ARUH GANAL, SYUKUR...

Rate: 4.60
(5 votes)
article svthumbnai

PASAR ITIK ALABIO...

Rate: 2.70
(30 votes)
article svthumbnail

HARMONI ALAM DAYAK...

Rate: 3.40
(5 votes)
article svthumbnail

"INLINE SKATES", ...

Rate: 4.27
(11 votes)
article svthumbnail

Pengobatan Balian...

Rate: 3.09
(11 votes)
article svthumbnail

SEREN TAUN, TRADISI...

Rate: 4.33
(3 votes)
article svthumbnail

EKONOMI LONTAR,...

Rate: 3.00
(5 votes)
article svthumbnail

PULAU ROTE &...

Rate: 3.00
(8 votes)
article svthumbnail

Pojok Teknologi Informasi

Edukasi "Online" : TREN "WEBSITE" UNTUK ANAK-ANAK

Tuesday, 28 October 2008 | Amir Sodikin

article thumbnailOleh: Amir SodikinWEBSITE bukan lagi sebuah dunia maya yang terpisah dari realitas sosial. Pengaruh buruk dari sebuah konten di website bisa sama dengan pengaruh buruk tayangan televisi. Namun, jika...
+ Full Story

Perangkat Lunak Symbian, Kekuatan Baru dari Komunitas

Wednesday, 22 October 2008 | Amir Sodikin

article thumbnailOleh: Amir SodikinApakah kalau kita menggunakan perangkat lunak sumber terbuka atau Open Source berarti citra kita ”murahan” karena memanfaatkan barang gratisan? Tidak! Dunia telah...
+ Full Story

Sayap-sayap Pena Helvy Tiana Rosa
(2 votes)
Written by Amir Sodikin   

helvy tiana rosaOleh: Amir Sodikin

Sewaktu masih kecil, saya pernah datang ke TIM untuk ngamen. Dua puluh tahun kemudian, saya datang lagi, tapi untuk menjadi Anggota Dewan Kesenian  Jakarta,” tutur Helvy Tiana Rosa. Menulis telah mengubah hidupnya lebih dari yang ia bayangkan, bahkan lebih dari yang dibayangkan banyak orang.

 

Saat menjadi pemimpin redaksi majalah Annida, era 1999-2001,  hobi mengamennya tak kunjung sembuh jua. ”Saya ngamen jualan majalah Annida di bus dalam perjalanan pulang dari Rawamangun ke Depok. Sambil bawa majalah, saya memperkenalkan diri kalau saya Pemred Annida. Tentu saja orang tidak percaya, tapi majalahnya laku,” katanya.

Di era Helvy, majalah Annida mencapai ketenarannya. Kenapa sampai tega ”menggadaikan harga diri” Pemred dengan mengamen? ”Daripada bengong di bus,” katanya.  

Pendiri dan Ketua Majelis Penulis Forum Lingkar Pena atau FLP ini memang mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Sejak 1996 hingga sekarang lebih dari 40 bukunya telah diterbitkan.

Tapi bukan statistik itu yang membuat Bunda Faiz unik. Ya Faiz yang itu, Abdurahman Faiz (13) yang menggegerkan dengan puisi-puisi brilian khas kanak-kanak itu. Keunikan Helvy karena dia mau berbagi pengetahuannya untuk menulis. Pena Helvy telah  bersayap dan menebar virus menulis kepada ribuan orang.

”Saya berasal dari keluarga sederhana, dulu tinggal di rumah tepi rel kereta api. Pokoknya kalau ada kereta lewat, jemuran itu terbang,” kenang istri dari Tomi Satryatomo ini. 

Kemiskinan tak menghalangi ritme keluarganya untuk hidup terpola dan terpelajar. ”Ibu saya selalu menulis buku harian, Ibu tamatan SMA tapi memotivasi anak-anaknya untuk sekolah dan menulis,” paparnya.

 Sejak bocah, Helvy sudah tertarik dengan buku. ”Di belakang rumah ada penyewaan buku tapi saya tak bisa meminjam karena tak punya duit. Sejak itu saya bertekad, suatu saat buku-buku saya harus ada di rak buku itu,” katanya.

Hasrat menulis sudah tertanam sejak ia masih Sekolah Dasar. Cita-cita masa kecilnya sederhana: memiliki mesin tik.

”Saya ngamen puisi agar bisa beli mesin tik, tapi tak pernah berhasil. Pernah juga ngamen di TIM, tapi motivasi utama kepingin melihat tokoh-tokoh sastrawan di sana,” kenang Helvy  yang kini mengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.

Masuk SMP, Helvy sudah menghasilkan uang dari tulisan yang dikirim ke berbagai media. ”Pernah memenangkan lomba baca dan menulis tingkat nasional,” paparnya.

