan diberi pilihan mengakses beberapa server, di antaranya server
utama Jardiknas Jakarta, server Universitas Indonesia Depok, server
Open Source Telkom Jakarta, dan server Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.

Sebanyak 49 jilid buku sudah terbeli hak ciptanya dan sekarang
sekitar 37 judul buku sudah bisa dilihat di website. Jika rencana
bulan Agustus 2008 tercapai, yaitu dengan membeli hak cipta 250 judul
buku, masa depan dunia pendidikan bisa dibilang melegakan. Dengan
catatan, tak ada paksaan memilih dan membeli format buku cetak plus
wajib adanya pendidikan bagaimana mengakses buku elektronik.

HP pun jadi
Membaca buku elektronik dari internet? Lupakan saja! Selain terasa
berat untuk membuka tiap halaman, kendala lain adalah pelajaran tak
bisa disimpan dan tentu saja jika biaya internet harus ditanggung
sendiri, maka bisa membuat tagihan melonjak.

Solusi lain adalah dengan mengunduh file-file pelajaran tersebut
dan bisa dibaca dengan pembaca e-book atau e-book reader. Namun,
hingga kini, harga e-book reader pun tak lebih murah dari harga buku
cetak biasa.

Masih ada alternatif murah lain. Karena file BSE yang diunduh
berformat pdf, hampir semua perangkat komputer, Personal Digital
Assistance (PDA), dan handphone pintar atau smartphone bisa membaca
file itu.

Membaca e-book di handphone memang bukan solusi nyaman, tetapi
bisa dibilang ini merupakan solusi cerdik yang praktis untuk
kepentingan darurat. Bisa selalu dekat dengan pelajaran di mana pun
berada, entah waktu berlibur atau di saat waktu terbatas sedang
menunggu detik-detik menjelang ujian, jika ada sesuatu yang ingin
dilihat soal mata pelajaran bisa langsung mengambilhandphone dan bisa
membacanya.

Hampir semua handphone berkelas smartphone bisa dipasangi
perangkat lunak untuk membaca file pdf (pdf reader). Tak harus mahal
untuk bisa memiliki smartphone.

Handphone-handphone Nokia berbasis sistem operasi Symbian yang
sudah dianggap handphone zaman dulu (zadul) pun bisa dipasangi pdf
reader. Operator telepon di kios-kios telepon sudah mahir untuk meng-
install berbagai program seperti ini.

Melihat profil para siswa saat ini, terutama SLTP dan SLTA, bisa
dibilang handphone mereka sudah lebih dari sekadar smartphone. Karena
itu, hadirnya BSE harus dimanfaatkan secara cerdik dengan berbagai
media.

Jadi, jangan hanya mengandalkan komputer untuk mendistribusikan e-
book. Handphone para siswa pun bisa menjadi "masa depan" bagi
distribusi puluhan hingga ratusan e-book.

Tantangan ke depan bagi programer adalah membuat file e-book yang
benar-benar sesuai untuk handphone. Produsen handphone juga bisa
melihat ini sebagai peluang dengan menambahkan e-book reader. Dengan
demikian, bukan hal mustahil jika nantinya membawa handphone mungil
sama dengan menjinjing ratusan buku cetak, novel, komik, dan lain-lain. (Amir Sodikin) TIPS MEMANFAATKAN BSE

1. Solusi termurah adalah dengan menyalin (copy) file-file PDF
pelajaran dari sekolah atau dari teman. Jika sekolah atau teman tidak
ada yang punya, baru download sendiri dari situs utamanya
http://bse.depdiknas.go.id

2. Paling ideal dan nyaman membaca e-book adalah di komputer.
Jika merasa perlu untuk lebih praktis, pindahkan file-file tersebut ke
smartphone melalui kabel data atau bluetooth.

3. Smartphone harus ter-install program PDF reader atau program
sejenis lainnya.Jika belum memiliki, paling mudah adalah pergi ke kios
handphone berpengalaman dan carilah software tersebut. Atau, cari
sendiri di internet lewat google.com, misal dengan mengetikkan kata
kunci "Symbian PDF reader " atau "PDF viewer mobile ","Windows PDF
viewer ", dan sebagainya. (Amir Sodikin)

 
< Prev   Next >