ARUH GANAL, SYUKUR BUMI WAKTU KEMARAU
(5 votes)
Written by Amir Sodikin   
KEMARAU seburuk apa pun tidak menghalangi warga pedalaman Dayak 
Meratus di Kalimantan Selatan mengungkapkan syukur atas kemurahan
bumi. Panen padi gunung musim tanam lalu sukses, tidak ada puso dan
tidak ada harga gabah yang anjlok karena memang mereka tidak menjual
hasil panen mereka.
Menutup tahun tanam lalu dan menyongsong tahun tanam baru, warga 
Balai Malaris di Desa Lok Lahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu
Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, dan warga Dayak Meratus di balai
wilayah lainnya, pada bulan September-Oktober ini menggelar syukuran
Aruh Ganal atau selamatan besar.
Jika pada aruh kecil hanya dirayakan sehari semalam, pada aruh
besar ini diselenggarakan sepekan penuh. Siang malam, dengan diiringi
tabuhan kendang dari berbagai sudut, para tokoh adat berdoa
(bamamang) sambil menari (batandik) mengelilingi pusat balai yang
merupakan simbol makrokosmos.
Para warga duduk melingkar balai meminta berkah dan rezeki
menghadapi tahun tanam baru. Di tengah gempuran modernitas, balai-
balai adat Dayak Meratus yang bersinergi dengan Pegunungan Meratus
tetap eksis walaupun tetap tradisional dan terpencil.
(AMIR SODIKIN)

Foto:5
Kompas/Amir SodikinKompas/Amir Sodikin

1. DIKERUBUTI PENONTON - Penonton Itah, calon pengantin perempuan,
dikerubuti anak-anak seusai dirias di balainya yang bolong-bolong
oleh perias pengantin dari kota. Sejak acara pernikahan menggunakan
perias dari kota, busana pengantin warga Dayak kini sudah tidak
tradisional lagi walaupun prosesinya masih tradisional.

2. MEMBAWA BUNGA - Seorang nenek Balai Malaris, dengan tas punggung
khas Dayak yang disebut butah, pulang dari ladang sekaligus memetik
aneka bunga yang ada di sekitar hutan untuk dijadikan hiasan balai.
Tanpa ada yang mengomando, setiap warga balai berpartisipasi mencari
perlengkapan upacara.

3. PENYEMBELIHAN - Dengan tetap diiringi tabuhan kendang dari
berbagai sudut, pukul 03.00 dini hari akhirnya babi-babi hewan korban
disembelih. Para tokoh adat Balai Malaris masih tetap mengucapkan
mantra-mantra sambil menari (batandik).

4. SYAHDU - Udas, Damang seluruh Hulu Sungai Selatan yang mengaku
telah berumur 105 tahun, dengan syahdu sambil memegang gelang hiang
dan diiringi tabuhan kendang memberi pemberkatan kepada warga balai
untuk kebaikan dan kesembuhan dari berbagai penyakit.

5. PENYEMBUHAN Pukul 02.30 dini hari, seorang anak yang dinaikkan ke
kursi roda kayu ditarik oleh tokoh-tokoh adat di Balai Malaris
mengelilingi pusat balai. Ini merupakan salah satu prosesi
penyempurnaan penyembuhan bagi sang anak yang sebelumnya menderita
sakit berkepanjangan
 
< Prev   Next >