Di SMA, pikiran Helvy makin maju dan bermotif ekonomi karena dia harus mencukupi biaya sekolah dan membeli buku-buku bacaan.

”Saya sudah berfikir bagaimana membiayai sekolah. Kemudian ketika kuliah, saya sudah membiayai kuliah sendiri, aktif di majalah Annida sebagai redaktur hingga pemimpin redaksi tahun 1991-2001,” jelasnya.

Alasan menulis

”Awalnya menulis itu untuk cari duit,” Helvy mengaku. Hadiah menulis berupa buku-buku menarik dikumpulkannya dan disewakan ke teman-temannya.

”Bisa pinjam buku gratis, cukup dengan menjadi sahabat saya. Kalau orangnya kaya, dia harus sewa, nanti uangnya buat beli buku,” katanya. Sistem itu dibuat karena dia teringat masa kecilnya yang tahu bagaimana rasanya tak bisa menyewa buku.

”Ibu saya perjuangannya luar biasa, jualan seprei,  jalan kaki jauh, supaya ketika pulang bisa membawakan buku bacaan untuk anaknya,” kata Helvy.

”Setiap pulang, ibu saya tak lupa bawa buku, walau buku pinjaman. Buku itu selalu saya sampulin warna cokelat, tak ada lipatan,” katanya.  Pelakaran berharga yang ia petik: perlakukan buku sebagai anakmu.

Dari ibunya Helvy belajar hidup. ”Ibu saya banyak memberi teladan. Saya dilahirkan dari keluarga penuh warna, Ibu saya, Maria Erry Susianti,  keturunan Tionghoa dan Ayah saya, Amin Usman,  dari Aceh. Ayah seniman dan pengarang lagu,” katanya.

Helvy meyakini, semua orang bisa jadi penulis. ”Komposisinya 10 persen bakat dan 90 persen tekad dan latihan,” katanya.

Adiknya, Asma Nadia, juga menjadi penulis. ”Dia sudah menulis sekitar 50 buku, royaltinya  lebih besar dibanding saya. Kalau saya sekitar 40 buku,” katanya.

Buku Helvy  sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Jerman, Bahasa Swedia, Bahasa Arab, dan Bahasa Swiss.

”Buku saya Mc Alliester pertama kali terbit di London. Ini novel bersambung yang dimuat di majalah Inthilaq, dari Bahasa Indonesia diterjemahkan ke Bahasa Arab, kemudian ke Bahasa Inggris, baru diterbitkan Muslim Press London,” paparnya.

Tapi, penerbitan buku itu menyimpan kepelikan yang tersisa. ”Buku itu saya tulis dengan nama Hamasah, tapi Hamasah oleh penerbitnya dianggap penulis Timur Tengah. Jadi saya sudah tak mengurus  buku ini,” katanya.

Persoalan hak cipta juga mengemuka di Malaysia. Tahun 1996, karyanya diterbitkan di Malaysia dan diklaim seorang doktor sebagai karyanya, buku itu berjudul Spasiba Brat Komarovich.

”Padahal, tulisan itu sudah diterbitkan di Annida. Saya  cuma pingin dia mencabut klaim itu, bukan minta duit. Sampai sekarang masalah ini belum jelas,” katanya.

Forum Lingkar Pena

Tahun 1997, bersama teman-temannya, Helvy mendirikan Forum Lingkar Pena. Komunitas   ini berkembang pesat, menyebar ke berbagai pelosok Indonesia dan mancanegara.

”Dulu tak ada yang mengajari saya menulis, sekarang saatnya saya bertekad mengajari orang lain menulis. Waktu pertama kali dibentuk, anggotanya 30 orang,” katanya.

Hingga 2008, ketika Helvy menerima Danamon Award, jumlah anggota FLP mencapai 7.000 orang dan sudah menerbitkan sekurangnya 1.000 judul buku.  Karena prestasi ini, FLP sering dijuluki pabrik penulis.

 Di luar negeri pun juga ada FLP.  Helvy pernah diundang pelatihan di Hongkong. Uniknya, para peserta pelatihan adalah pembantu rumah tangga. 

”Ketika mereka berhasil menulis buku, mereka dikejar-kejar wartawan untuk diwawancarai bagaimana pembantu bisa menerbitkan buku. Ada juga yang naik jabatan gara-gara bukunya diterbitkan,” katanya.

Lain lagi cerita FLP di Jepang. ”Mereka kebanyakan S2 dan S3, para ilmuwan, ingin diajari  bagaimana membuat science fiction. Jadi, tiap cabang FLP selalu unik,” kata Helvy.

Helvy juga pernah mendampingi buruh pabrik.  Kebanyakan mereka menghubungi Helvy karena membaca Annida.

