KEMARAU seburuk apa pun tidak menghalangi warga pedalaman Dayak Meratus di Kalimantan Selatan mengungkapkan syukur atas kemurahan bumi. Panen padi gunung musim tanam lalu sukses, tidak ada puso dan tidak ada harga gabah yang anjlok karena memang mereka tidak menjual hasil panen mereka.
Menutup tahun tanam lalu dan menyongsong tahun tanam baru, warga Balai Malaris di Desa Lok Lahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, dan warga Dayak Meratus di balai wilayah lainnya, pada bulan September-Oktober ini menggelar syukuran Aruh Ganal atau selamatan besar. Jika pada aruh kecil hanya dirayakan sehari semalam, pada aruh besar ini diselenggarakan sepekan penuh. Siang malam, dengan diiringi tabuhan kendang dari berbagai sudut, para tokoh adat berdoa (bamamang) sambil menari (batandik) mengelilingi pusat balai yang merupakan simbol makrokosmos. Para warga duduk melingkar balai meminta berkah dan rezeki menghadapi tahun tanam baru. Di tengah gempuran modernitas, balai- balai adat Dayak Meratus yang bersinergi dengan Pegunungan Meratus tetap eksis walaupun tetap tradisional dan terpencil. (AMIR SODIKIN)
Foto:5 Kompas/Amir SodikinKompas/Amir Sodikin
1. DIKERUBUTI PENONTON - Penonton Itah, calon pengantin perempuan, dikerubuti anak-anak seusai dirias di balainya yang bolong-bolong oleh perias pengantin dari kota. Sejak acara pernikahan menggunakan perias dari kota, busana pengantin warga Dayak kini sudah tidak tradisional lagi walaupun prosesinya masih tradisional.
2. MEMBAWA BUNGA - Seorang nenek Balai Malaris, dengan tas punggung khas Dayak yang disebut butah, pulang dari ladang sekaligus memetik aneka bunga yang ada di sekitar hutan untuk dijadikan hiasan balai. Tanpa ada yang mengomando, setiap warga balai berpartisipasi mencari perlengkapan upacara.
3. PENYEMBELIHAN - Dengan tetap diiringi tabuhan kendang dari berbagai sudut, pukul 03.00 dini hari akhirnya babi-babi hewan korban disembelih. Para tokoh adat Balai Malaris masih tetap mengucapkan mantra-mantra sambil menari (batandik).
4. SYAHDU - Udas, Damang seluruh Hulu Sungai Selatan yang mengaku telah berumur 105 tahun, dengan syahdu sambil memegang gelang hiang dan diiringi tabuhan kendang memberi pemberkatan kepada warga balai untuk kebaikan dan kesembuhan dari berbagai penyakit.
5. PENYEMBUHAN Pukul 02.30 dini hari, seorang anak yang dinaikkan ke kursi roda kayu ditarik oleh tokoh-tokoh adat di Balai Malaris mengelilingi pusat balai. Ini merupakan salah satu prosesi penyempurnaan penyembuhan bagi sang anak yang sebelumnya menderita sakit berkepanjangan
|