 ”Ada anggota FLP, seorang buruh panggul pabrik roti, sekarang sudah nulis 20 buku.  Kemana pun pergi di kota-kota selalu ada FLP. FLP ini berkembang layakya waralaba,” jelasnya.

Tradisi menulis juga diturunkan anak-anaknya, Abdurahman Faiz (13) dan Nadya Paramitha (2).  Masih ingat kan sebait puisi: 'Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga'?

 Frase puitis ini sudah jadi ”trade mark” Faiz ketika ia masih berusia tiga tahun.  Masih banyak puisi Faiz kecil yang orisinal dan   kini mudah ditemukan di internet.

Apakah anak penulis selalu didorong menjadi penulis? ”Oh tidak, kami hanya berusaha menanamkan gemar membaca dan menulis. Menulis itu menyenangkan. Ketika anak saya lahir, pertama kali yang harus dia lihat selain Ayah-Bundanya adalah: BUKU,” katanya. 

Data Pribadi

Nama:                          :Helvy Tiana Rosa

TTL                             :Medan, 2 April 1970

Suami                          : Tomi Satryatomo

Anak                          : 1. Abdurahman Faiz

 2. Nadya Paramitha

 

PENDIDIKAN

-         S3 Universitas Negeri Jakarta, Pendidikan Bahasa (sedang berlangsung)

-         S2 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Jurusan Ilmu Susastra

-         S1 Fakultas Sastra Universitas Indonesia

 

PEKERJAAN

  1. Pengarang
  2. Dosen Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta 
  3. Direktur Lingkar Pena Publishing House
  4. Redaktur dan Pemimpin Redaksi Majalah Annida (1991-2001)
  5. Sutradara Teater Bening (1990-2003)

 

PENGALAMAN ORGANISASI

1.      Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara (2006-sekarang)

2.      Anggota Komite Sastra, Dewan Kesenian Jakarta (2003-2006)

3.      Wakil Ketua Persatuan Sastrawan Muslim Sedunia, Wilayah Indonesia (2009-sekarang)

4.      Anggota Komite Kuntowijoyo Award (2008-sekarang)

5.      Ketua Majelis Penulis Forum Lingkar Pena (2005-2009)

6.      Pendiri dan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (1997-2005)

7.      Pendiri dan Pembina Bengkel Sastra UNJ (2008-sekarang), dll

 

PRESTASI

  1. Kartini Award dari Majalah Kartini (2009)
  2. Danamon Award mengusung FLP yang ia dirikan (2008)
  3. PKS Award untuk Pemimpin Muda Nasional (2008)
  4. Tokoh Perbukuan  IBF Award, IKAPI (2006)
  5. Tokoh Sastra  Eramuslim Award (2006)
  6. Perempuan Indonesia Berprestasi dari Tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2004)
  7. Ummi Award dari Majalah Ummi (2004)
  8. “Jaring-Jaring Merah” Cerpen Terbaik Majalah Sastra Horison Satu dekade (1990-2000)
  9. Bukavu, Nominasi Khatulistiwa Literary Award (2008)
  10. Finalis Indonesia Berprestasi Award XL- Bidang Seni Budaya (2007)
  11. Wanita Indonesia Inspiratif versi Tabloid  Wanita Indonesia (2008)
  12. Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah Gatra (2007), dll.

 

BUKU

  1. Bukavu (Kumpulan Cerpen, LPPH 2008)
  2. Catatan Pernikahan (Kumpulan Esai, LPPH 2008)
  3. Tanah Perempuan (Drama, Lapena, 2007)
  4. Risalah Cinta (Kumpulan Esai, LPPH,  2005)
  5. Segenggam Gumam,  Esai-esai Sastra dan Budaya (Syaamil, 2003)
  6. Lelaki Kabut dan Boneka ( Kumpulan Cerpen. Syaamil, 2002)
  7. Wanita yang Mengalahkan Setan, ( Tamboer Press, 2002)
  8. Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Penerbit Bentang Budaya, 2003)
  9. Akira no Seisen/ Akira: Muslim wa tashiwa, Novel (Syaamil, 2000)
  10. Pangeranku, (Kumpulan Cerita Anak, Syaamil, 2000)
  11. Manusia-Manusia Langit (Kumpulan Cerpen, Syaamil, 2000)
  12. Hingga Batu Bicara (Kumpulan Cerpen, Syaamil, 1999)
  13. Kembara Kasih (Novel, Pustaka Annida, 1999)
  14. Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah  (Kumpulan Cerpen, Gnung Jati, 1999)
  15. Ketika Mas Gagah Pergi (Kumpulan Cerpen, Pustaka Annida, 1997. Cet II dstnya Syaamil )
  16. Mc Alliester  (Novel, Moslem Press, London, 1996) , dll.

 

 

 

 
< Prev   Next >
bmx

Polls

Daerah mana yang kamu sukai buat hunting foto?